BREBES, Warta Brebes- Gunung Slamet rapuh, benaca tinggal tunggu waktu? Pertanyaan itu sepertinya sudah terjawab dalam waktu belakangan ini.
Gunung Slamet bukan sekadar puncak tertinggi di Jawa Tengah. Ia adalah tubuh geologi yang menyatu dengan kehidupan manusia di sekitarnya. Ada hulu sungai, hutan yang menyimpan air, dan tanah yang menopang pertanian serta permukiman. Namun gambaran itu mulai retak.
Kerusakan hutan lindung di lereng, terutama di kawasan Dukuh Sawangan Desa Sigedong, Kabupaten Tegal, memberi sinyal nyata bahwa struktur ekologis telah terganggu cukup serius. Kawasan yang dahulu rapat kini membuka ruang bagi pertanian ilegal dan alih fungsi lahan, memicu degradasi yang sulit ditarik kembali. Diperkirakan ribuan hektare hutan telah berubah fungsi sejak era 1998, menyisakan wilayah gundul dan tanah terpapar erosi.
Kerusakan vegetasi ini, bukan sekadar luput dari perhatian lingkungan. Di tubuh gunung, akar dan vegetasi adalah pengikat tanah. Tanpanya, lereng menjadi rentan saat hujan datang.
Rapuhnya Tubuh Vulkanik Gunung Slamet
Gunung Slamet, raksasa berketinggian 3.428 meter di Jawa Tengah, mencatat sejarah panjang sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Aktivitas vulkanik sudah berkali-kali menaikkan statusnya menjadi Level II (Waspada) karena tremor, deformasi tanah, dan parameter lain yang tak mengendur. Status ini berarti gunung dalam kondisi terjaga, bukan pasif. Ancaman erupsi phreatik tetap nyata, terutama di tengah tekanan hidrotermal yang tak terlihat kasat mata.
Secara resmi, Gunung Slamet memiliki catatan aktivitas vulkanik yang tidak sederhana. Semenjak Oktober 2023, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan statusnya menjadi Level II (Waspada) berdasarkan data gempa, tremor, serta parameter lain yang menunjukkan tubuh gunung dalam keadaan “terjaga”. Dalam tingkat ini, ancaman phreatik atau bahkan erupsi magmatik tetap ada. Dalam catatan PVMBG, potensi ancaman bisa berupa lontaran material pijar di sekitar kawah dan hujan abu tergantung arah angin.
Siklus aktivitas Gunung Slamet, menurut pengamat lokal dan data historis, menunjukkan bahwa puncak aktivitas cenderung berulang setiap beberapa tahun. Pola ini menambah urgensi pemantauan berkelanjutan.
Namun ancaman bukan sekadar letusan. Tubuh gunung yang harusnya stabil kini rapuh oleh rangkaian faktor perubahan iklim, curah hujan ekstrem, kerusakan vegetasi, degradasi hutan dan tata guna lahan yang tak terkendali, semuanya terangkum dalam dinamika lingkungan yang menajamkan risiko. Lereng yang kehilangan akar di sini bukan hanya kehilangan penyangga. Namun, ia kehilangan kemampuan untuk menahan air dan tanah.
Cuaca Ekstrem Percepat Bencana Hidrometeorologi
Dalam beberapa minggu terakhir, ancaman bukan lagi sekadar teori vulkanik. Curah hujan ekstrem telah memicu bencana hidrometeorologi luas di lereng Gunung Slamet. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir bandang, longsor, dan limpasan material dari hulu sungai yang menghantam empat kabupaten: Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal.
Curah hujan yang terjadi sejak Jumat (23/1/2026) menunjukkan pola yang tak biasa. Dalam rentang waktu yang singkat, guyuray hujan di wilayah lereng Slamet tak sekadar deras tetapi durasinya signifikan. Cukup untuk membuat sungai kecil berubah menjadi aliran yang tak terkendali.
Sistem drainase alami di lereng semakin rapuh, sokongan vegetasi dan struktur tanah lemah, dan kini gagal menahan air. Luapan sungai-sungai hulu mengalir cepat membawa lumpur, batu besar, kayu gelondongan, dan sampah.
Fenomena ini tidak hanya kasus lokal. BMKG Jawa Tengah memperingatkan potensi bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah pada musim penghujan, termasuk tanah longsor dan banjir bandang akibat curah hujan yang bisa disertai angin kencang dan petir.
Banjir Bandang di 4 Daerah Lereng Gunung Slamet Rapuh
Dalam peristiwa yang berlangsung dari Jumat malam hingga Sabtu dini hari, banjir bandang menerjang empat kabupaten. Yakni, Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal. Dampaknya, menyapu permukiman dan fasilitas publik, infrastruktur porak-poranda, hingga korban berjatuhan.
Brebes – Desa di Lereng yang Terkikis Arus
Di Bumiayu, Brebes, banjir bandang menerjang Desa Penggarutan, Adisana, dan Dukuhturi sekitar pukul 22.00 WIB. Luapan sungai merusak jalan kabupaten dan menumbangkan belasan rumah di DAS Kali Keruh. Warga menyaksikan rumah yang semula berdiri kokoh kini tergerus arus dan hanyut bersama material lumpur.
Tegal – Guci dan Wisata Alam yang Diratakan Arus
Kabupaten Tegal kembali jadi saksi kehancuran. Kawasan wisata alam Guci dihantam banjir bandang sekitar pukul 02.00 WIB. Kolam pemandian air panas rata dengan tanah; tiga jembatan penting putus; alat berat tersapu; struktur wisata yang baru diperbaiki setelah banjir Desember 2025 kini luluh lantak lagi. Tinggi air tercatat hingga tujuh meter pada puncaknya.
Pemalang – Korban Jiwa dan Ratusan Mengungsi
Di Pemalang, banjir bandang menghantam bantaran Sungai Penakir di Desa Nyalembeng dan sekitarnya. Material banjir mengobrak-abrik empat desa di dua kecamatan. Satu warga tewas di Dusun Tretep, Desa Sima, di antara puing sisa banjir; ratusan warga mengungsi di titik aman.
Purbalingga – Rumah Hanyut, Dusun Terisolir
Banjir juga tak mengenal ampun di lereng Purbalingga. Desa Serang dan Sangkanayu dilaporkan terdampak parah. Material banjir membawa tujuh rumah hanyut, ratusan lainnya terdampak, kendaraan ikut terbawa arus, dan ternak warga lenyap. Dua jembatan putus, menyebabkan dua dusun terisolasi. Seorang warga bernama Solihah (26) tewas saat banjir menyerbu rumahnya di malam hari.
Kerusakan Alam, Kerentanan Manusia
Data terkini menunjukkan bahwa sejumlah besar rumah dan infrastruktur provinsi Jawa Tengah kini berada di zona risiko tinggi. Ketika vegetasi lereng semakin habis, pori-pori tanah tergantikan oleh alih fungsi lahan yang tak terkontrol, kemampuan lereng menahan air pun turun drastis. Dampaknya bukan hanya hilangnya struktur fisik, tetapi trauma psikologis dan sosial terhadap warga yang bermukim di kawasan rawan ini.
Pendekatan mitigasi yang hanya menyiapkan peringatan dini tanpa merestorasi fungsi ekologis akan terus kalah cepat dari kekuatan alam yang sekarang dipacu curah hujan ekstrem.
Tanpa iklim ekstrem, lereng yang rapuh akibat degradasi vegetasi dan perubahan tata guna lahan cenderung tetap stabil. Tetapi hujan berjam-jam mengguyur tanah yang sudah tergerus, memicu debit sungai melonjak dan memaksa material tanah, lumpur, serta kayu menuruni lembah yang berhulu dari Slamet.
Ke Mana Nasib Kita?
Retakan di tubuh Slamet bukan sekadar isu geologi. Ini adalah manifestasi dari ketidaksiapan manusia menghadapi perubahan lanskap. Hutan yang rusak, tata guna lahan yang tak terkendali, dan ketergantungan terhadap pola pembangunan yang tidak berkelanjutan telah mengubah gunung yang hidup menjadi ancaman laten.
Masyarakat yang tinggal dan bekerja di lereng gunung berada di garis depan risiko. Namun mitigasi tidak hanya soal peringatan dini. Ia mencakup restorasi ekosistem, penataan ulang kawasan rawan bencana, dan perubahan perilaku kolektif terhadap lingkungan.
Sekali lagi, Gunung Slamet bukan hanya rupabumi. Ia adalah alarm yang terus berdetak. Cuaca ekstrem mempercepat dampak karena tubuh gunung yang semakin rapuh oleh kerusakan ekologis. Di Tegal, Brebes, Pemalang, dan Purbalingga, dampaknya sudah menjadi kenyataan—bukan hanya potensi.
Gunung rapuh butuh perhatian yang sama intensnya dengan deretan berita bencana yang kini menghiasi laporan harian. Tanpa tindakan tegas dan berkesinambungan, bencana tidak lagi tinggal menunggu waktu; ia telah berjalan.









