Tren Diet Tanpa Gula, Ancaman Tersembunyi Masih Mengintai

BREBES, Warta Brebes — Tren diet tanpa gula kian populer di Indonesia. Media sosial penuh klaim hidup lebih sehat, berat badan turun, hingga kulit lebih cerah. Namun di balik tren tersebut, ancaman yang lebih serius justru luput dari perhatian. Masih ada gula yang tersembunyi dalam makanan dan minuman harian yang tetap kita nikmati.

Data berbagai lembaga kesehatan menunjukkan, kasus diabetes melitus tipe 2 pada usia muda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pola konsumsi tinggi gula menjadi salah satu faktor utama. Terutama, dari minuman manis, teh kemasan, kopi instan, saus, hingga camilan yang dianggap “aman”.

Gula Tak Selalu Terasa Manis

Dokter gizi klinis menyebut, masalah terbesar bukan pada gula pasir yang secara langsung, melainkan gula yang tersembunyi dengan berbagai nama. Mulai glukosa, fruktosa, sukrosa, maltodekstrin, hingga sirup jagung fruktosa tinggi.

Banyak orang merasa sudah diet tanpa gula, tapi tetap minum minuman kemasan, saus botolan, atau kopi instan. Padahal itu sumber gula paling agresif.

Dalam satu botol minuman teh kemasan ukuran sedang, kandungan gula bisa setara 7–10 sendok teh gula, jauh di atas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan konsumsi gula tambahan maksimal 25 gram per hari untuk orang dewasa.

Ancaman Nyata Gula: Diabetes, Obesitas, hingga Penyakit Jantung

Konsumsi gula berlebih tidak hanya memicu diabetes. Dalam jangka panjang, lonjakan gula darah yang berulang dapat menyebabkan:

  • resistensi insulin
  • penumpukan lemak visceral
  • peradangan kronis
  • peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke

Yang mengkhawatirkan, gejalanya sering muncul perlahan. Banyak penderita baru menyadari setelah tubuh mudah lelah, sering haus, berat badan naik, atau luka sulit sembuh.

Di daerah-daerah, termasuk wilayah pantura seperti Brebes dan sekitarnya, kebiasaan minum teh manis, minuman sachet, dan jajanan manis masih sangat kuat.

Diet Tanpa Gula: Tren atau Kebutuhan?

Berbeda dengan anggapan populer, diet tanpa gula bukan berarti anti-karbohidrat total. Yang menjadi sasaran utama adalah gula tambahan, bukan gula alami dari buah atau karbohidrat kompleks.

Ahli gizi menekankan, memahami diet tanpa gula seharusnya adalah dengan mengurangi minuman manis kemasan, membaca label nutrisi dengan kritis, membatasi camilan ultra-proses serta membiasakan rasa alami makanan. Tanpa pemahaman ini, diet tanpa gula hanya menjadi jargon, sementara asupan gula tetap tinggi.

Perlu Literasi, Bukan Sekadar Tren Diet

Adanya kegagalan memahami diet tanpa gula merupakan fenomena ini menunjukkan literasi gizi masyarakat masih lemah. Banyak orang merasa sudah hidup sehat, padahal masih terjebak pola konsumsi lama dengan kemasan baru.

Pakar kesehatan menilai, edukasi publik soal gula tersembunyi jauh lebih penting dibanding promosi diet ekstrem. Tanpa itu, tren diet hanya akan berganti nama, sementara risiko penyakit metabolik terus meningkat. (*)

Bagikan: