SONGGOM, Warta Brebes— Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Songgom selama tiga hari berturut-turut akhirnya memicu bencana. Pada Selasa dini hari (27/1/2026) sekitar pukul 01.00 WIB, tebing sungai di Dusun Wijahan, Desa Cenang, longsor. Rumah milik Tinok (60), janda almarhum Rowi, ambruk sebagian ke dasar sungai.
Tak ada korban jiwa. Tapi suara reruntuhan di tengah malam membangunkan warga. Mereka berhamburan keluar rumah, menyaksikan bagian belakang rumah Tinok lenyap tertelan tanah yang ambles.
Talud Amblas, Retakan Tanah Aktif Masih Mengancam
Beberapa minggu sebelum kejadian, warga sudah mencium tanda-tanda bahaya. Mulanya, talud pengaman sungai mulai bergeser, tanah di sekitar permukiman retak. Tapi tak ada tindakan. Kini, talud itu amblas total, dan retakan tanah masih aktif.
“Kalau hujan deras turun lagi, bisa habis semua rumah di pinggir sungai,” kata seorang warga yang rumahnya hanya berjarak lima meter dari lokasi longsor.
Sungai Menyempit, Arus Menggerus, Warga Minta Pengerukan
Warga mendesak pemerintah segera melakukan pengerukan sungai. Aliran air yang deras terus menggerus sisi kiri dan kanan sungai, mempercepat abrasi dan memperbesar risiko longsor susulan.
“Dulu sungainya lebar, sekarang tinggal separuh. Air makin deras, tanah makin rapuh,” ujar tokoh masyarakat setempat.
Belum Ada Tindakan BPBD, Wijahan Masuk Zona Rawan
Hingga siang ini, belum ada laporan resmi dari BPBD Brebes terkait penanganan darurat. Padahal, Dusun Wijahan termasuk dalam daftar 69 desa rawan bencana banjir dan longsor di Brebes berdasarkan pemetaan BPBD.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan: memasang bronjong, memperkuat talud, dan mengeruk sungai. Mereka juga meminta pemantauan intensif terhadap pergerakan tanah dan kondisi tebing sungai.
Bencana yang Terprediksi
Longsor di Cenang bukan kejutan. Ia hanya menunggu waktu. Kombinasi antara curah hujan tinggi, sedimentasi sungai, dan minimnya intervensi teknis menjadikan kawasan ini bom waktu ekologis.
Kini, satu rumah sudah ambruk. Tapi retakan tanah belum berhenti. Dan warga Dusun Wijahan hanya bisa berharap agar suara reruntuhan tak kembali membangunkan mereka di malam berikutnya. (*)









