BREBES, Warta Brebes — Kasus skin barrier rusak meningkat seiring tingginya perubahan gaya hidup kecantikan dewasa ini. Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya penggunaan produk perawatan kulit secara berlapis, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.
Para dokter spesialis kulit menilai, lonjakan kasus iritasi kulit, jerawat meradang, hingga kulit sensitif berkepanjangan berkaitan erat dengan kebiasaan over-skincare, yakni penggunaan terlalu banyak produk aktif tanpa jeda dan tanpa pemahaman kondisi kulit.
Banyak pasien datang ke dokter dengan keluhan kulit perih, kemerahan, mudah berjerawat. Hasil penelitian, ternyata bukan karena tidak pakai skincare, tapi justru karena kebanyakan.
Apa Itu Skin Barrier dan Kenapa Bisa Rusak
Skin barrier merupakan lapisan pelindung terluar kulit yang berfungsi menjaga kelembapan dan melindungi kulit dari bakteri, polusi, serta zat iritan. Jika lapisan ini rusak, kulit menjadi lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi.
Penggunaan produk eksfoliasi berlebihan, kandungan aktif keras seperti retinol, AHA-BHA, atau alkohol tinggi secara bersamaan dapat mengikis fungsi pelindung alami kulit.
Masalahnya, tren skincare saat ini mendorong penggunaan banyak produk sekaligus tanpa evaluasi kebutuhan kulit.
Ciri-Ciri Skin Barrier Rusak yang Sering Terjadi
Sejumlah tanda kerusakan skin barrier kerap disalahartikan sebagai “proses penyesuaian”, padahal merupakan sinyal bahaya. Di antaranya:
- kulit terasa perih atau panas meski tanpa luka
- kemerahan berkepanjangan
- jerawat mudah muncul dan sulit sembuh
- kulit terasa kering tapi berminyak
- skincare yang dulu aman kini terasa menyengat
Jika kondisi ini terus terjadi, perbaikan kulit justru akan memakan waktu lebih lama.
Over-Skincare Jadi Pemicu Utama
Pakar menilai maraknya konten kecantikan di media sosial turut mendorong perilaku konsumtif skincare. Banyak orang tergoda meniru rutinitas 7–10 langkah tanpa mempertimbangkan jenis kulit dan kondisi lingkungan.
Padahal, tidak semua kulit butuh banyak produk. Kulit justru bisa stres jika dipaksa menerima terlalu banyak bahan aktif.
Fenomena ini, tidak hanya terjadi di kota besar. Di daerah, tren skincare juga meningkat seiring mudahnya akses produk daring dan promosi agresif dari influencer.
Cara Memperbaiki Skin Barrier: Kurangi, Bukan Tambah
Berbeda dari anggapan umum, memperbaiki skin barrier tidak berarti menambah produk baru. Dokter menyarankan langkah sederhana:
- hentikan sementara produk aktif keras
- fokus pada pembersih lembut dan pelembap
- gunakan tabir surya secara rutin
- beri waktu kulit untuk pulih
Pemulihan skin barrier bisa memakan waktu beberapa minggu hingga bulan, tergantung tingkat kerusakan.
Perlu Edukasi, Bukan Sekadar Tren
Sejumlah dokter menegaskan, isu skin barrier seharusnya dipahami sebagai masalah kesehatan kulit, bukan sekadar tren kecantikan. Tanpa edukasi yang benar, masyarakat berisiko terus mengulangi pola yang sama: ganti produk, tambah produk, tapi kondisi kulit tak kunjung membaik.
Fenomena “skin barrier rusak” menjadi pengingat bahwa dalam perawatan kulit, lebih banyak tidak selalu lebih baik.









