Sejarah Telur Asin Brebes: Dari Tradisi Tionghoa hingga Jadi Warisan Budaya Takbenda

BREBES, Warta Brebes — Telur asin Brebes bukan sekadar oleh-oleh. Hidangan ini menyimpan perjalanan panjang sejarah. Sejarah telur asin Brebes adalah kisah tentang cita rasa dan tradisi multikulturalisme.

Sejarah telur asin adalah kuliner khas Brebes yang meleburkan tradisi pengawetan makanan Tionghoa dengan praktik lokal Brebes. Narasinya tetap terjaga, hingga kini menjadi identitas budaya dan produk unggulan daerah yang diakui nasional.

Budayawan Brebes, Wijanarto (alm), pernah berkisah bahwa sejarah telur asin Brebes berakar dari kebiasaan warga keturunan Tionghoa dalam mengawetkan makanan, termasuk telur, untuk bekal perjalanan jauh dan ritual sesaji tradisional. Teknik ini kemudian berasimilasi menjadi kebiasaan masyarakat lokal.

Akulturasi Kuliner: Tradisi Tionghoa yang Menjadi Brebes

Tradisi pengawetan makanan dengan cara pengasinan saat itu sudah populer bagi komunitas Tionghoa sejak lama. Di Brebes, teknik ini kemudian berkembang menjadi pembuatan telur asin secara konsisten di masyarakat pesisir dan jalur perdagangan Pantura.

Sebelumnya, telur asin kerap digunakan sebagai sesaji untuk Dewa Bumi di klenteng-klenteng komunitas Tionghoa. Makanan ini juga menjadi bekal tahan lama bagi para pedagang yang bepergian jauh melewati jalur Pantura.

Komersialisasi Sejak 1950-an

Perkembangan signifikan terjadi setelah periode pasca-Kemerdekaan RI (1945–1949). Telur asin yang awalnya bersifat ritual dan pengawetan praktis perlahan memiliki nilai ekonomis. Sejak akhir 1950-an, teknik pembuatan telur asin mulai dikomersialkan oleh masyarakat keturunan Tionghoa, dan kemudian menyebar ke warga pribumi yang ikut mempelajari prosesnya.

Proses pewarisan keterampilan ini menjadikan telur asin semakin masyhur di kalangan masyarakat Brebes dan wilayah sekitarnya.

Setelah tekniknya menyebar ke warga lokal, produksi telur asin mulai dilakukan oleh banyak perajin di Brebes. Aktivitas produksi dan pemasaran telur asin Brebes kemudian didukung oleh lokasi strategis di jalur Pantura (Jalur Daendels) yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa. Hal ini memudahkan telur asin dikenal sebagai oleh-oleh khas sepanjang rute perjalanan.

Warisan Budaya Takbenda dan Nilai Akulturasi

Pada Oktober 2020, telur asin Brebes ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Status ini diberikan karena telur asin tidak hanya sekedar makanan, tetapi juga merupakan pengetahuan tradisional, keterampilan kuliner, dan bagian dari warisan sosial budaya masyarakat Brebes.

Penganugerahan ini menegaskan bahwa telur asin Brebes seperti kado indah bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya sebagai produk lokal, tetapi juga sebagai simbol akulturasi budaya Islam-Tionghoa yang menyatu dalam khazanah kuliner Nusantara.

Identitas Kuliner yang Terus Berevolusi

Sepanjang dekade berikutnya, telur asin Brebes berevolusi dari sekadar makanan tahan lama menjadi komoditas kuliner yang digandrungi wisatawan dan pembeli lintas daerah. Kini, banyak varian hasil olahannya, termasuk telur asin bakar, varian rendah garam, atau olahan campuran lain yang mengikuti selera modern.

Sejarah Telur Asin Brebes yang Terus Hidup

Telur asin Brebes merupakan contoh nyata bagaimana teknik kuliner tradisional diadopsi dan diadaptasi oleh komunitas lokal sehingga menjadi ciri khas daerah yang diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional. Perjalanan dari ritual, bekal perjalanan, hingga produk ekonomis menunjukkan dinamika budaya yang terus berkembang.

Bagikan: