SIRAMPOG, Warta Brebes— Pergerakan tanah di Dukuh Bojongsari RT 03 dan RT 04 RW 03, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, terus meluas akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Brebes selatan dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena ini menimbulkan kerusakan signifikan pada permukiman warga dan infrastruktur desa setempat.
Tanah Bergerak, Makam Terancam, Rumah Rawan
Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, menyebut kondisi tanah di lokasi terdampak masih terus bergerak dan berpotensi memicu longsor susulan. “Tanah yang labil terus terkikis setiap kali hujan turun. Rumah warga sangat rawan, dan longsor di area makam semakin melebar,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Pemerintah desa telah melakukan pemantauan langsung, namun keterbatasan anggaran membuat kesulitan tersendiri dalam penanganan mandiri.
Sudiryo menegaskan, perlunya penanganan cepat dan teknis dari pemerintah daerah untuk membantu percepatan penanganan.
124 Rumah Terdampak, Jalan Amblas 700 Meter
Sementara itu, Koordinator Satgas PB BPBD Brebes Pos Bumiayu, Budi Sujatmiko, menyebut bahwa pergerakan tanah semakin parah dengan arah longsoran ke barat daya dan kemiringan sekitar 45 derajat.
Arah pergerakan menuju Sungai Kalikeruh yang berada di bawah permukiman warga, memperbesar risiko longsor susulan.
Dampaknya, sedikitnya 124 unit rumah terdampak, mayoritas bangunan semi permanen. Sebanyak 413 jiwa dari 148 KK berada di zona rawan. Jalan desa sepanjang 700 meter dilaporkan amblas, mengganggu akses warga.
Fasilitas Umum Rusak, Warga Diimbau Mengungsi
Kerusakan juga meluas ke fasilitas umum dan sosial. Dua tempat ibadah, yakni Masjid Masroatul Khasanah dan Mushola Al Ikhlas, serta bangunan pendidikan Paud Bina Suhada dan TPQ Masroatul Khasanah turut terdampak.
Lebih jauh, BPBD Brebes telah melakukan pemantauan dan koordinasi untuk asesmen lanjutan. Petugas mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi ke lokasi aman, terutama bagi rumah permanen yang berada di jalur pergerakan tanah.
“Edukasi kepada warga terdampak terus dilakukan. Potensi bencana susulan masih tinggi karena wilayah ini masih dalam musim penghujan,” tegas Budi.









