Fenomena Diabetes pada Anak-anak, Benarkah Pengaruh Jajanan Jalanan?

BREBES, Warta Brebes– Anggapan diabetes adalah penyakit orang dewasa, tak sepenuhnya benar. Fenomena diabetes pada anak justru kini terus meningkat hingga menjadi kekhawatiran. Data global dan nasional menunjukkan bahwa prevalensi diabetes pada anak mengalami peningkatan.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus diabetes tipe 2 pada anak dan remaja menunjukkan tren peningkatan dalam dua dekade terakhir, karena perubahan gaya hidup, pola makan tinggi gula, dan aktivitas fisik rendah.

Pun data Kementerian Kesehatan Indonesia juga menunjukkan peningkatan prevalensi gangguan toleransi glukosa dan diabetes dini pada anak usia sekolah, meskipun angka pastinya masih dalam pemutakhiran survei nasional terbaru.

Waspadai Gejala Diabetes pada Anak

Banyak gejala diabetes pada anak sering tidak disadari. Bahkan menganggapnya hanya sebagai kelelahan biasa. Padahal, dengan mengetahui gejala lebih awal bisa melakukan pencegahan dini.

Menurut dokter anak, beberapa gejala utama. Seperti sering buang air kecil, rasa haus berlebih, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, mudah lelah dan lesu, luka sulit sembuh hingga bau mulut manis atau napas seperti buah. 

Bila beberapa gejala ini muncul, sebaiknya langsung konsultasi dengan dokter anak atau spesialis endokrinologi anak untuk pemeriksaan gula darah.

Kenapa waspada diabetes penting? Sebab, tanpa penanganan dini, diabetes pada anak dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti gangguan pembuluh darah, penyakit jantung, neuropati (kerusakan saraf), gangguan penglihatan hingga masalah ginjal. 

Penyebab Diabetes pada Anak, Apa Gara-gara Jajan Sembarangan?

Diabetes pada anak banyak faktor penyebabnya, baik genetik maupun lingkungan. Dokter spesialis anak dan endokrin menyebut beberapa penyebab utama:

1. Diabetes Tipe 1 (Autoimun)

Ini merupakan diabetes klasik pada anak, di mana sistem imun tubuh menyerang sel penghasil insulin. Penyebab utamanya belum sepenuhnya terungkap, tetapi faktor genetik dan lingkungan ikut berperan.

2. Diabetes Tipe 2

Obesitas dan kelebihan berat badan pada anak menjadi faktor dominan. Kemudian, pola makan tinggi gula dan makanan olahan, aktivitas fisik rendah hingga faktor riwayat keluarga dengan diabetes. 

Kasus tipe 2 dulu dominan pada dewasa, kini makin sering menjangkiti pada anak remaja.

Lalu bagaimana dengan jajanan sembarangan di jalanan? Ternyata, jalanan yang tinggi gula, garam, lemak, dan bahan olahan telah terbukti berkontribusi pada risiko obesitas dan gangguan metabolik, termasuk diabetes tipe 2 di usia muda.

Peningkatan kasus diabetes pada anak di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa kasus diabetes anak meningkat hingga 70 kali lipat antara 2000 dan 2023.

Bagaimana Jajanan Jalanan Berkontribusi pada Risiko Diabetes Anak?

1. Kandungan Gula dan Kalori yang Tinggi

Sebagian besar jajanan jalanan populer — mulai dari minuman manis, camilan gorengan, hingga makanan cepat saji — memiliki kandungan gula dan kalori tinggi, namun rendah nutrisi. Konsumsi gula berlebih telah terbukti terkait erat dengan peningkatan berat badan, obesitas, dan resistensi insulin pada anak.

Dalam studi nutrisi, konsumsi gula tambahan secara signifikan meningkatkan kemungkinan anak menjadi overweight atau obesitas, yang merupakan faktor risiko utama diabetes tipe 2.

2. Jajanan Ultra-Processed Foods (UPFs) dan Nutrisi Kurang Seimbang

Laporan internasional menunjukkan bahwa ultra-processed foods (UPFs) menggantikan pilihan makanan sehat dalam diet anak-anak di banyak negara. UPF-yang sering terlihat dalam jajanan jalanan yang tinggi gula, garam, lemak tidak sehat, dan aditif, berkaitan dengan obesitas dan gangguan metabolik yang mempercepat risiko diabetes.

UNICEF memperingatkan bahwa konsumsi makanan ultra-processed juga memengaruhi pola makan anak, menggantikan buah, sayur, dan protein yang menjadi kebutuhan untuk pertumbuhan sehat.

3. Frekuensi Konsumsi dan Lingkungan Makan

Penelitian menunjukkan bahwa akses mudah ke makanan cepat saji dan jajanan tidak sehat di lingkungan rumah atau sekolah meningkatkan kecenderungan anak memilih makanan tinggi kalori rendah nutrisi, yang berkontribusi pada obesitas dan risiko diabetes di masa depan.

Lingkungan yang menyediakan lebih banyak jajanan olahan daripada pilihan sehat mendorong pola makan tidak seimbang, apalagi jika aktivitas fisik anak kurang.

Data Kenaikan Diabetes Anak di Indonesia

Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, data Januari 2023 menunjukkan:

Prevalensi kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat dibanding 2010.

Kasus diabetes di anak mencapai 2 per 100.000 jiwa, melibatkan sekitar 1.645 anak di 13 kota besar Indonesia.

Meskipun tipe 1 lebih umum di anak, diabetes tipe 2 pada anak juga meningkat seiring obesitas dan pola makan tidak sehat.

Mengapa Ini Berbahaya?

Obesitas dan konsumsi gula berlebihan pada anak berdampak jangka panjang:

  • Resistensi insulin
  • Diabetes tipe 2 dini
  • Tekanan darah tinggi
  • Gangguan metabolik lainnya

Gula dan minuman manis dapat mendorong kenaikan berat badan tanpa rasa kenyang, sehingga anak cenderung makan lebih banyak sekaligus meningkatkan asupan kalori total.

Sikap Orang Tua

1. Kurangi Akses Jajanan Tinggi Gula

Orang tua dan sekolah harus mengawasi dan mengurangi makanan dan minuman tinggi gula dalam bekal anak serta membatasi frekuensi jajanan jalanan berkalori tinggi.

2. Promosikan Pilihan Sehat

Mendorong anak memilih buah segar, air putih, dan makanan seimbang sebagai alternatif camilan.

3. Aktivitas Fisik Teratur

Aktivitas fisik minimal 60 menit per hari membantu menjaga kesehatan metabolik dan mengurangi efek obesitas.

4. Edukasi Gizi

Orangtua dan sekolah perlu edukasi gizi yang jelas sehingga anak memahami pentingnya pilih makanan sehat sejak dini.

Cegah dan Stop Diabetes pada Anak

Jajanan jalanan yang tinggi gula, garam, lemak tidak sehat, dan ultra-processed foods memainkan peran penting dalam meningkatnya risiko obesitas dan diabetes pada anak-anak.

Data kesehatan nasional menunjukkan peningkatan drastis kasus diabetes anak, yang menuntut tindakan preventif segera dari orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan publik

Bagikan: