JAKARTA, Warta Brebes — Prediksi terhadap aktivitas transaksi saham gorengan akan menurun mulai mengemuka. Hal ini seiring dengan langkah pemerintah yang melakukan perbaikan tata kelola pasar modal Indonesia.
Saham gorengan berpotensi terdampak dalam enam bulan ke depan. Penurunan harga bisa jadi sebagai sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Sebab, memperkuat kualitas dan kepercayaan investor.
Regulasi UU P2SK Tekan Praktik Saham Gorengan
Ahli Hukum Pasar Modal, Rio Christiawan, mengatakan praktik goreng-menggoreng saham akan semakin terbatas dan berkurang setelah revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Selain itu, juga perbaikan pada sejumlah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).
“Ketentuan mengenai insider trading dan praktik saham gorengan sebenarnya sudah ada aturan yang lebih ketat dalam UU P2SK. Ini seharusnya menjadi sinyal positif bagi pasar,” kata Rio dalam Podcast Cuap Cuap Cuan, dikutip Senin (2/2/2026).
Nilai Arus Dana Lebih Penting dari Transaksi
Rio menilai, reformasi regulasi pasar modal mendorong otoritas bursa lebih aktif mengawasi transaksi yang berpotensi manipulatif. Menurut dia, kualitas arus dana masuk ke pasar jauh lebih penting dibandingkan sekadar tingginya frekuensi transaksi.
“Yang paling penting bagi investor bukan ramainya transaksi, tapi dana riil yang masuk ke market. Itu yang mencerminkan kepercayaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan investor agar tidak berlebihan menyikapi gejolak pasar modal yang terjadi sepekan terakhir, termasuk koreksi tajam IHSG dan trading halt yang sempat terjadi dua hari berturut-turut.
Gejolak IHSG Tidak Rusak Fundamental
Menurut Rio, tekanan pasar akibat peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) bersifat sementara dan tidak merusak fundamental Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Gejolak itu bagian dari dinamika bursa. Grafik harga memang tidak pernah stabil. Dengan penanganan yang cepat, pasar berpeluang membaik dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.
Sebelumnua, IHSG terkoreksi 6,94% sepanjang pekan terakhir Januari 2026. Koreksi terjadi setelah MSCI menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan saham dan data free float saham Indonesia.
MSCI bahkan membuka peluang penurunan bobot saham Indonesia di indeks global, serta kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika transparansi tidak segera ada perbaikan.









