Giant Sea Wall Pantura Kick-Off dari Jakarta–Semarang, Bagaimana Ancaman Rob Brebes?

JAKARTA, Warta Brebes— Pemerintah mulai mengunci titik awal pembangunan Giant Sea Wall Pantura atau tanggul laut raksasa Pantai Utara Jawa. Dua kawasan yang terpilih sebagai proyek percontohan awal adalah Teluk Jakarta dan Semarang Raya.

Pemerintah menilai dua wilayah ini menjadi lokasi pesisir dengan ancaman banjir rob dan kenaikan muka air laut yang sudah berada pada fase mengkhawatirkan.

Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, Didit Herdiawan Ashaf, menegaskan studi awal proyek Giant Sea Wall Pantura telah mencakup wilayah pesisir Jawa Tengah, termasuk Brebes, Pekalongan, Kendal, Sayung, hingga Grobogan. Artinya, kawasan Pantura Brebes masuk dalam radar strategis proyek raksasa bernilai jangka panjang tersebut.

“Untuk tahap awal, studi kami sudah mencakup Teluk Jakarta dan Jawa Tengah, khususnya wilayah Pekalongan, Kendal, Brebes, Semarang, Tegal, Sayung, sampai Grobogan,” ujar Didit dalam forum Penguatan Penataan Ruang Wilayah di Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).

Pantura di Ambang Krisis, Giant Sea Wall Jadi Solusi

Didit mencontohkan, kondisi Semarang kini telah terdampak banjir rob setinggi 7–9 sentimeter. Genangan tersebut bahkan mengancam operasional Bandara Ahmad Yani. Bandara saat ini kerap bisa beroperasi jika sistem pompa bekerja penuh. Sementara Pekalongan juga telah memasuki fase tenggelam bertahap.

Situasi inilah yang menjadi dasar pemerintah menetapkan Jakarta dan Semarang sebagai titik awal. Selanjutnya, pembangunan tanggul laut raksasa akan berlanjut ke wilayah lain, termasuk Brebes yang selama ini juga rutin terkena rob dan abrasi.

“Ini bukan sekadar membangun beton di tengah laut. Ini misi menyelamatkan peradaban Pantura Jawa,” tegas Didit.

Proyek Warisan Bangsa, Bukan Sekadar Infrastruktur

Presiden Prabowo Subianto, kata Didit, memberi arahan agar pembangunan Giant Sea Wall Pantura nantinya menjadi warisan bangsa (heritage project). Bangunannya, harus mampu bertahan ratusan tahun. Sehingga, proyek ini tidak hanya berfungsi menahan air laut, tetapi juga menjaga kawasan permukiman, industri, pertanian, pelabuhan, hingga jalur logistik nasional.

Pemerintah, lanjut Didit, belajar dari pengalaman Belanda, negara yang mampu bertahan hidup di wilayah di bawah permukaan laut melalui sistem tanggul dan pengelolaan air terpadu.

“Belanda hidup di bawah garis laut, tapi tetap produktif. Itu bukti masalah ini bisa teratasi jika serius merancang solusinya,” katanya.

Survei Hidro-Oseanografi: Fondasi Teknis Giant Sea Wall Pantura

Sebagai dasar teknis, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pushidrosal TNI AL telah melakukan survei hidro-oseanografi di Teluk Jakarta dan perairan Semarang. Hasil survei ini akan menjadi fondasi desain pembangunan Giant Sea Wall Pantura Jawa.

Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Kartika Listriana, menyatakan data survei tersebut akan menjadi desain tanggul laut. Selain itu, juga untuk penataan kota pesisir dan pengembangan kawasan Pantura secara menyeluruh.

Brebes Tak Bisa Menghindar

Masuknya nama Brebes dalam studi awal proyek menjadi sinyal kuat bahwa wilayah ini tak lagi bisa juga dalam ancaman bencana pesisir Pantura. Rob, abrasi, dan kerentanan pesisir menempatkan Brebes dalam satu garis ancaman yang sama dengan Semarang dan Pekalongan.

Apakah pembangunan Giant Sea Wall Pantura akan bisa lebih cepat beradu waktu dengan dampak krisis iklim dan penurunan muka tanah menjadi permanen. Seberapa cepat proyek ini menjangkau wilayah rawan seperti Brebes, sebelum bencana itu benar-benar datang? 

Bagikan: