BREBES, Warta Brebes — Tanggal 9 Februari adalah hari pers nasional (HPN). Tapi tahukah bagaimana sejarah pers Brebes yang kini terus mengalami perkembangan?
Membincang sejarah pers, lekat kaitannya dengan sejarah pers nasional sendiri yang juga berkelindan dengan perjalanan bangsa Indonesia. Pun, sejarah pers Brebes berakar kuat pada perkembangan pers Pantura, khususnya kawasan Tegal-Brebes, sejak era kolonial Belanda.
Wilayah ini menjadi salah satu pusat awal pertumbuhan media massa di Jawa Tengah dengan dukungan komunitas Eropa. Ini tak lepas dari posisinya sebagai jalur industri strategis. Keberadaan media massa menjadi penting bagi para pelaku usaha maupun penggede saat itu. Hal ini pula yang melahirkan tradisi membaca media cetak yang cukup mapan.
Sejak awal abad ke-20, pers Pantura memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi ekonomi, sosial, dan politik. Aktivitas industri gula, pelabuhan, perbankan, serta jalur transportasi utama seperti Jalan Raya Pos mempercepat arus modernisasi. Kondisi ini mendorong lahirnya media cetak sebagai kebutuhan komunikasi masyarakat perkotaan dan industri.
Pers Brebes pada Era Kolonial Belanda
Pada masa kolonial, komunitas Eropa dan Indo-Eropa di Pantura menjadi pelanggan tetap surat kabar. Media berbahasa Belanda dan Melayu terbit rutin dengan liputan wilayah Tegal, Brebes, dan sekitarnya.
Beberapa media yang tercatat aktif memuat wilayah Pantura antara lain De Locomotief (Semarang), Het Nieuws van den Dag, serta Handelsblad yang mengabarkan aktivitas industri, pelabuhan, dan perkebunan. Untuk media berbahasa Melayu-Tionghoa, arsip menunjukkan keterkaitan pembaca Brebes–Tegal dengan surat kabar seperti Sin Po dan Perniagaan.
Tradisi berlangganan media ini membentuk fondasi awal ekosistem pers lokal. Keberadaan kantor berita kolonial seperti ANETA (Algemeen Nederlandsch-Indisch Telegraaf Agentschap) menjadikan Brebes bagian dari jaringan distribusi informasi regional Pantura.
Masa Kejayaan Pers Brebes 1970–1990-an
Periode 1970-an hingga 1990-an menandai masa keemasan pers Brebes dan Pantura. Media cetak tumbuh pesat dalam bentuk surat kabar, tabloid, dan mingguan lokal.
Di tingkat regional, Suara Merdeka menjadi media dengan oplah dominan dan pembaca kuat di Brebes–Tegal. Media nasional seperti Kompas juga memiliki distribusi luas. Di Pantura, muncul dan berkembang media daerah seperti Wawasan, serta sejumlah tabloid dan buletin lokal yang terbit menjelang dan pascareformasi.
Pada fase akhir periode ini, mulai lahir media yang dikelola putra daerah, seperti Kilat, Tali, dan Banteng Loreng, yang sering disebut sebagai embrio pers lokal Brebes–Tegal modern. Media-media ini memperluas ruang ekspresi politik dan sosial masyarakat.
Transformasi Pers Brebes di Era Reformasi dan Digital
Memasuki era reformasi, pers Brebes bergerak ke fase kompetisi terbuka. Media lokal menghadapi tekanan pasar, tetapi tetap tumbuh dengan identitas sendiri.
Surat kabar seperti Radar Tegal berhasil bertahan dan menjadi rujukan utama berita lokal Pantura sejak awal tahun 2000 an hingga kini. Di sisi lain, media cetak nasional mulai berkurang penetrasinya, tergantikan oleh media daring lokal dan regional.
Media online berbasis Pantura dan Brebes bermunculan. Termasuk media media yang sebelumnya mengandalkan kertas sebagai media pembawa berita, banyak yang bertransformasi membentuk kanal portal digital sendiri. Beberapa bahkan, akhirnya meliburkan diri menjadi media cetak, total menjadi media online.
Kini, jumlah media online di Kabupaten Brebes sangat banyak. Saking banyaknya, masyarakat harus susah payah membedakan media satu dengan yang lain. Media besar, menengah sampai medioker ecek-ecek tumbuh subur di Brebes dengan fokus liputan kebijakan daerah, anggaran publik, bencana, dan pemilu. Dalam fase ini, pers Brebes menguat sebagai agen kontrol sosial, bukan sekadar penyampai informasi.
Dokumentasi Sejarah Pers Brebes
Kiprah pers Pantura, termasuk Brebes dan Tegal, terdokumentasi dalam arsip nasional. Monumen Pers Nasional mencatat peran kawasan Pantura sebagai wilayah penting dalam sejarah pers Jawa Tengah, baik melalui arsip surat kabar kolonial, dokumentasi media peranakan Tionghoa, maupun kajian pers daerah pascareformasi.
Tokoh-tokoh pers dari Brebes–Tegal, termasuk jurnalis, sastrawan, dan redaktur lokal, menjadi bagian dari narasi besar perkembangan jurnalistik Indonesia.
Mengapa Sejarah Pers Brebes Penting?
Sejarah pers Brebes menunjukkan bahwa media lokal bukan pelengkap, melainkan pilar demokrasi daerah. Dari De Locomotief hingga Radar Tegal, dari Sin Po hingga media daring lokal, pers Brebes terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pers di wilayah ini menjaga ingatan kolektif, mengawasi kekuasaan, dan merekam denyut sosial masyarakat Pantura.
Disclaimer: Sebagian besar materi berasal dari keterangan Mendiang Begawan Sejarah Brebes (Alm) Wijanarto.










