Jejak Pesantren Tua di Brebes, Dari Kolonialisme hingga Kini Kobarkan Api Tradisi

BREBES, Warta Brebes Dari pesisir pantura yang dulu jadi akses pedati gula dan patroli kolonial, serta di lereng selatan yang berkabut dan sunyi, lahir simpul-simpul pendidikan Islam yang kelak membentuk wajah Brebes. Pesantren tua Brebes lahir dan terjaga hingga kini. 

Jauh sebelum Republik ini bernama Indonesia, adalah Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum di pesisir Losari dan Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda di kaki selatan Sirampog yang lebih dulu eksis. 

Keduanya tumbuh pada masa ketika sekolah modern kolonial hanya menyentuh kalangan tertentu. Pesantren menjadi ruang belajar, ruang perlawanan kultural, sekaligus benteng tradisi.

Akses pendidikan di era penjajahan Belanda terbatas. Sekolah-sekolah hanya dibangun untuk memuaskan ‘dahaga’ ilmu pengetahuan orang Eropa atau kaum bumiputra berpengaruh. Artinya, pendidikan tak menyentuh sebagian besar kaum bumiputra. Jelata apalagi. Namun, bukan berarti kaum bumiputra lantas berpangku tangan.

Pemuka agama, ulama maupu kiai, prihatin. Mereka membuat lembaga pendidikan tradisionalnya sendiri. Pesantren, namanya. Pesantren jadi wadah umat Islam di Nusantara untuk dapat belajar ilmu agama.

Dua Pesantren Tua di Brebes

1. Yanbu’ul Ulum Lumpur (1874)

Desa Limbangan, Kecamatan Losari, mencatat salah satu tonggak penting sejarah pesantren tertua Brebes. Sekitar tahun 1874, di tengah dominasi pemerintahan Hindia Belanda, KH. Idris bin Ahmad Soleh mendirikan lembaga yang kelak dikenal sebagai Pesantren Lumpur.

Ia membangun sistem pendidikan berbasis halaqah dan kitab kuning ketika akses pendidikan formal nyaris tertutup bagi masyarakat bumiputra. Santri belajar fikih, tauhid, nahwu, sharaf, dan tasawuf dalam tradisi salaf yang ketat. Model ini bertahan lintas generasi.

Jejak kepemimpinan pesantren tertua Brebes ini bergerak melalui jalur keluarga dan sanad keilmuan.

Setelah wafatnya pendiri, estafet berpindah kepada generasi penerus keluarga. Dokumentasi kolonial memang terbatas, namun kesinambungan pesantren tidak pernah terputus sampai hari ini.

Kini, kepemimpinan berada di tangan KH. Abdul Halim Zawawi. Ia menjaga karakter salaf, mempertahankan pembelajaran kitab klasik, dan menguatkan peran pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama pesisir Brebes.

Yanbu’ul Ulum tidak sekadar bertahan. Ia membuktikan bahwa pesantren tertua Brebes mampu melintasi tiga zaman, era kolonial, revolusi, dan republik Indonesia berdiri. Bahkan sampai orde reformasi hari ini. Pondok lumpur juga terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. 

2. Al-Hikmah Benda (1911)

Jika Losari menyimpan jejak pesisir, maka Desa Benda di Kecamatan Sirampog menyimpan denyut selatan. Tahun 1911, KH. Kholil bin Mahalli mendirikan Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda.

Ia membangun pesantren pada masa politik etis mulai membuka akses pendidikan, tetapi masyarakat pedesaan tetap bergantung pada pendidikan Islam tradisional. Pesantren ini tumbuh sebagai pusat kajian kitab klasik sekaligus pembinaan moral masyarakat agraris Sirampog.

Generasi berikutnya melanjutkan kepemimpinan, termasuk KH. Suhaimi bin Abdul Ghoni, sebelum kemudian diteruskan oleh KH. Masruri Abdul Mughni dan keluarga besar pesantren.

Kini Al-Hikmah berkembang menjadi Al Hikmah 1 yang saat ini diasuh KH Labib Shodiq Suhaimi bersama saudara-saudaranya. Sementara Al Hikmah 2 dengan pengasuh KH Solahudin Masruri dan saudara-saudaranya. 

Berbeda dengan Yanbu’ul Ulum yang mempertahankan pola salaf murni, Al-Hikmah Benda melakukan transformasi sistem pendidikan hingga maju pesat mengikuti perkembangan jaman modern. Pesantren ini mengembangkan berbagai lembaga pendidikan formal, memperluas jenjang pendidikan, serta membangun sistem manajemen modern tanpa meninggalkan identitas tradisional.

Di sinilah dinamika pesantren tertua Brebes terlihat jelas. Mereka bertahan tanpa membeku sedikitpun.

Peran Historis, Pendidikan Islan sebagai Perlawanan Sunyi

Pada era kolonial, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia menjadi ruang pembentukan identitas. Di tengah tekanan politik dan ekonomi, pesantren tertua Brebes membentuk generasi yang memahami agama sekaligus realitas sosial.

Arsip kolonial tidak banyak mencatat aktivitas internal pesantren. Namun tradisi lisan, sanad keilmuan, dan kesinambungan pengasuhan menunjukkan bahwa kedua pesantren ini memainkan peran penting dalam menjaga basis keislaman masyarakat Brebes sebelum kemerdekaan.

Santri-santri mereka menyebar, membuka pengajian, mendirikan surau, dan memperluas jaringan keilmuan. Pola ini membentuk ekosistem pendidikan Islam yang bertahan hingga kini.

Jejak Pewarisan Hingga Kini

Rantai kepemimpinan pesantren tertua Brebes berjalan melalui dua jalur utama yang terjaga. Di antaranya melalui jalur keluarga biologis maupun jalur sanad keilmuan. 

Yanbu’ul Ulum cenderung mempertahankan model kepemimpinan keluarga dengan penguatan tradisi salaf.

Sementara Al-Hikmah Benda mengembangkan model kolektif berbasis keluarga besar dan modernisasi kelembagaan.

Keduanya menunjukkan satu hal, yakni kesinambungan lebih penting daripada popularitas.

Mengapa Ini Penting Hari Ini?

Di tengah arus digitalisasi dan komersialisasi pendidikan, pesantren tertua Brebes berdiri sebagai pengingat bahwa pendidikan lahir dari ketekunan, bukan proyek jangka pendek.

Sejarah keduanya membuktikan bahwa pesantren dapat bertahan lebih dari satu abad.

Model tradisional mampu beradaptasi. Pewarisan nilai lebih menentukan daripada pembangunan fisik.

Jika Brebes hari ini memiliki ratusan pesantren, maka akar historisnya mengarah pada lembaga-lembaga awal yang berdiri sebelum Republik ini lahir.

Dan dari pesisir Losari hingga lereng Sirampog, api itu masih menyala.

Bagikan: