JAKARTA, Warta Brebes — Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026/1447 Hijriah, lonjakan harga pangan terpantau signifikan di pasar. Kenaikan ini merata pada berbagai komoditas pokok yang krusial bagi kebutuhan rumah tangga. Kenaikan ini mulai terasa sejak hari ini, Kamis, 21 Mei 2026.
Beberapa jenis beras mengalami kenaikan harga yang cukup terasa. Beras kualitas bawah I, medium I, medium II, super I, hingga super II semuanya menunjukkan tren positif pada harganya. Kenaikan ini berpotensi membebani pengeluaran masyarakat menjelang hari raya.
Tak hanya beras, komoditas penting lainnya seperti gula pasir kualitas premium juga ikut melonjak. Telur ayam ras segar, yang merupakan sumber protein utama, juga mengalami kenaikan harga. Daging sapi, sebagai salah satu primadona Idul Adha, pun tak luput dari kenaikan.
Kenaikan harga juga merambah ke sektor sayuran. Komoditas cabai, baik cabai merah maupun cabai rawit, terpantau lebih mahal. Bawang merah ukuran sedang dan bawang putih ukuran sedang juga mengalami kenaikan harga.
Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia (BI) mengkonfirmasi tren kenaikan ini. Harga rata-rata beras kualitas bawah I melonjak 2,46%, setara dengan Rp350, kini dijual Rp14.600 per kilogram.
Namun, tren kenaikan ini tidak sepenuhnya seragam. Beras kualitas bawah II justru terpantau mengalami penurunan harga. Harganya turun 1,71%, atau sebesar Rp250, menjadi Rp14.400 per kilogram.
Lebih lanjut, beras kualitas medium I mencatat kenaikan harga sebesar 2,53%. Kenaikan ini setara dengan Rp400, membuat harga beras ini kini berada di angka Rp16.200 per kilogram.
Beras kualitas medium II tidak mau kalah, mencatat kenaikan yang lebih tinggi. Kenaikan 3,88% atau Rp600 membuat harganya kini mencapai Rp16.050 per kilogram. Beras kualitas super I juga mengalami kenaikan signifikan, yaitu 4,17%.
Kenaikan harga beras kualitas super I ini mencapai Rp700, sehingga harga jualnya menjadi Rp17.500 per kilogram. Lonjakan ini terjadi di tengah prediksi peningkatan permintaan menjelang Idul Adha. Kenaikan harga ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat.
“Kami merasakan betul dampaknya. Harga beras naik, telur juga naik. Belum lagi bumbu dapur,” ujar Ibu Sumiati, seorang ibu rumah tangga di Pasar Senen, Jakarta. Beliau menambahkan, “Biasanya kami bisa mempersiapkan lebih banyak lauk untuk hari raya, tapi dengan harga seperti ini, kami harus berhemat.”
Pihak PIHPS Nasional mencatat bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah peningkatan permintaan yang lazim terjadi menjelang hari besar keagamaan. Stok yang mungkin belum sepenuhnya terisi pasca panen juga bisa menjadi salah satu penyebab.
Dampak kenaikan harga pangan ini sangat terasa oleh masyarakat luas. Terutama bagi keluarga dengan pendapatan terbatas. Mereka terpaksa menunda atau mengurangi pembelian bahan pangan tertentu.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) saat dikonfirmasi menyatakan, “Kami terus memantau pergerakan harga di lapangan. Ada upaya stabilisasi yang sedang kami lakukan.” Beliau menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga.
Salah satu pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Bapak Agus, mengungkapkan, “Kenaikan ini sudah mulai terasa seminggu terakhir. Stok dari petani juga ada sedikit kendala distribusi.” Ia berharap kondisi ini segera membaik agar aktivitas jual beli kembali normal.
Kenaikan harga telur ayam ras segar juga menjadi sorotan. Harganya terpantau naik, menambah beban pengeluaran rumah tangga. Kenaikan ini terjadi pada telur kualitas segar.
Daging sapi, yang menjadi salah satu bahan utama hidangan Idul Adha, juga mengalami kenaikan harga. Hal ini tentu akan mempengaruhi biaya perayaan Idul Adha bagi banyak keluarga. Kenaikan ini cukup signifikan dari hari-hari biasa.
Komoditas penting lainnya seperti gula pasir kualitas premium juga turut merangkak naik. Kenaikan ini dapat mempengaruhi industri makanan dan minuman. Konsumen pun harus bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi.
Selanjutnya, komoditas cabai mengalami lonjakan harga yang cukup terasa. Kenaikan ini menambah daftar panjang kenaikan harga pangan menjelang Idul Adha. Pedagang berharap pasokan segera membaik.
Bawang merah ukuran sedang dan bawang putih ukuran sedang juga mengalami kenaikan harga. Kenaikan ini akan mempengaruhi biaya bumbu dapur sehari-hari. Ketersediaan pasokan menjadi kunci utama stabilisasi harga.
PIHPS Nasional mencatat bahwa kenaikan harga beras kualitas bawah I mencapai Rp350 per kilogram. Kenaikan ini menjadi indikator awal adanya tekanan pada harga pangan pokok.
Rata-rata harga beras kualitas bawah I kini menyentuh Rp14.600 per kilogram. Angka ini menjadi tolok ukur awal perubahan harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, beras kualitas bawah II justru mengalami tren penurunan. Penurunan ini memberikan sedikit kelonggaran bagi sebagian konsumen. Harga Rp14.400 per kilogram menjadi harga terendah untuk kategori ini.
Kenaikan harga beras kualitas medium I mencapai Rp400 per kilogram. Hal ini menunjukkan adanya tekanan harga pada segmen beras menengah. Harga kini Rp16.200 per kilogram.
Beras kualitas medium II mencatat kenaikan harga yang lebih tinggi, yaitu Rp600 per kilogram. Kenaikan ini cukup signifikan bagi rumah tangga yang mengonsumsi beras jenis ini. Harga jualnya menjadi Rp16.050 per kilogram.
Beras kualitas super I mengalami kenaikan harga sebesar Rp700 per kilogram. Kenaikan ini menempatkan harganya di angka Rp17.500 per kilogram. Kualitas premium tentu memiliki harga yang lebih tinggi.
Kenaikan harga pangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam menyambut Idul Adha. Berbagai upaya stabilisasi harga terus dilakukan oleh pemerintah. Harapannya, lonjakan ini tidak berlanjut dan harga dapat segera terkendali. Ketersediaan pasokan yang lancar menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga pangan.






