JAKARTA, Warta Brebes— Investor global menahan napas menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pekan depan. Laporan ini krusial untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tengah kekhawatiran inflasi yang terus memanas.
Perhatian pelaku pasar akan terfokus pada bagaimana data ini dapat memengaruhi reli pasar saham AS yang telah berlangsung kuat.
Data ketenagakerjaan bulanan, yang dijadwalkan terbit pada 5 Juni 2026, muncul saat investor mencermati lonjakan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebesar 3,8% hingga April.
Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak Mei 2023, dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik di Iran. PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan The Fed untuk mencapai target 2%.
“Jika Anda mendapatkan laporan ketenagakerjaan yang bagus bersamaan dengan angka inflasi yang masih meningkat, saya pikir itu terus mengubah prospek kebijakan Fed,” ujar Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Schwab Center for Financial Research.
“Jika laporannya lebih lemah dari yang diharapkan, maka mungkin itu meredakan kekhawatiran bahwa Fed harus beralih ke sikap pengetatan.”
Proyeksi Laporan Ketenagakerjaan dan Dampaknya pada Pasar
Jajak pendapat Reuters memprediksi laporan data penggajian (payrolls) bulan Mei akan menunjukkan tingkat pengangguran di angka 4,3%, dengan penambahan 85.000 lapangan kerja baru. Namun, pertumbuhan lapangan kerja yang melebihi 150.000 dinilai dapat memicu sentimen negatif di pasar saham.
Hal ini dikhawatirkan memperkuat spekulasi mengenai ekonomi yang terlalu panas (overheating), yang berpotensi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS merangkak naik.
Meski begitu, indikasi aktivitas ekonomi saat ini dinilai masih solid. Model GDPNow dari Federal Reserve Atlanta melacak pertumbuhan ekonomi kuartal kedua berada di angka 3,8%, didukung oleh kinerja laba perusahaan AS yang kuat pada kuartal pertama. Situasi ini menunjukkan pasar seharusnya tidak terlalu mencemaskan risiko resesi.
Chuck Carlson, CEO di Horizon Investment Services, menambahkan, “Kelompok itu benar-benar mengalami koreksi yang signifikan. Yang benar-benar menjadi pendorong pasar ini adalah para investor yang melihat nilai-nilai yang telah dipulihkan dalam kelompok tersebut, melihat bahwa pendapatan masih tumbuh dengan cukup pesat, dan kemudian membelinya.”
Peran Kinerja Broadcom dan Sektor AI dalam Pergerakan Pasar
Selain laporan ketenagakerjaan, kinerja kuartalan Broadcom, perusahaan teknologi raksasa, juga akan menjadi indikator penting bagi perdagangan sektor kecerdasan buatan (AI) pekan depan. Saham produsen semikonduktor terus melonjak seiring masifnya pembangunan infrastruktur teknologi AI.
Indeks Semikonduktor Philadelphia SE telah melonjak sekitar 80% sejak titik terendah pasar pada 30 Maret tahun ini, diikuti lonjakan saham Broadcom yang melebihi 50%.
Pergerakan harga kontrak berjangka saat ini mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga yang lebih besar ketimbang opsi penurunan, meskipun Presiden Donald Trump sangat mengharapkan adanya pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Sentral.
Kombinasi potensi kenaikan suku bunga dan inflasi yang mendaki menjadi pemicu naiknya imbal hasil obligasi belakangan ini. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedikit melandai di kisaran 4,45%, namun tren kenaikan tersebut tetap membayangi pergerakan saham.
“Jika Anda melihat lonjakan nyata dalam suku bunga yang terus berlanjut… itu akan menjadi hal yang menurut saya akan paling mengkhawatirkan bagi para investor,” pungkas Carlson.






