BUMIAYU, Warta Brebes — Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mendorong relokasi warga Desa Penggarutan, Kecamatan Bumiayu, menyusul banjir berulang akibat luapan Sungai Kali Keruh. Langkah itu dinilai mendesak demi keselamatan warga yang setiap musim hujan kembali terdampak banjir.
Paramitha menyampaikan dorongan relokasi warga saat meninjau langsung lokasi banjir di RT 01/RW 01 Desa Penggarutan, Rabu (4/2).
Setiap kali hujan deras mengguyur wilayah membuat debit Sungai Kali Keruh meningkat dan meluap ke permukiman serta lahan pertanian warga. Banjir bahkan merusak rumah dan infrastruktur lainnya.
Dalam peninjauan itu, Paramitha meminta pemerintah desa segera menyiapkan opsi lokasi relokasi yang aman dan layak. Ia juga menginstruksikan pendataan menyeluruh warga terdampak sebagai dasar penanganan lanjutan.
“Pemkab siap membantu pembangunan rumah warga terdampak. Karena itu, harus segera pendataan, lengkap dengan data pendukungnya,” ujar Paramitha.
Relokasi Warga jadi Solusi Hindari Banjir Kali Keruh
Menurut Paramitha, relokasi menjadi pilihan realistis mengingat kawasan tersebut berulang kali terendam banjir. Pemerintah daerah, kata dia, akan mendampingi proses relokasi dengan tetap mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin warga benar-benar aman. Relokasi penting agar keluarga tidak lagi tinggal di kawasan rawan banjir yang selalu terendam setiap musim hujan,” katanya.
Kepala Desa Penggarutan Rosyi Ibnu Hidayat menyebut tanah bengkok desa di sekitar balai desa menjadi salah satu alternatif lokasi relokasi. Lokasi itu, menurutnya strategis dan relatif aman dari ancaman banjir.
Selain relokasi, pemerintah desa juga mengusulkan pembangunan tanggul dan normalisasi Sungai Kali Keruh untuk menekan risiko banjir ke depan. “Kami akan segera menggelar musyawarah desa, khususnya membahas rencana relokasi warga,” ujar Rosyi.
Luapan Sungai Kali Keruh merendam puluhan rumah warga di RT 01, RT 02, dan RT 04 RW 01 Desa Penggarutan. Meski akses jalan belum terputus, sebagian badan jalan dilaporkan ambles, sehingga mengganggu mobilitas warga. Banjir tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis warga.
“Dampaknya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga tekanan psikologis masyarakat,” kata Rosyi.
Lewat Video Call Gubernur Jateng Tanyakan Kondisi Banjir Kali Keruh
Masih pada hari yang sama, Bupati Brebes bersama warga terdampak di Desa Adisana melakukan dialog langsung dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melalui sambungan video call. Dialog berlangsung di tengah permukiman yang sebelumnya terendam banjir.
Dalam dialog itu, Gubernur menanyakan kondisi lapangan, kebutuhan mendesak warga, serta langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah. Paramitha menjelaskan, alat berat telah beroperasi untuk mengatur alur Sungai Kali Keruh, namun upaya tersebut masih terkendala cuaca ekstrem yang memicu banjir susulan.
“Kami sudah melakukan penanganan awal, termasuk penataan alur sungai. Namun cuaca masih menjadi kendala utama,” ujar Paramitha.
Gubernur juga menanyakan kemungkinan turun langsung ke lokasi. Menanggapi hal itu, Paramitha secara spontan menyampaikan, “Pak Gubernur tidak usah turun, yang penting anggarannya, Pak,” yang langsung disambut sorak dan tepuk tangan warga.
Tokoh masyarakat Desa Adisana Nurhidayat memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan aspirasi warga. Ia meminta pembangunan tanggul atau talud pengaman di sepanjang Sungai Kali Keruh agar banjir tidak kembali menerjang permukiman.
Luapan Sungai Kali Keruh sebelumnya juga menyebabkan banjir di sejumlah desa lain di Kecamatan Bumiayu. Kondisi itu mendorong pemerintah kabupaten dan provinsi mempercepat penanganan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, guna menekan risiko banjir berulang.









