Bitcoin Terjun Bebas di Awal 2026, Setengah Nilai Lenyap dalam 3 Bulan

JAKARTA, Warta Brebes – Pasar keuangan global kembali bergejolak. Bitcoin terjun bebas di awal 2026, kehilangan hampir setengah nilainya hanya dalam waktu tiga bulan. Koreksi tajam ini tidak sekadar menghantam investor kripto, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar modal global.

Data pasar menunjukkan harga Bitcoin merosot hingga USD 63.000 pada Kamis (5/2/2026). Angka itu menjadi level terendah dalam lebih dari satu tahun. Padahal, pada 6 Oktober 2025, Bitcoin sempat menyentuh rekor tertinggi di USD 126.210,50. Artinya, aset kripto terbesar dunia ini telah kehilangan hampir 50 persen nilainya dalam waktu singkat.

Tekanan Jual Massal Picu Kepanikan, Bitcoin Terjun Bebas 2026

Penurunan harga Bitcoin tidak terjadi dalam ruang hampa. The Guardian, Jumat (6/2/2026), melaporkan bahwa koreksi berbulan-bulan di pasar kripto telah menggerus nilai saham perusahaan-perusahaan yang menumpuk Bitcoin sebagai aset cadangan. Guncangan itu bahkan merembet ke pasar saham yang lebih luas.

“Penurunan berkepanjangan di pasar kripto menghantam perusahaan yang terpapar Bitcoin dan memperparah kegelisahan investor global,” tulis The Guardian.

Tekanan jual meningkat tajam sejak Januari 2026. Investor institusional mulai menarik dana dari ETF Bitcoin, sementara pelaku pasar beralih ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Bitcoin Masuk Fase ‘Capitulation’

Sejumlah analis menyebut kondisi ini sebagai full capitulation mode—fase ketika pasar menyerah total akibat gelombang jual masif dari investor besar dan spekulan.

Sentimen risk-off mendominasi. Kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga global dan potensi pengetatan regulasi kripto membuat investor memilih keluar dari aset digital. Emas dan obligasi pemerintah kembali menjadi tujuan utama arus modal.

Isu Politik dan Regulasi Ikut Menekan

Di Amerika Serikat, sorotan politik ikut memperkeruh situasi. Wall Street Journal mengungkap dugaan investasi USD 500 juta dari anggota keluarga kerajaan Uni Emirat Arab ke perusahaan kripto yang terafiliasi dengan keluarga Donald Trump.

Menanggapi laporan itu, anggota DPR AS Ro Khanna menyatakan akan melakukan penyelidikan. Ia menilai kesepakatan tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan kripto Amerika Serikat. Isu ini menambah ketidakpastian regulasi yang sudah membebani pasar.

Dampak Menjalar ke Seluruh Ekosistem Kripto

Koreksi tajam Bitcoin menyeret pasar kripto secara keseluruhan. Ether, aset kripto terbesar kedua, tercatat turun lebih dari 30 persen dalam periode yang sama. Likuidasi besar-besaran di pasar derivatif memperparah tekanan harga.

Perusahaan teknologi dan platform perdagangan dengan eksposur besar ke Bitcoin mencatatkan kerugian signifikan. Volatilitas ekstrem kembali mempertanyakan narasi Bitcoin sebagai “emas digital” atau aset lindung nilai jangka panjang.

Keraguan Investor Institusional Menguat

Dalam analisis terbarunya, Deutsche Bank menilai tekanan jual yang berkelanjutan dan melemahnya minat investor institusional menunjukkan bahwa pasar kripto belum siap menjadi komponen stabil dalam portofolio global.

Bank tersebut menyoroti volatilitas tinggi dan ketergantungan kripto pada sentimen global sebagai risiko utama yang belum teratasi.

Pasar Menunggu Arah Baru

Dengan tekanan yang masih berlanjut, perhatian kini tertuju pada langkah regulator dan respons institusi besar dalam beberapa bulan ke depan. Investor global menunggu satu pertanyaan kunci: apakah Bitcoin mampu bangkit, atau justru memasuki fase koreksi yang lebih dalam di sepanjang 2026?

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan jual beli

Bagikan: