BREBES, Warta Brebes — Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih berada dalam tekanan hingga Selasa, 27 Januari 2026, seiring melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), berlanjutnya arus keluar dana asing, serta ketidakpastian terkait rebalancing indeks MSCI.
Pada penutupan perdagangan terakhir, harga saham BUMI bergerak di kisaran Rp350–Rp360 per lembar, turun tajam dari level Rp450–Rp460 yang sempat disentuh pada awal Januari 2026. Penurunan cepat dalam waktu singkat ini mencerminkan tekanan jual yang kuat, bukan sekadar koreksi teknikal harian.
IHSG Melemah, Saham Berisiko Tinggi Jadi Sasaran Jual
Per 27 Januari 2026, IHSG berada dalam tren pelemahan, dipicu oleh sentimen global yang memburuk dan sikap investor asing yang kembali menghindari risiko. Dalam kondisi seperti ini, saham dengan volatilitas tinggi dan ketergantungan pada komoditas, termasuk BUMI, menjadi sasaran utama aksi jual.
Meski IHSG tidak selalu anjlok tajam setiap hari, tekanan pada saham tertentu terlihat jauh lebih dalam. BUMI termasuk yang mengalami penurunan lebih besar daripada rata-rata pasar. Ini, menandakan adanya outflow yang terfokus, bukan tekanan pasar umum semata.
Harga Saham Turun Cepat, Volume Tinggi
Pergerakan harga BUMI dalam dua pekan terakhir menunjukkan pola distribusi yang jelas. Pada awal Januari 2026 harga berada di atas Rp450, pertengahan Januari: turun ke kisaran Rp400 dan akhir Januari: tertekan ke area Rp350–Rp360.
Penurunan ini terjadi dengan volume transaksi yang besar, menunjukkan aksi lepas saham oleh pelaku pasar berskala besar. Dalam situasi seperti ini, setiap kenaikan kecil lebih tepat dibaca sebagai pantulan teknikal, bukan pembalikan tren.
Isu MSCI: Katalis yang Belum Menjadi Penopang
Isu rebalancing indeks MSCI menjadi salah satu faktor yang menambah volatilitas saham BUMI. Alih-alih langsung menarik dana masuk, rumor MSCI justru mendorong investor institusi melakukan reposisi portofolio lebih awal.
Kuatnya pemberitaan BUMI yang berpotensi masuk radar indeks tertentu, namun hingga akhir Januari 2026, arus dana masuk yang konsisten belum terlihat. Pasar cenderung menunggu keputusan final, sementara tekanan jual sudah terlanjur terjadi.
Tanpa kepastian inflow nyata, isu MSCI belum cukup kuat untuk menahan penurunan harga saham.
Fundamental Tidak Cukup Menahan Tekanan
Tekanan eksternal tersebut bertemu dengan kondisi internal BUMI yang belum kuat. Penurunan harga batu bara global ke kisaran US$60–70 per ton memangkas margin laba secara signifikan. Laporan keuangan menunjukkan laba bersih BUMI turun tajam secara tahunan.
Ketergantungan tinggi pada batu bara termal membuat BUMI sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas. Tanpa diversifikasi bisnis yang berarti, saham ini tidak memiliki bantalan untuk meredam tekanan pasar.
Kapan BUMI Bisa Reversal?
Melihat harga saham saat ini di kisaran Rp350–Rp360, pasar belum memberi sinyal reversal. Secara realistis, pembalikan tren baru mungkin terjadi jika beberapa kondisi terpenuhi sekaligus:
- IHSG stabil dan sentimen global membaik, sehingga minat risiko kembali muncul.
- Arus keluar asing berhenti, atau setidaknya berbalik menjadi netral.
- Harga saham mampu menembus dan bertahan di atas Rp380–Rp400 dengan volume beli yang kuat.
- Fundamental berhenti memburuk, indikatornya dengan stabilisasi laba atau efisiensi biaya.
Tanpa kombinasi faktor tersebut, kenaikan harga BUMI cenderung bersifat sementara.
Saham BUMI Kini
Per 27 Januari 2026, tekanan pada saham BUMI bukan karena satu faktor tunggal. Pelemahan IHSG, isu MSCI, eksodus dana asing, dan fundamental yang rapuh saling memperkuat tekanan.
Harga saham yang kini berada jauh di bawah puncak awal Januari mencerminkan sikap pasar yang masih defensif. Reversal BUMI belum menjadi kenyataan, dan lebih bergantung pada perubahan arus dana serta perbaikan kondisi pasar secara keseluruhan, bukan sekadar harapan investor ritel. (*)
Disclaimer: Artikel ini hanya analisis, bukan ajakan jual dan beli saham tertentu. DYOR









