BREBES, Warta Brebes – Setelah menetapkan Domba Sakub sebagai rumpun unggulan pada 2022, Pemerintah Kabupaten Brebes kini mendorong satu kekuatan baru dari pesisir pantura yakni Domba Tanjung Brebes.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Brebes secara resmi memaparkan asal-usul dan karakter genetik Domba Tanjung Brebes dalam sidang Komisi Bibit Indonesia di Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Selasa (24/2/2026).
Langkah ini bukan sekadar formalitas administrasi. Targetnya jelas, yakni menetapkan Domba Tanjung sebagai rumpun ternak unggulan nasional asal Brebes.
Domba Warisan Genetik Pantura
Kepala DPKH Brebes, drh. Ismu Subroto, menegaskan bahwa Brebes tidak hanya memiliki Sapi Jabres dan Domba Sakub sebagai plasma nutfah daerah. Wilayah pantura juga menyimpan sumber daya genetik ternak lokal yang berkembang secara alami selama puluhan tahun, yaitu Domba Tanjung.
Sejarahnya panjang itu bermula pada 1964, program subsidi ternak dari Gubernur Jawa Tengah mendatangkan domba ekor gemuk ke hampir seluruh desa di Brebes. Masyarakat pesisir pantura lalu cepat beradaptasi. Mereka memilih domba ekor gemuk karena tekstur dagingnya lebih berlemak, sesuai kebutuhan kuliner lokal.
Momentum berikutnya datang pada 1994. Seorang saudagar Tionghoa, Yan Shin, mengimpor 150 ekor domba ekor gemuk dari Australia ke Desa Banjaratma, Bulakamba. Perkawinan berlangsung turun-temurun. Seleksi alami dan manajemen pemeliharaan yang semakin baik akhir membentuk karakter baru.
Kemudian, memasuki tahun 2000-an, ciri khas mulai tampak keunikan yang khas. Hingga sejak 2020 silam, hasil seleksi itu diberi nama resmi: Domba Tanjung Brebes.
Populasi 6.660 Ekor, Potensi Ekonomi Terbuka
Data DPKH menunjukkan, populasi domba tersebut kini mencapai 6.660 ekor. Angka ini bukan kecil untuk rumpun lokal yang berkembang di wilayah pesisir dengan ketinggian 1–5 mdpl dan curah hujan 1.245–1.723 mm per tahun.
Karakter fisiknya spesifik dan konsisten:
- Warna putih polos
- Rambut tipe wool
- Profil muka dan punggung cembung
- Betina tanpa tanduk
- 79,75% jantan tidak bertanduk
- Telinga mendatar ke samping
- Ekor lebar tanpa lobus
- Rambut lebat di leher, badan, perut, dan ekor
- Memiliki wattle
Karakter genetik yang stabil ini menjadi dasar kuat pengajuan penetapan rumpun.
Lebih dari Sekadar Ternak Potong
Yang menarik, Domba Tanjung ini tidak hanya berfungsi sebagai penghasil daging. Di pantura Brebes, domba ini juga menjadi hewan kesayangan dan objek budaya kontes domba.
Kontes domba bukan sekadar hiburan. Ia menjaga kualitas genetik, memperkuat seleksi, sekaligus menciptakan nilai ekonomi tambahan. Di sinilah, potensi Brebes terbaca jelas. Pertemuan antara peternakan, budaya, dan ekonomi rakyat dalam satu komoditas lokal.
Brebes dan Strategi Penguatan Identitas Ternak Lokal
Langkah DPKH mengajukan Domba pantura ini ke Kementerian Pertanian menunjukkan strategi yang lebih besar. Yakni, memperkuat identitas ternak lokal sebagai aset daerah.
Jika penetapan rumpun disetujui, dampaknya bukan hanya administratif. Status resmi akan membuka peluang:
- Perlindungan plasma nutfah
- Dukungan pembiayaan dan program pembibitan
- Penguatan branding ternak lokal
- Peningkatan nilai jual peternak
Brebes selama ini dikenal lewat bawang merah dan telur asin. Kini, sektor peternakan memperlihatkan wajah lain, Brebes sebagai sentra genetik ternak lokal unggulan.
Domba Tanjung bukan sekadar hasil perkawinan panjang. Ia adalah hasil adaptasi lingkungan pantura, tradisi peternak, dan manajemen modern yang mulai tertata.
Maka, jika konsisten dikawal, bukan tidak mungkin Domba Tanjung menyusul Domba Sakub sebagai ikon baru peternakan Brebes.
Dan, ketika itu terjadi, yang menguat bukan hanya nama rumpunnya, tetapi kesejahteraan peternaknya.











