Epstein Files Dibuka, Nama Dharma Pongrekun Kembali Viral di Indonesia

JAKARTA, Warta Brebes — Epstein Files kembali viral di Indonesia. Nama Dharma Pongrekun mencuat usai email Epstein soal simulasi pandemi dikaitkan dengan Covid-19.

Epstein Files kembali mengguncang ruang publik global. Arsip raksasa setebal lebih dari 3 juta halaman kasus kejahatan finansial dan jaringan elit Jeffrey Epstein resmi dibuka pemerintah Amerika Serikat pada Jumat, 30 Januari 2026. Di Indonesia, efeknya tak terduga, nama Dharma Pongrekun kembali viral.

Bukan karena ia tercantum dalam berkas, melainkan karena potongan email lama Epstein yang kini dibaca ulang publik dengan kacamata baru.

Dalam salah satu korespondensi tahun 2017, Epstein menyinggung gagasan “simulasi pandemi strain” kepada Bill Gates—sebuah frasa yang memantik tafsir luas, terutama setelah dunia dilumpuhkan pandemi Covid-19 tiga tahun kemudian.

Email Lama, Tafsir Baru

Email tersebut tidak secara eksplisit menyebut Covid-19. Namun, kalimat Epstein tentang pengumpulan data kesehatan masyarakat melalui sistem digital memicu kecurigaan warganet global. Di Indonesia, tafsir itu langsung berkelindan dengan memori kolektif atas pandemi, vaksinasi massal, serta keuntungan besar industri farmasi global.

Akun-akun media sosial mengaitkan dokumen Epstein dengan laporan lembaga riset internasional yang mencatat Pfizer, BioNTech, Moderna, dan Sinovac meraup keuntungan sekitar 90 miliar dolar AS pada 2021–2022. Data itu faktual. Tafsir bahwa pandemi dirancang hingga melahirkan berbagai spekulasi. 

Nama Lama yang Diingat Kembali

Di titik inilah Dharma Pongrekun masuk ke panggung. Publik Indonesia mengingat ucapannya dalam Debat Pilgub DKI Jakarta 2024, ketika ia menyebut pandemi Covid-19 sebagai “agenda terselubung asing untuk mengambil alih kedaulatan negara”. Saat itu, pernyataan tersebut menuai kritik tajam dan dicap berlebihan.

Namun, setelah Epstein Files dibuka, sebagian warganet merasa “terlalu cepat menertawakan”. Media sosial dipenuhi unggahan bernada reflektif, bahkan permintaan maaf, seolah dokumen Epstein menjadi pembenar atas peringatan yang dulu dianggap teori konspirasi.

Antara Dokumen dan Kesimpulan

Penting dicatat bahwa memang Epstein Files tidak menyatakan pandemi Covid-19 adalah rekayasa. Tapi tidak ada kalimat eksplisit, tidak ada bukti kausal langsung. Yang ada adalah dokumen komunikasi, konteks relasi elit, dan ruang tafsir yang kini dibuka publik.

Di sinilah perdebatan menjadi relevan bagi Indonesia. Bukan soal benar atau salahnya Dharma Pongrekun, melainkan soal refleks negara berkembang yang kerap berada di posisi penerima kebijakan global—baik di bidang kesehatan, teknologi, maupun ekonomi.

Mengapa Publik Indonesia Resah

Reaksi publik Indonesia tidak berdiri di ruang kosong. Pandemi meninggalkan trauma: pembatasan sosial, krisis ekonomi, kebijakan darurat, hingga ketergantungan pada vaksin impor. Ketika dokumen Epstein memperlihatkan elite global membicarakan “simulasi pandemi” jauh sebelum 2020, kecurigaan publik menemukan momentumnya.

Dharma Pongrekun, dalam konteks ini, bukan sekadar individu, melainkan simbol kegelisahan: tentang kedaulatan data, kesehatan publik, dan posisi Indonesia dalam arsitektur global.

Pertanyaan yang Belum Dijawab

Epstein telah meninggal. Emailnya kini terbuka. Tapi pertanyaan kunci tetap menggantung:

siapa yang menentukan agenda kesehatan global, dan sejauh mana negara seperti Indonesia punya kendali?

Epstein Files belum memberi jawaban final. Namun satu hal jelas: arsip itu membuka ulang perdebatan yang dulu dipendam, dan di Indonesia, nama Dharma Pongrekun kembali menjadi titik api diskusi.

Bukan sebagai hakim kebenaran, melainkan sebagai pengingat bahwa sejarah sering baru dipahami setelah dokumen dibuka.

Bagikan: