BUMIAYU, Warta Brebes – Saat sore mulai turun dan cahaya matahari menguning di atas hamparan sawah, satu pemandangan khas muncul di Jalan Perdukuhan Karanganggrung, Desa Jatisawit. Kerbau-kerbau turun sungai kecil, lantas guyang atau siram tubuhnya.
Itulah Wisata Guyang Kebo Bumiayu, tradisi sederhana yang berubah menjadi magnet ngabuburit Ramadan warga.
Sejak awal Ramadan, kawasan persawahan di Desa Jatisawit, Kecamatan Bumiayu ini selalu padat oleh warga setiap menjelang magrib. Mereka datang bukan hanya untuk berburu takjil, tetapi untuk menyaksikan langsung momen petani memandikan kerbau selepas membajak sawah.
Tradisi agraris itu kini menjelma destinasi sore hari yang unik.
Guyang Kebo Bumiayu, Tradisi yang Jadi Tontonan
Aktivitas memandikan kerbau berlangsung selepas ashar hingga menjelang berbuka. Petani menuntun hewan ternaknya ke aliran sungai kecil di tepi jalan. Mereka lalu menyiramnya dengan air ke tubuh kerbau, gosok dan bersihkan lumpur tebal yang menempel sebelum hewan kembali ke kandangnya.
Bagi sebagian warga kota, pemandangan ini mungkin biasa. Namun bagi anak-anak dan generasi muda yang jarang bersentuhan langsung dengan aktivitas pertanian, Guyang Kebo Bumiayu menjadi tontonan menarik.
Selain melihat aktivitas guyang kebo, ngabuburit di sini sangat menenangkan. Suasana pedesaan terasa utuh, hamparan sawah yang menghijau berpadu dengan udara sore yang sejuk. Gemericik air sungai kecil membuat hati terasa syahdu.
Kombinasi ini membuat waktu menunggu azan magrib terasa lebih singkat.
Ngabuburit, Takjil, dan Ekonomi Warga Bergerak
Ramainya pengunjung langsung menggerakkan ekonomi lokal. Sepanjang jalan, warga membuka lapak takjil dan kuliner khas Ramadan.
Kolak, gorengan, es buah, hingga makanan berat tersaji. Pengunjung bisa menikmati panorama sawah sambil menunggu waktu berbuka.
Kepala Desa Jatisawit, Dedi Susilo Wibowo, menyebut Wisata Guyang Kebo Bumiayu sebagai potensi wisata berbasis kearifan lokal yang terus dikembangkan pemerintah desa bersama pemuda setempat.
“Ramadan ini pengunjung meningkat. Selain menjadi tontonan, kawasan ini juga menggerakkan ekonomi warga melalui penjualan takjil dan kuliner,” ujarnya.
Pemerintah desa berharap, wisata sederhana berbasis tradisi ini mampu memperkuat perekonomian warga sekitar.
Salah seorang warga, Vina, mengaku rutin datang setiap sore selama Ramadan. Menurutnya, Wisata Guyang Kebo Bumiayu menawarkan suasana yang tidak ditemukan di tempat lain.
“Tempatnya nyaman, bisa lihat sawah dan kerbau dimandikan langsung. Sekalian juga gampang cari takjil untuk berbuka,” katanya.
Ia menilai suasana pedesaan yang alami membuat waktu menunggu magrib terasa lebih menyenangkan. Anak-anak pun antusias karena dapat melihat kerbau dari jarak dekat.
“Suasananya sejuk dan tidak membosankan,” tambahnya.
Akses Mudah Menuju Wisata Guyang Kebo Bumiayu
Untuk melihat langsung keseruan ngabuburit di tempat ini, akses lokasi sangat strategis melalui:
- Jalur dalam Kota Bumiayu menuju Dukuh Karanganggrung
- Akses Jalan Lingkar Bumiayu
Selama Ramadan, kawasan ini diperkirakan tetap menjadi pilihan utama warga untuk ngabuburit sambil menikmati kuliner dan panorama persawahan.
Guyang Kebo Bumiayu, Kearifan Lokal yang Hidup
Wisata Guyang Kebo Bumiayu bukan taman buatan. Bukan pula panggung rekayasa. Ia lahir dari rutinitas petani yang berlangsung turun-temurun. Namun justru di situlah kekuatannya.
Tradisi memandikan kerbau berubah menjadi daya tarik wisata. Aktivitas agraris menjadi tontonan edukatif. Sawah menjadi ruang publik. Ramadan menjadi momentum.
Dan di tengah kesederhanaan itu, ekonomi desa ikut bergerak.











