JAKARTA, Warta Brebes— Harga minyak mentah dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026), menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar menyambut baik indikasi deeskalasi konflik di Timur Tengah, yang sebelumnya sempat memicu kekhawatiran pasokan energi global.
Penurunan harga ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya. Minyak mentah Brent, acuan internasional, ditutup anjlok US$1,94 atau 2,04 persen ke level US$93,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami pelemahan lebih dalam, jatuh US$2,50 atau 2,69 persen ke posisi US$90,54 per barel.
Optimisme Pasar Menghadapi Ketegangan Geopolitik
Para pelaku pasar kini menilai risiko eskalasi konflik di Timur Tengah semakin berkurang, meskipun belum ada kesepakatan formal yang tercapai. “Pasar tidak melihat adanya eskalasi konflik lebih lanjut. Meskipun belum ada kesepakatan, investor mulai menilai situasi bergerak ke arah deeskalasi,” ujar Phil Flynn, Analis Senior Price Futures Group.
Meskipun mengalami pelemahan signifikan selama dua hari beruntun di akhir pekan, kedua kontrak minyak tersebut masih membukukan pertumbuhan positif dalam hitungan mingguan. Brent tercatat menguat sekitar 1,18 persen, sedangkan WTI naik 3,64 persen, dipicu oleh lonjakan harga di awal pekan saat situasi Timur Tengah memanas.
Sebelumnya, aktivitas perdagangan minyak sempat terganggu oleh lambatnya negosiasi damai dan terbatasnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur krusial bagi 20 persen pasokan minyak global. Namun, faktor-faktor tersebut kini mulai tereduksi oleh sentimen positif dari meredanya ketegangan AS-Iran.
Faktor Pendukung Penurunan Harga Minyak
Analis Commerzbank menilai pasokan global yang memadai, pengalihan rute ekspor, serta penurunan permintaan dari negara-negara konsumen utama menjadi faktor penahan kenaikan harga lebih lanjut. Situasi pasar saat ini menunjukkan keseimbangan antara potensi gangguan pasokan dan permintaan global.
Namun, volatilitas pasar masih membayangi karena adanya pernyataan yang saling bertolak belakang dari pihak-pihak terkait konflik di Timur Tengah. “Optimisme pasar masih dibayangi oleh berbagai perkembangan dan pernyataan yang saling bertolak belakang,” kata Tony Sycamore, analis pasar IG.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penolakan Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, terhadap proposal mediasi AS untuk penghentian konflik antara Israel dan Lebanon. Iran menetapkan syarat gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Washington, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan kemajuan deeskalasi mulai terlihat.
Di tengah dinamika tersebut, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 1,2 juta barel per hari pada tahun ini. Saat ini, volume ekspor minyak Iran dilaporkan merosot ke level terendah dalam enam tahun terakhir akibat blokade laut oleh AS, ditambah dengan melemahnya daya serap pasar dari China. Kondisi ini secara keseluruhan berkontribusi pada penurunan harga minyak mentah dunia.







