Jejak Sejarah Tionghoa di Brebes: Lentera Imlek Bertahan Tiga Zaman

BREBES, Warta Brebes Sejarah Tionghoa di Brebes bukan sekadar cerita minoritas. Ia membentuk wajah ekonomi, ruang kota, dan identitas kuliner daerah Pantura itu hingga hari ini.

Sejarah mereka bermula dari pelarian leluhur pasca Geger Pacinan 1740. Mereka bersembunyi ke daerah, lalu melahirkan komunitas yang kini bertahan tiga zaman.

Komunitas Tionghoa di Brebes sudah menyatu dengan deru nafas masyarakat, bertahan walau mendapat ujian berkali-kali.

Mulanya, mereka membangun perdagangan di Losari, Brebes Kota, dan Bumiayu. Dari dapur sederhana peranakan, muncul geliat perekonomian dan niaga. Bahkan, industri telur asin yang menjadikan Brebes dikenal nasional.

Pada Hari Raya Imlek, jejak panjang itu kembali terasa. Lampion menyala di Klenteng Hok Tek Bio. Aroma dupa menyatu dengan angin Pantura. Kota ini tidak hanya merayakan tahun baru. Kota ini merayakan sejarah.

Awal Sejarah Tionghoa di Brebes: Dari Geger Pacinan ke Pantura

Gelombang migrasi warga Tionghoa ke Brebes menguat setelah tragedi Geger Pacinan 1740 di Batavia. Penelitian akademik dari Jurnal UMP mencatat pelarian itu mengarah ke pesisir Jawa Tengah, termasuk wilayah Losari.

Pantura memberi ruang aman dan peluang dagang. Sungai Pemali dan Cisanggarung membuka akses distribusi. Para pendatang tidak datang sebagai penonton. Mereka berdagang, membuka toko, dan membentuk simpul ekonomi baru.

Sejarawan lokal, alm. Wijanarto suatu waktu bertutur tentang asal muasal kampung Pecinan dan para penghuninya. Ia menyebut, dulu jalur Pantura sebagai ruang perjumpaan dagang dan migrasi sejak era kolonial. Brebes tumbuh dalam dinamika itu. Dan, sejarah Tionghoa di Brebes berakar pada mobilitas, bukan kemewahan.

Kawasan Pecinan Brebes: Warisan Wijkenstelsel yang Masih Terlihat

Pada abad ke-19, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan Wijkenstelsel. Aturan itu mewajibkan etnis tertentu tinggal di kawasan khusus. Di Brebes, kebijakan ini melahirkan pecinan di Brebes Kota, Losari dan Bumiayu. Ini ditandai dengan adanya klenteng (misalnya Klenteng Hok Keng Tong), Bong (makam China), dan rumah toko.

Umumnya mereka mengawali dengan membangun kehidupan dari tepian sungai besar seperti Cisanggarung dan Pemali. Lalu menyebar ke banyak wilayah lain. 

Jejak pecinan Brebes masih bertahan. Ruko tua berjendela kayu berdiri di sekitar Jl. Jenderal Sudirman. Ornamen lama menempel di dinding bangunan berusia puluhan tahun.

Klenteng Hok Tek Bio menjadi penanda paling kuat. Saat Imlek, klenteng itu berubah menjadi pusat perayaan dan simbol keberlanjutan sejarah Tionghoa di Brebes.

Pecinan Brebes klenteng
Klenteng Brebes

 

Di Kampung Gamprit, yang berda din tepian Sungai Pemali, warga masih mengenali bekas kawasan pecinan lama. Beberapa makam Tionghoa tua menjadi saksi diam perjalanan komunitas ini.

Telur Asin dan Identitas Ekonomi: Kontribusi Tionghoa di Brebes

Kontribusi terbesar komunitas ini muncul lewat industri telur asin. Catatan sejarah lokal menyebut pasangan In Tjiauw Seng dan Tan Polan Nio sebagai pelopor komersialisasi telur asin pada 1959.

Awalnya telur asin hadir dalam tradisi sesaji kepada Dewa Bumi. Tradisi itu berubah menjadi komoditas unggulan.

Generasi ketiga pelaku usaha telur asin di Brebes, Tjahja Liem, mengakui akar budaya tersebut.

“Awalnya untuk ritual keluarga. Lalu orang melihat peluang usaha,” ujarnya.

Kini industri telur asin Brebes melibatkan ribuan pekerja lintas etnis. Produk ini menembus pasar nasional. Asimilasi terjadi melalui ekonomi dan rasa.

Sejarah Tionghoa di Brebes melebur dalam identitas kota telur asin. Secara umum, komunitas Tionghoa di Brebes telah membaur dengan warga lokal melalui berbagai interaksi sehari-hari.

Selain itu, pernikahan campur. Banyak pendatang Tionghoa sejak masa kolonial menikah dengan wanita setempat, melahirkan generasi Peranakan yang mengadopsi bahasa dan gaya hidup lokal.

Yang paling kentara hingga kini adalah jejak diplomasi kuliner yang mereka ciptakan hingga diterima masyarakat. Dari telur asin sampai “Jajanan Tanjung” yang merupakan makanan hasil perpaduan budaya Cina-Jawa di wilayah pemukiman peranakan di Brebes. 

Masa Kelam Tionghoa Brebes

Meskipun banyak sisi harmonis, pergaulan ini juga sempat mengalami masa kelam akibat situasi politik nasional:

Masa Revolusi (1945-1949)

Masa revolusi 1945–1949 memunculkan ketegangan di sejumlah wilayah Pantura, termasuk Bumiayu. Kajian akademik mencatat keberadaan laskar Po An Tui memicu sentimen anti-Tionghoa di beberapa daerah.

Sebagian keluarga memilih mengungsi. Situasi politik nasional memengaruhi hubungan sosial lokal.

Terjadi ketegangan di wilayah Bumiayu saat masa revolusi fisik. Adanya laskar Po An Tui (laskar keamanan Tionghoa) yang dianggap berpihak pada Belanda menyebabkan banyak warga Tionghoa harus mengungsi ke wilayah lain seperti Purwokerto untuk menghindari sentimen anti-Cina.

Orde Baru

Komunitas Tionghoa di Brebes merespons kebijakan asimilasi paksa dengan cara mengubah nama menjadi nama Indonesia dan membatasi ekspresi kebudayaan di ruang publik demi penyatuan dengan masyarakat setempat.

Peristiwa Kerusuhan 1998

Brebes mengalami kerusuhan rasial pada Februari 1998, terutama di Losari Timur. Kerusuhan ini ditandai dengan penjarahan toko dan perusakan properti, yang menyebabkan populasi warga Tionghoa di daerah tersebut menyusut drastis karena banyak yang pindah akibat trauma.

Februari 1998 meninggalkan trauma bagi sebagian warga Tionghoa di Brebes, terutama di Losari Timur. Laporan penelitian sosial dan media menyebut penjarahan toko serta perusakan properti terjadi saat kerusuhan rasial meluas di berbagai kota.

Beberapa keluarga pindah permanen. Kawasan pecinan tidak lagi seramai sebelumnya.

Tjahja Liem masih mengingat ketegangan itu. “Kami tutup toko. Semua orang berjaga,” katanya.

Peristiwa 1998 menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Tionghoa di Brebes. Luka itu membentuk kehati-hatian sekaligus daya tahan komunitas.

Kondisi Terkini Komunitas Tionghoa di Brebes

Situasi kini jauh lebih stabil. Interaksi sosial berlangsung terbuka. Pernikahan campur menjadi hal biasa. Bahasa Jawa ngapak terdengar dalam percakapan sehari-hari keluarga peranakan.

Namun tantangan baru muncul, regenerasi. Bagaimana tidak, generasi muda banyak merantau ke Jakarta dan Semarang. Sebagian usaha keluarga kesulitan mencari penerus. Kawasan pecinan lama terlihat lebih lengang dibanding dua dekade lalu.

Di sisi lain, modernisasi berjalan. Toko-toko lama mengadopsi pembayaran digital. Beberapa pelaku usaha ikut memfasilitasi investasi di Kawasan Industri Brebes.

Imlek di Brebes: Lentera yang Terus Menyala

Saat Imlek tiba, Klenteng Hok Tek Bio kembali dipenuhi doa. Lampion merah menyala di antara bangunan tua. Anak-anak berlari di halaman klenteng. Generasi tua menunduk dalam sembahyang.

Sejarah Tionghoa di Brebes bukan sekadar catatan migrasi. Ia cerita tentang pelarian, adaptasi, konflik, dan ketahanan.

Dari Geger Pacinan 1740. Berlanjut kebijakan Wijkenstelsel 1860 hingga revolusi dan kerusuhan 1998.

Pun dari dapur telur asin hingga industri nasional. Brebes berdiri di atas pertemuan budaya.

Lentera itu masih menyala. Dan Imlek tahun ini kembali mengingatkan bahwa sejarah Tionghoa di Brebes tidak pernah benar-benar padam. (*) 

 

Bagikan: