Kraton Surakarta Hadiningrat Anugerahkan Pikukuh dan Kekancingan kepada KH Nuridin Syamsudin Brebes

BREBES, Warta Brebes – Momentum bersejarah terukir di Kabupaten Brebes. Kraton Surakarta Hadiningrat melalui perwakilannya, Kanjeng Siswanto bersama rombongan, secara resmi menganugerahkan Pikukuh Silsilah dan Kekancingan kepada KH Nuridin Syamsudin, Pengasuh sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon, Larangan, Brebes.

Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat dan sarat nilai tradisi Jawa-Islam. Hadir dalam kegiatan tersebut para ulama, habaib, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari berbagai daerah (14/2/2026).

Penyerahan dokumen Pikukuh dan Kekancingan menjadi penanda pengakuan resmi keraton terhadap kiprah keulamaan dan pendidikan yang dijalankan KH Nuridin Syamsudin.

Simbol Pengukuhan Silsilah dan Amanah Keulamaan

Pikukuh yang diberikan merupakan bentuk pengukuhan silsilah sekaligus simbol kehormatan adat. Sementara Kekancingan adalah bentuk legitimasi resmi yang mengikat secara administratif dalam tata tradisi keraton.

Perwakilan keraton menyampaikan bahwa penganugerahan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, melainkan wujud penghormatan atas kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pembinaan akhlak masyarakat.

Pihak keraton menilai KH Nuridin Syamsudin istiqamah menjaga nilai-nilai tradisi, spiritualitas, dan keilmuan Islam yang selaras dengan budaya Nusantara. Melalui Pondok Pesantren Al Hasaniyah, ia membina generasi muda agar berilmu, berakhlak, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.

Pikukuh Kekancingan Relasi Historis Keraton dan Ulama

Penganugerahan Pikukuh dan Kekancingan ini sekaligus menegaskan kembali hubungan historis antara keraton dan ulama. Dalam perjalanan sejarah Jawa, keraton dan pesantren menjadi dua pilar utama pembentuk peradaban.

Keraton berperan menjaga tata nilai budaya dan tradisi, sementara ulama menguatkan dimensi spiritual dan moral masyarakat. Kolaborasi keduanya menjadi fondasi harmoni sosial yang telah berlangsung berabad-abad.

Momentum ini memperlihatkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi tetap relevan dalam menjaga identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Peristiwa bersejarah ini harapannya akan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk merawat warisan leluhur, memperkuat nilai kebangsaan, serta menjaga persatuan umat.

Anugerah dari Kraton Surakarta Hadiningrat kepada KH Nuridin Syamsudin menjadi tonggak penting dalam perjalanan sejarah keulamaan di Brebes. Pengakuan tersebut menegaskan peran ulama sebagai penjaga moral, pelestari tradisi, dan penguat persatuan bangsa.

Bagikan: