Mitos Nyai Rantansari Bumiayu: Jejak Sunan Amangkurat I dan Asal Usul Nama Bumiayu

BUMIAYU, Warta BrebesMitos Nyai Rantansari Bumiayu menjadi cerita rakyat paling kuat di wilayah selatan Brebes. Legenda ini tidak hanya menjelaskan asal-usul nama Bumiayu, tetapi juga mengaitkannya dengan perjalanan Sunan Amangkurat I, raja Mataram Islam abad ke-17.

Cerita berkembang dari lisan ke lisan. Masyarakat percaya, nama Bumiayu lahir dari kekaguman seorang raja terhadap panorama alam dan sosok perempuan gaib bernama Nyai Rantansari.

Namun, apakah kisah ini sekadar mitos?Atau ada jejak sejarah yang memperkuatnya?

Sunan Amangkurat I dan Perjalanan ke Desa Daha

Dalam legenda Nyai Rantansari Bumiayu, perjalanan bermula ketika Sunan Amangkurat I memasuki wilayah Daha, yang kini bernama Desa Negaradaha, Kecamatan Bumiayu.

Di tempat itu, kuda kereta kerajaan mendadak mati. Beberapa prajurit lantas menghilang. Peristiwa tersebut mengguncang batin sang raja.

Secara historis, Amangkurat I memang dikenal sebagai raja dengan masa pemerintahan penuh gejolak. Konflik internal Mataram, tekanan politik pasca ekspedisi Batavia era Sultan Agung, hingga pemberontakan daerah menjadi latar masa kekuasaannya. Legenda lokal kemudian menyatukan fragmen sejarah itu dengan peristiwa spiritual di Bumiayu.

Konon, saat itu kuda sang raja dimakamkan di Karangjati. Dan Kyai Pancurawis memilih tinggal menjaga makam tersebut. Sementara sang raja memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan hati gundah.

Pertemuan dengan Nyai Rantansari di Dukuh Kramat

Dalam kisah perjalanan sang raja, kemudian ada peristiwa penting di Dukuh Kramat, Bumiayu.

Sunan Amangkurat I dikisahkan melihat seorang wanita jelita. Setiap kali ia mendekat, sosok itu menghilang. Hingga akhirnya terdengar suara tanpa rupa yang menasihatinya agar kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Sosok itu yang kemudian diyakini sebagai Nyai Rantansari.

Masyarakat Bumiayu percaya Nyai Rantansari merupakan danyang atau penjaga spiritual wilayah tersebut. Candi Kramat di Dukuh Kramat sering dikaitkan dengan keberadaannya.

Legenda Nyai Rantansari Bumiayu kemudian menempatkan tokoh ini sebagai figur penting dalam penamaan wilayah setempat. 

Asal Usul Nama Bumiayu

Dalam cerita rakyat, Sunan Amangkurat I menyebut wilayah ini sebagai “Bumi Ayu” karena dua alasan.

Pertama, bentang alamnya indah. Gunung Slamet berdiri megah, sawah membentang luas, udara sejuk menyelimuti lereng selatan.

Kedua, wilayah tersebut dipercaya berada dalam “kuasa” Nyai Rantansari yang memiliki kecantikan tiada banding. Dari sinilah nama Bumiayu lahir dan melekat hingga kini. 

Pun dengan legenda Nyai Rantansari Bumiayu kemudian menyatu kuat dalam identitas lokal setempat. 

Candi Nyai Rantansari dan Jejak Negaradaha

Desa Negaradaha menyimpan situs yang dikaitkan dengan cerita ini. Candi Nyai Rantansari dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan Candi Kramat di Dukuh Kramat.

Sebagian warga menghubungkan Daha dengan Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Narasi ini menambah lapisan historis dalam legenda.

Meski belum ada bukti arkeologis kuat yang mengaitkan langsung Amangkurat I dengan wilayah ini, namun tradisi lisan tetap bertahan. Bahkan, legenda menjadi memori kolektif masyarakat. 

Antara Sejarah Mataram dan Kepercayaan Lokal

Amangkurat I memerintah Mataram pada 1646–1677. Masa kekuasaannya diwarnai pemberontakan Trunajaya dan konflik internal elite kerajaan.

Sejumlah peneliti menilai kisah perjalanan spiritual raja sering muncul dalam tradisi Jawa sebagai simbol penebusan dan refleksi kekuasaan.

Legenda Nyai Rantansari Bumiayu dapat terungkapkan dalam kerangka tersebut. Ia bukan sekadar cerita mistis, namun simbol koreksi diri. Ia narasi transformasi, sekaligus legitimasi kultural atas penamaan wilayah.

Mengapa Legenda Nyai Rantansari Masih Hidup?

Legenda bertahan karena memberi makna. Pun bagi warga Bumiayu, Nyai Rantansari bukan sekadar mitos. Ia bagian dari identitas lokal. Ia hadir dalam tradisi ziarah, cerita keluarga, hingga keyakinan tentang kesakralan Dukuh Kramat.

Cerita rakyat seperti ini memperkuat kohesi sosial. Menjadi jembatan antara sejarah, spiritualitas, dan budaya. Dan selama masyarakat masih menceritakannya, legenda Nyai Rantansari Bumiayu tidak akan hilang.

Bagikan: