Ia mulai dari nol, membantu ibu menjaga warung kelontong. Toko Sumber Bahagia jadi saksi awal perjuangannya. Ia belajar seluk-beluk bisnis dari melayani pelanggan.
Usaha fokus menjual rokok, mitranya Gudang Garam. Penjualan rokok meroket pesat. Djoko jadi penjual rokok terbesar, menarik perhatian besar.
Pertemuan dengan Putera Sampoerna, mengubah segalanya. Ia diangkat jadi direktur penjualan PT Sampoerna. Ia sukses membawa Sampoerna ke peringkat kedua.
Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo pada 1989. Modal Rp 2 miliar disulap jadi Toko Gudang Rabat. Ini menjadi cikal bakal Alfamart yang kita kenal.
Toko Gudang Rabat berkembang pesat, banyak cabang. Menjadi pesaing kuat Indomaret di era 90-an. Kemudian berganti nama menjadi Alfa Minimart.
Alfa Minimart mendapat respons positif masyarakat. Penjualan terus meningkat tajam. Perusahaan pun dinyatakan go public pada tahun 2000.
Pada 2003, Alfa Minimart berubah menjadi Alfamart. Dengan suntikan modal Putera Sampoerna. Alfamart terus berkembang hingga ribuan toko.
Kini, Grup Alfamart memiliki lebih dari 23.000 toko. Termasuk Alfamidi dan Lawson. Sebuah pencapaian luar biasa dari warung kecil.











