BREBES, Warta Brebes — Bencana tanah bergerak kembali melanda Desa Gununglarang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Hujan deras memicu pergerakan tanah ini. Akibatnya, retakan besar mengancam permukiman warga.
Setidaknya sepuluh rumah mengalami kerusakan parah. Empat rumah bahkan terpaksa dibongkar. Kondisinya dinilai sudah tidak aman dihuni. Pemerintah desa telah mengumpulkan data kerusakan.
Sementara warga terdampak kini diliputi kecemasan. Mereka menagih janji pemerintah. Pasalnya, bencana tersebut bukan kali pertama terjadi. Terdahulu, pemerintah bahkan menyatakan akan mengusahakan relokasi warga di lokasi rawan.
Carna Sutisna, salah seorang warga terdampak, mengungkapkan keresahannya. Ia menyebutkan kejadian serupa pernah terjadi pada 2021. Saat itu, sebagian warga telah direlokasi.
Namun, kini sepuluh rumah kembali terdampak parah. Permohonan bantuan dari desa dan kecamatan belum membuahkan hasil. Carna berharap pemerintah segera turun tangan.
Rumah Carna sendiri termasuk yang rusak parah. Ia memohon perhatian serius dari pemerintah. “Silakan cek langsung ke lokasi,” pintanya.
Carna menegaskan warga tidak menolak relokasi. Asalkan ada solusi jelas dari pemerintah. Mereka masih bertahan karena ketidakpastian bantuan. Tempat relokasi yang layak juga belum tersedia.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes telah melakukan verifikasi. Kerusakan rumah warga telah diverifikasi. Pemerintah sedang menyiapkan penanganan serius. Rencana relokasi bagi warga di zona merah juga belum ada kejelasan.
Tanah bergerak di Gununglarang bukan hal baru. Bencana serupa terjadi sejak 2021. Bahkan, Dinas Pekerjaan Umum pernah memperbaiki jalan rusak. Perbaikan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
Kawasan Gununglarang dinilai tidak aman. Bupati menegaskan potensi pergerakan tanah kembali.
Pergerakan tanah kembali aktif pada Februari 2026. Aktivitas ini dipicu intensitas hujan tinggi.

Warga berharap penanganan tidak berhenti pendataan. Mereka menantikan langkah konkret. Tujuannya agar warga bisa tinggal aman.





