SLAWI, Warta Brebes — Ratusan mahasiswa kesehatan siap mengabdi di Kabupaten Tegal. Sebanyak 720 peserta Praktik Kerja Nyata Interprofessional Collaboration (PKN IPC) dari Poltekkes Kemenkes Semarang secara resmi dilepas Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman. Mereka akan diterjunkan ke 39 desa di tiga kecamatan. Fokus utama mereka adalah memerangi stunting dan tuberkulosis (TB) yang masih menjadi tantangan serius.
Kehadiran para calon tenaga kesehatan ini disambut antusias oleh Pemerintah Kabupaten Tegal. Angka stunting di Kabupaten Tegal masih memprihatinkan, tercatat sebesar 15,9 persen. Kasus TB pun membutuhkan perhatian ekstra dari berbagai elemen masyarakat. Mahasiswa-mahasiswa ini akan mengabdikan diri selama sebulan penuh, mulai dari 11 Mei hingga 12 Juni 2026.
Bupati Ischak menekankan pentingnya kegiatan ini. Ini bukan sekadar kewajiban akademik bagi para mahasiswa. Lebih dari itu, PKN IPC merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat. Program ini juga menjadi ajang penguatan kompetensi kolaborasi antarprofesi kesehatan. Kolaborasi ini krusial untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga.
Para mahasiswa diharapkan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka perlu memahami akar permasalahan kesehatan yang ada di lapangan. Dengan begitu, program yang mereka jalankan akan memberikan manfaat yang signifikan. Dampak positif ini diharapkan terasa langsung oleh masyarakat Kabupaten Tegal.
Lebih jauh, Bupati Ischak berharap kehadiran ratusan mahasiswa membawa dampak positif ganda. Selain perbaikan di sektor kesehatan, mereka diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tiga kecamatan lokasi kegiatan diharapkan turut merasakan manfaatnya.
“Jumlah 720 mahasiswa ini bukan jumlah yang sedikit,” ujar Bupati Ischak. “Kami berharap kehadiran mereka membawa dampak nyata. Termasuk memberikan efek ekonomi bagi pelaku UMKM di tiga kecamatan ini,” tambahnya.
Selain isu stunting dan TB, Bupati Ischak juga menyoroti masalah lain. Penyalahgunaan obat keras tertentu seperti Tramadol menjadi perhatian serius di Kabupaten Tegal. Ia berharap mahasiswa dan akademisi dapat memperkuat upaya edukasi dan pencegahan. Pemerintah Kabupaten Tegal telah meminta camat dan kepala desa untuk mendampingi mahasiswa. Pendampingan ini penting selama masa pengabdian berlangsung.
Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang, Bedjo Santoso, turut menyambut baik program ini. Ia menegaskan bahwa PKN IPC adalah kontribusi nyata perguruan tinggi. Program ini mendukung penyelesaian persoalan kesehatan masyarakat. Ia mengapresiasi sambutan hangat dari Pemerintah Kabupaten Tegal.
“Program PKN IPC ini bukan sekadar kegiatan akademik semata,” jelas Bedjo Santoso. “Ini adalah bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan kesehatan. Terutama stunting, tuberkulosis, dan isu kesehatan lainnya di Kabupaten Tegal,” tuturnya.
Pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh 20 dosen pembimbing lapangan. Penempatan mahasiswa dikoordinasikan dengan Pemkab Tegal. Tujuannya adalah pemerataan lokasi pengabdian. Selain itu, demi pengalaman belajar yang optimal bagi para mahasiswa. Mereka akan mendapatkan bekal berharga untuk masa depan.
Semangat pengabdian ini menular kepada para mahasiswa. Mereka siap bersentuhan langsung dengan kehidupan warga. Yorgi (24), salah satu peserta, mengaku antusias. Ia ditempatkan di Desa Dinuk, Kecamatan Kramat. Ia akan menjalani program ini bersama rekan-rekannya dari berbagai jurusan.
“Kami akan membantu kegiatan posyandu dan mengadakan pameran kesehatan,” ungkap Yorgi. “Harapannya, kehadiran kami bisa membantu menurunkan angka stunting dan TB di Kabupaten Tegal,” lanjutnya penuh optimisme.
Bagi Pemerintah Kabupaten Tegal, kehadiran ratusan mahasiswa ini sangat berarti. Ini adalah cerminan nyata kolaborasi dalam upaya menyehatkan masyarakat. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan generasi muda sangat dibutuhkan. Semangat turun tangan langsung ke lapangan patut diapresiasi.
Mengapa Mahasiswa Kesehatan Turun ke Tegal?
Program Praktik Kerja Nyata Interprofessional Collaboration (PKN IPC) Poltekkes Kemenkes Semarang ini memiliki tujuan strategis. Para mahasiswa dikirim untuk menangani masalah kesehatan prioritas. Stunting dan tuberkulosis (TB) menjadi fokus utama penanganan.
Siapa yang Terlibat dalam Aksi Ini?
Aksi ini melibatkan 720 mahasiswa Poltekkes Kemenkes Semarang. Mereka berasal dari berbagai program studi kesehatan. Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, secara resmi melepas mereka. Direktur Poltekkes Kemenkes Semarang, Bedjo Santoso, turut mendampingi. Camat dan kepala desa di lokasi juga berperan penting.
Kapan Program Ini Dilaksanakan?
Program pengabdian ini berlangsung selama sebulan penuh. Dimulai pada tanggal 11 Mei 2026 dan berakhir pada 12 Juni 2026. Jadwal ini memungkinkan mahasiswa berinteraksi intensif dengan masyarakat.
Di Mana Mahasiswa Akan Mengabdi?
Mahasiswa akan diterjunkan ke 39 desa yang tersebar di tiga kecamatan. Ketiga kecamatan tersebut adalah Balapulang, Lebaksiu, dan Kramat. Lokasi ini dipilih berdasarkan data prevalensi stunting dan TB.
Mengapa Stunting dan TB Menjadi Prioritas?
Angka stunting di Kabupaten Tegal masih di angka 15,9 persen. Ini mengindikasikan perlunya intervensi kesehatan yang lebih gencar. Sementara itu, kasus TB juga masih memerlukan perhatian serius. Penanganan komprehensif dibutuhkan untuk menekan angka kasusnya.
Bagaimana Mahasiswa Akan Membantu Masyarakat?
Mahasiswa akan melakukan berbagai kegiatan. Mereka akan berinteraksi langsung dengan warga. Identifikasi akar permasalahan kesehatan menjadi tugas utama. Kegiatan posyandu dan pameran kesehatan juga akan dilaksanakan. Tujuannya adalah memberikan edukasi dan pencegahan. Diharapkan program ini menurunkan angka stunting dan TB secara signifikan. Selain itu, mereka juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal.






