BREBES, Warta Brebes– Harga emas (XAUUSD) mengalami penurunan tajam hingga hampir US$525 atau lebih dari 10% pada pekan lalu, mencatat pelemahan mingguan terparah sejak September 2011. Penurunan ini berlanjut di awal perdagangan sesi Asia, Senin (23/3/2025), akibat isu perubahan arah kebijakan moneter bank sentral global.
Beberapa tahun terakhir, bank sentral dunia, termasuk The Federal Reserve (The Fed), cenderung melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga. Namun, tren ini diperkirakan berbalik pada tahun ini, didorong oleh risiko kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah (oil).
Bank of England (BoE) telah menyatakan kesiapannya untuk menaikkan suku bunga, diikuti oleh European Central Bank (ECB). Sementara itu, The Fed masih bersikap hati-hati, menganggap masih terlalu dini untuk menilai dampak kenaikan harga minyak.
Perubahan Arah Kebijakan Moneter Tekan Harga Emas
Meskipun demikian, pelaku pasar kini melihat probabilitas The Fed akan menahan penurunan suku bunga pada tahun ini. Data dari FedWatch milik CME Group menunjukkan adanya 35% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada Desember 2026.
Perubahan arah kebijakan The Fed dari pelonggaran menjadi pengetatan ini memberikan tekanan signifikan terhadap harga emas. Analis pasar menilai, sentimen hawkish dari bank sentral utama dunia secara langsung memengaruhi pergerakan aset safe haven seperti emas.
Analisis Teknikal: Potensi Rebound Jangka Pendek
Secara teknikal, grafik emas (XAUUSD) pada timeframe 4 jam menunjukkan tekanan yang berlanjut. Rata-rata pergerakan 20 periode (MA 20) telah memotong MA 50 dari atas ke bawah, yang dikenal sebagai death cross, menjadi sinyal penurunan bagi para trader.
Harga emas saat ini membentuk trenline menurun. Selama harga tertahan di bawah level ini, tekanan jual diperkirakan akan tetap besar. Namun, indikator Stochastic menunjukkan posisi oversold, membuka peluang rebound jangka pendek. Kenaikan harga emas dapat memberikan peluang sell dengan risk reward ratio yang lebih menarik.
Referensi teknikal menyarankan posisi sell selama harga berada di bawah US$4.650. Target profit (TP) pertama diproyeksikan di US$4.200, diikuti TP kedua di US$4.000. Stop loss (SL) disarankan di US$4.650.
Sebagai alternatif, skenario buy dapat dipertimbangkan jika harga emas berhasil menembus secara konsisten di atas US$4.650. Pelaku pasar perlu mencermati data ekonomi terbaru dan pernyataan bank sentral untuk memprediksi pergerakan harga emas selanjutnya, terutama terkait isu kebijakan moneter dan inflasi.
Penurunan harga emas ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perubahan kebijakan moneter global. Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dapat terus menekan harga emas, bahkan berpotensi membawanya menuju target US$4.000 jika tekanan tersebut berlanjut dan menguat.





