BREBES, Warta Brebes — Kesepakatan dagang Amerika Serikat dan China memicu lonjakan harga kedelai global. Perajin tempe di Indonesia kini menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga bahan baku yang signifikan. Kenaikan ini berdampak langsung pada operasional dan keberlangsungan usaha skala rumahan.
Harga kedelai internasional melonjak tajam setelah China berjanji membeli produk pertanian AS senilai 17 miliar dolar AS per tahun hingga 2028. Komitmen ini, yang setara dengan Rp 301,17 triliun dengan kurs Rp 17.710 per dolar AS, kembali menggairahkan pasar komoditas pertanian dunia. Pergerakan harga ini langsung terasa di pasar berjangka.
Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga futures kedelai sempat meroket sekitar 2 persen. Kenaikan ini mendorong harga mendekati 12 dolar AS per bushel, atau sekitar Rp 212.592 per bushel. Lonjakan ini terjadi akibat ekspektasi peningkatan permintaan dari Negeri Tirai Bambu.
China Janjikan Tambahan 25 Juta Metrik Ton
Pemicu kenaikan harga tidak hanya sebatas nilai kesepakatan yang masif. China juga berkomitmen menambah pembelian kedelai AS sebanyak 25 juta metrik ton setiap tahun. Komitmen tambahan ini berlaku mulai tahun 2026 hingga 2028 mendatang.
Analis Farm Futures, Bryce Knorr, menilai potensi kenaikan harga lebih lanjut sangat mungkin terjadi. Kenaikan ini sangat bergantung pada seberapa serius China merealisasikan komitmen pembeliannya. Knorr memproyeksikan harga futures kedelai November bisa merangkak naik ke kisaran 13 hingga 14 dolar AS per bushel. Angka ini setara dengan Rp 230.308 hingga Rp 248.024 per bushel.
“Bagaimana tambahan 25 juta metrik ton itu memengaruhi harga tergantung pada banyak faktor,” tulis Knorr dalam analisisnya di Farm Progress. Ia menekankan bahwa realisasi pembelian akan menjadi kunci utama pergerakan harga selanjutnya.
Ekspor AS ke China Sempat Anjlok 65 Persen
Kesepakatan dagang ini hadir di tengah lesunya hubungan perdagangan kedua negara. Laporan Reuters menyebutkan ekspor pertanian AS ke China sempat turun drastis 65,7 persen secara tahunan pada 2025. Nilainya mencapai 8,4 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 148,81 triliun. Penurunan tajam ini akibat perang tarif yang berkepanjangan.
Ketergantungan China terhadap kedelai AS juga mengalami penyusutan. Porsi impor kedelai China dari AS turun dari 41 persen pada 2016 menjadi hanya sekitar 20 persen pada 2024. Kesepakatan terbaru ini dinilai sebagai upaya pemulihan hubungan dagang, terutama di sektor pertanian.
Pasar Masih Skeptis
Namun, tidak semua pihak memandang optimis kesepakatan ini. Barron’s mencatat bahwa China pernah membuat janji serupa pada kesepakatan dagang fase pertama di tahun 2020. Sayangnya, realisasi janji tersebut tidak sepenuhnya tercapai.
Berbagai hambatan masih membayangi, seperti tingginya harga daging sapi AS. Keterbatasan pasokan akibat kekeringan juga menjadi faktor penentu. Selain itu, hubungan dagang China yang semakin erat dengan Brasil juga patut diwaspadai. China juga berupaya mengurangi ketergantungan impor pangan.
Reuters melaporkan, China mendorong efisiensi penggunaan pakan ternak. Upaya ini berpotensi memangkas impor kedelai hingga 25 persen dalam dekade ini. Hal ini tentu menjadi tantangan tambahan bagi produsen kedelai global.
Brasil Tetap Jadi Pesaing Berat
Brasil tidak tinggal diam dalam persaingan pasar kedelai global. Ekspor kedelai Brasil ke China sepanjang 2025 mencapai 34,5 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 611,20 triliun. Produksi kedelai Brasil diproyeksikan mencetak rekor 180 juta ton pada 2026.
Broker Stag International menilai Brasil memiliki daya saing struktural yang kuat di pasar global. Ini berarti persaingan pasar kedelai dunia akan tetap ketat. Peluang ekspor AS ke China tidak serta-merta menghilangkan dominasi Brasil.
Indonesia Menanggung Beban Impor
Bagi Indonesia, potensi kenaikan harga kedelai global berdampak langsung. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total impor kedelai Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,56 juta ton. Angka ini mencakup sekitar 90 persen dari total kebutuhan nasional.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menyoroti masalah yang lebih dalam. Ia menyebut selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar. “Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik,” ujar Ade Holis.
Data mereka menunjukkan harga kedelai impor di tingkat eceran domestik periode Februari 2024 hingga Februari 2026 berkisar Rp 13.300 hingga Rp 15.100 per kilogram. Bandingkan dengan harga acuan internasional yang hanya Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram. Selisihnya mencapai Rp 5.600 hingga Rp 8.500 per kilogram.
Kajian NEXT Indonesia Center memperkirakan importir menikmati marjin indikatif sekitar Rp 5.060 per kilogram. Potensi keuntungan importir bisa menembus Rp 12,9 triliun dalam setahun, jika dikalikan volume impor 2,56 juta ton.
Perajin Tempe Malang: Ukuran Diperkecil, Harga Tetap
Di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, para perajin mengambil langkah taktis. Mereka memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli pelanggan. Strategi yang diterapkan adalah memperkecil ukuran produk tempe.
Salah satu karyawan pengrajin, Ami, menjelaskan harga kedelai kini mencapai Rp 10.900 per kilogram. Sebelumnya, harga bahan baku ini berkisar Rp 9.800 per kilogram. “Kalau harga tempe tidak kita naikkan, jadi harganya tetap. Ukurannya saja yang kita kecilkan, lebih tipis dari sebelumnya, kira-kira 1,5 centimeter,” kata Ami.
Satu lonjor tempe ukuran besar dijual Rp 23.000 hingga Rp 25.000. Sementara ukuran kecil dihargai Rp 18.000 hingga Rp 20.000. Dampaknya terasa di pasar, pelanggan yang biasa membeli tempe Rp 10.000 kini beralih membeli Rp 5.000 hingga Rp 7.000. Produksi pun ikut turun, dari 7-8 kuintal menjadi sekitar 6,5 kuintal per hari.
“Harapan kami pemerintah bisa membantu produsen tempe rumahan seperti kami, dengan menurunkan harga kedelai,” ujar Ami.
Perajin Semarang: Harga Naik, Plastik Kemasan Melonjak 70 Persen
Kondisi serupa juga dialami perajin tempe di Kota Semarang. Adip Muharam, produsen tempe di Pandean Lamper, Gayamsari, melaporkan kenaikan harga kedelai. Harga bahan baku naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per kilogram sejak awal 2026.
“Karena kedelai kita memang mayoritas impor, jadi mau tidak mau ikut harga impor. Kalau kurs dollar makin naik, otomatis harga kedelai juga naik terus,” katanya. Beban produksi kian berat karena harga plastik kemasan juga melonjak.
Ati, produsen tempe lainnya, menyebut harga satu rol plastik naik dari Rp 550.000 menjadi Rp 1,15 juta. Kenaikan ini mencapai sekitar 70 persen. Akibatnya, harga tempe per bungkus naik bertahap dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000 sejak Mei 2026.
“Yang kami khawatirkan itu ketika harga makanan naik semua, tapi ekonomi masyarakat turun. Akhirnya pembeli berkurang,” kata Ati. Produksi di tempat usahanya masih sekitar 5 hingga 6 kuintal per hari atau 2.000 hingga 3.000 potong tempe.
Ati berharap pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Sebisa mungkin kurs rupiah itu tetap stabil sehingga harga-harga bahan baku seperti kedelai dan plastik juga bisa ikut stabil,” harapnya. Tantangan kedelai di Indonesia belum akan berakhir. Ketergantungan impor dan tekanan terhadap rupiah akan terus memukul perajin tempe.






