Perusahaan mencetak kenaikan pendapatan 22,3%. Pendapatan menyentuh US$ 252,7 juta. EBITDA melonjak 54,9% menjadi US$ 80,1 juta. Kenaikan ini tak lepas dari harga nikel matte yang membaik. Rata-rata harga nikel matte mencapai US$ 14.213 per metrik ton.
Tahun 2026 menjadi tahun penuh pembayaran nikel matte 82%. Ini pondasi pendapatan yang lebih kuat. Margin pun lebih terlihat jelas. Harga nikel LME diprediksi terus naik. Vale Indonesia siap maksimalkan struktur komersialnya.
Biaya tunai per unit nikel matte tetap kompetitif. Angkanya US$ 10.382 per ton. Biaya bijih nikel juga stabil. Bahodopi di US$ 21 per ton. Pomalaa di US$ 13 per ton. Royalti dan logistik sudah termasuk.
Volume penjualan dari Pomalaa akan meningkat. Ini mendorong optimalisasi biaya tunai. Peningkatan volume menciptakan efisiensi. Skala ekonomi lebih besar pun tercipta. Ini mengimbangi biaya tinggi di Bahodopi.
Produksi nikel matte Vale mencapai 13.620 metrik ton. Angka ini sesuai rencana. Optimalisasi kegiatan pemeliharaan dilakukan. Pembangunan kembali Furnace 3 dijadwalkan selesai semester I-2026. RKAB 2026 juga berdampak.
Pengiriman nikel matte turun 25% kuartalan. Target produksi setahun penuh tetap tercapai. Angkanya 67.645 ton. Vale berada di jalur tepat. Kenaikan harga nikel LME akan dimanfaatkan.
Tahun 2026 adalah tahun penting bagi Vale. Tiga blok pertambangan beroperasi bersamaan. Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Produksi meningkat di setiap blok. Penjualan bijih nikel limonit dari Pomalaa dimulai.
Portofolio komersial Vale meluas. Diversifikasi pendapatan semakin kuat. EBITDA, pendapatan, dan laba diprediksi menguat. Kenaikan harga nikel LME jadi pendorong utama. Peningkatan leverage operasional juga berkontribusi. Margin melebar seiring volume produksi.










