JAKARTA, Warta Brebes — Aktivitas manufaktur di China mengalami perlambatan signifikan pada bulan Mei. Hal ini terjadi akibat kombinasi libur panjang yang mengganggu rantai pasok dan tekanan dari permintaan global yang melemah. Selain itu, konflik yang masih berkecamuk di Timur Tengah turut memicu kenaikan biaya bahan baku.
Biro Statistik Nasional melaporkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur resmi turun ke angka 50 pada Mei, dari 50,3 pada April. Angka ini sesuai dengan prediksi para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.
Sementara itu, sektor nonmanufaktur yang mencakup jasa dan konstruksi justru menunjukkan perbaikan. Indikator ini naik menjadi 50,1 dari 49,4 bulan sebelumnya.
Perlambatan ini menandakan bahwa perekonomian China mulai kehilangan momentumnya. Padahal, sebelumnya China berhasil mencatat kinerja yang kuat pada kuartal pertama tahun ini.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi global.
Penyebab utama perlambatan ini adalah faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Libur panjang di China memang menciptakan disrupsi, namun dampak global lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.
Kenaikan harga komoditas akibat konflik Timur Tengah semakin membebani produsen.
Meskipun sektor jasa menunjukkan sedikit peningkatan, tren perlambatan manufaktur tetap menjadi perhatian utama.
Para analis akan terus memantau perkembangan PMI ke depan untuk melihat apakah ini hanya sementara atau menjadi tren baru. Kinerja ekonomi China sangat krusial bagi kesehatan ekonomi dunia.






