JAKARTA, Warta Brebes — Momen Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri terlihat mesra bergandengan tangan saat peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 lalu, memantik beragam apresiasi publik. Tindakan ini dianggap sebagai manifestasi tema peringatan, yaitu Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan pondasi perdamaian dunia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyoroti kedekatan keduanya. Ia menyatakan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati telah terjalin lama, melewati berbagai dinamika politik. Terlepas dari persaingan yang pernah ada, keduanya dinilai tetap satu dalam menjaga Pancasila serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Qodari membantah spekulasi yang menyebutkan adanya agenda politik tersembunyi di balik keakraban tersebut. Ia menegaskan, baik Prabowo maupun Megawati tengah menjalankan peran masing-masing. Presiden Prabowo fokus pada roda pemerintahan, sementara Megawati dan PDI Perjuangan memilih berada di luar lingkar kekuasaan.
Hubungan Prabowo dan Megawati memang memiliki sejarah panjang, sarat dengan pasang surut politik Indonesia. Keduanya pernah menjadi rival sengit, namun kini, kebersamaan mereka di momen krusial seperti Hari Lahir Pancasila, membuka interpretasi luas di masyarakat. Apakah ini sekadar simbol persatuan atau ada makna lebih dalam yang tersirat?
Pemerintah sendiri menjadikan momen ini sebagai penegasan komitmen terhadap Pancasila. Namun, bagi pengamat politik, setiap interaksi figur publik sebesar Prabowo dan Megawati selalu menarik untuk dicermati implikasi politiknya. Ke depannya, publik akan terus menanti bagaimana dinamika hubungan kedua tokoh bangsa ini akan terus berkembang.







