Relokasi Korban Tanah Bergerak Sridadi Sirampog, 527 Jiwa Hidup dalam Bayang Ketidakpastian

SIRAMPOG, Warta Brebes – Relokasi korban tanah bergerak di Sridadi, Kecamatan Sirampog sudah semakin mendesak. Pergerakan tanah di sana, belum benar-benar diam.

Hujan yang terus mengguyur kawasan berbukit itu membuat retakan semakin melebar di Dukuh Bojongsari dan Dukuh Makam.

Sejak pergerakan tanah pertama terdeteksi pada 29 Januari 2026, warga hidup dalam kecemasan. Hingga data terakhir hingga Selasa (10/2/2206) lalu mencatat 176 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 15 rumah terpaksa dibongkar karena membahayakan penghuninya.

Dari pengosongan jumlah rumah tersebut, sebanyak 527 jiwa terdampak. Sebagian dari mereka bertahan di tenda darurat. Sebagian lain mengungsi ke rumah kerabat.

Parit Bengkok, Pohon Miring

Narto (39) tidak lagi menunggu bunyi retakan. Setiap hujan deras turun lama, ia langsung mengungsi.

“Saya cemas. Daripada menunggu kejadian lebih parah, lebih baik mencari keselamatan lebih awal,” ujarnya, Rabu (11/2).

Pergerakan tanah memang tidak terasa oleh tubuh. Namun tanda-tandanya terlihat jelas. Parit di depan rumahnya yang dulu lurus ke arah Kali Keruh kini bengkok dan turun dalam hitungan hari.

“Dua hari saja sudah berubah,” katanya.

Wati (40) merasakan hal serupa. Sore hari ia melihat pohon di depan rumahnya masih tegak. Keesokan paginya pohon itu sudah miring seperti hendak tumbang.

“Perubahannya cepat sekali,” ucapnya pelan.

Warga tidak lagi meminta bantuan sementara. Mereka meminta kepastian relokasi.

Lahan Aman Untuk Relokasi Korban Tanah Bergerak

Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, berpacu menyiapkan hunian sementara. Namun desa sempat kesulitan menemukan lahan yang benar-benar aman. Tanah lapang yang tersedia hanya cukup untuk tujuh unit huntara. Lokasinya pun dekat garis patahan.

Sementara itu, sejumlah warga membongkar rumah secara swadaya untuk menyelamatkan material bangunan. Mereka sadar, bertahan terlalu lama hanya memperbesar risiko.

Rakor Relokasi, 50 KPM Ikuti Persiapan Hunian Baru

Angin segar akhirnya datang. Kabar relokasi akhirnya semakin terang.  Sebanyak 50 keluarga penerima manfaat (KPM) mengikuti rapat koordinasi pembangunan hunian relokasi di aula Kantor Desa Sridadi, Jumat (13/2/2026).

Relokasi tanah bergerak Sridadi

Rakor menghadirkan Disperakim Provinsi Jawa Tengah, Disperakim Kabupaten Brebes, Inspektorat Brebes, Asisten 2 Setda Brebes, BPBD Jawa Tengah, BPBD Brebes, DPU Brebes, Forkompincam Sirampog, serta pemerintah desa.

Agenda utama membahas kesiapan lahan dan tahapan pembangunan.

Dukuh Legok Jadi Titik Relokasi Korban Tanah Bergerak di Sridadi

Camat Sirampog, Slamet Budi Raharjo, menyatakan pemerintah telah menetapkan lahan relokasi di Dukuh Legok. Pemerintah menilai lokasi itu lebih aman dari potensi pergerakan tanah.

“Penetapan titik relokasi memberi kepastian. Kami tidak ingin warga terus hidup dalam kekhawatiran setiap musim hujan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan semakin lama dampak pergerakan tanah di Sri dadi lebih meluas hingga ke pedukuhan lain. Total, sebanyak 285 rumah terdampak. Satu sekolah dasar dan satu masjid ikut mengalami ancaman.

Karena itu, rencana relokasi tidak hanya untuk Dukuh Bojongsari dan Dukuh Makam, namun sebagian warga Karanganyar, Karang Gondang, dan Rakem juga masuk daftar prioritas.

Kajian Geologi dan Bantuan Rp50 Juta

Perwakilan Disperakim Jawa Tengah, Dita, memastikan lokasi relokasi telah melalui kajian geologi. Tim melakukan penelitian selama tiga hari untuk memastikan stabilitas tanah.

“Kami pastikan struktur tanah aman untuk hunian jangka panjang,” katanya.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan material senilai Rp50 juta untuk setiap penerima. Bantuan cair setelah tahapan administrasi dan kesiapan teknis terpenuhi.

Lebih lanjut Sudaryo, meminta warga mengikuti seluruh proses.

“Kami terus berkoordinasi agar realisasi bantuan segera terlaksana,” ujarnya.

Sementara itu, warga terdampak tanah bergerak ingin kepastian, bukan sekadar bertahan di pengungsian.

Di lereng Sridadi, waktu berjalan lebih lambat. Retakan tidak berbunyi keras. Tanah tidak runtuh tiba-tiba. Namun perubahan kecil setiap hari menggerus rasa aman.

Warga kini tidak hanya menghadapi hujan. Mereka menghadapi ketidakpastian. Dan bagi mereka, relokasi bukan lagi pilihan. Relokasi korban tanah bergerak di Sridadi menjadi kebutuhan mendesak. (*) 

Bagikan: