Stok Beras Melimpah, Bulog Siap Ekspor Tunggu Perintah Presiden

JAKARTA, Warta Brebes— Perum Bulog menyatakan kesiapan penuh untuk mengekspor beras dengan harga kompetitif. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan pihaknya siap melaksanakan arahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini bertujuan menjaga kesejahteraan petani sekaligus mendongkrak perekonomian nasional. Hingga pertengahan Mei 2026, stok beras Indonesia tercatat melimpah, mencapai 5,32 juta ton.

Dalam keterangan persnya, Ahmad Rizal Ramdhani mengonfirmasi kesiapannya menerima perintah ekspor beras. "Begitu ada perintah, kami siap melaksanakan sesuai dengan arahan Bapak Presiden," tegasnya. Bulog akan bergerak cepat dalam menjalankan penugasan pemerintah, termasuk pengelolaan cadangan beras nasional hingga distribusi pangan. Setiap arahan yang diberikan akan segera dieksekusi.

Meskipun demikian, Bulog belum memiliki angka pasti mengenai volume beras yang akan dialokasikan untuk ekspor. Menurut Ramdhani, komunikasi mengenai permintaan antarnegara biasanya dilakukan langsung di tingkat kepala negara. Hingga Sabtu, 16 Mei 2026, Perum Bulog berhasil mengelola 5,32 juta ton stok cadangan beras pemerintah di seluruh gudangnya.

Negosiasi Harga Beras Premium dengan Malaysia

Bulog saat ini tengah menjajaki kemungkinan ekspor beras ke Malaysia. Negosiasi harga sedang berlangsung untuk pengiriman sekitar 200 ribu ton beras, dengan estimasi nilai transaksi mencapai Rp2 triliun. Pihak Malaysia mengajukan harga di bawah Rp10.000 per kilogram, namun Bulog menginginkan harga yang lebih tinggi. Hal ini mengingat kualitas beras yang ditawarkan masuk kategori premium, dengan kisaran harga yang diinginkan Indonesia antara Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyinggung kesiapan Bulog menghadapi peluang ekspor beras. Saat peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Presiden memanggil Dirut Bulog. Prabowo menekankan agar beras Indonesia tidak dijual terlalu murah di pasar internasional. Ia berpesan agar nilai jual beras Indonesia tetap dijaga demi kepentingan petani dalam negeri.

"Jangan jual terlalu murah ya. Jangan juga ngetok (menjual mahal), tetapi jangan jual terlalu murah," ujar Presiden Prabowo. Beliau mengingatkan bahwa kondisi pangan global masih penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, Indonesia harus berhati-hati dalam menjaga cadangan beras nasional sekaligus membuka peluang ekspor. "Ingat, krisis ini bisa lama. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu," tegasnya, yang kembali dijawab siap oleh Dirut Bulog.

Peluang Ekspor di Tengah Ketidakpastian Pangan Global

Situasi pangan global yang semakin tidak menentu mendorong beberapa negara menjalin komunikasi dengan Indonesia untuk membeli beras. Permintaan datang dari berbagai negara, termasuk negara-negara tetangga di kawasan. Beberapa negara yang sebelumnya dianggap kuat dalam urusan pangan kini mulai membuka komunikasi untuk meminta pasokan beras dari Indonesia.

Perubahan ini terjadi setelah India memutuskan menghentikan ekspor beras, jagung, dan gandum demi menjaga kebutuhan pangan domestiknya. Langkah serupa juga diikuti oleh Bangladesh yang menutup keran ekspor pangannya. Meskipun demikian, Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tetap akan membantu negara lain yang membutuhkan pangan. Namun, ia menekankan agar harga ekspor tetap menguntungkan petani dalam negeri dan tidak merugikan mereka. Potensi ekspor beras Indonesia di tengah kelangkaan global menjadi peluang emas untuk mendongkrak perekonomian nasional dan menyejahterakan petani.

Bagikan: