JEMBER, Warta Brebes— Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Jember (UNEJ) mengumumkan temuan revolusioner: tanaman liar endemik Kalimantan, yang dikenal sebagai tawas ut atau panamar peri, terbukti ampuh menurunkan kadar gula darah. Penemuan ilmiah ini, yang dilansir dari Investor Daily pada Rabu (3/6/2026), memanfaatkan kekayaan hayati Nusantara sebagai solusi potensial untuk mengatasi krisis diabetes yang kian mengkhawatirkan.
Indonesia kini menduduki peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes, dengan angka mencapai 19,5 juta jiwa. Ironisnya, sekitar 90 persen bahan baku obat-obatan masih bergantung pada impor, yang berujung pada pembengkakan pengeluaran negara hingga Rp95 triliun untuk biaya pengobatan penderita diabetes semata.
Dekan Fakultas Farmasi UNEJ, Prof. Ari Satia Nugraha, menyoroti urgensi temuan ini. “Diabetes adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Trennya kini merambah usia produktif, bahkan usia 30 tahun. Di sisi lain, Indonesia memiliki 6.000 spesies tanaman obat yang belum sepenuhnya tereksplorasi,” ujar Prof. Ari dalam keterangannya di Kabupaten Jember, Rabu (3/6/2026).
Potensi Antidiabetes Tawas Ut: Riset Mendalam Selama Satu Dekade
Ketergantungan pada impor bahan baku obat juga menyebabkan tingginya harga di pasaran, menyulitkan akses masyarakat terhadap perawatan medis jangka panjang. Latar belakang inilah yang mendorong tim peneliti UNEJ untuk mendalami potensi tanaman merambat dari hutan Kalimantan, yang secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak.
“Kondisi tersebut memotivasi saya dan tim untuk menggali kekayaan hayati Nusantara. Ampelocissus rubiginosa lauterb, tanaman merambat liar di hutan Kalimantan, telah lama digunakan masyarakat Dayak untuk mengobati luka dalam dan luar. Namun, kandungan antidiabetesnya belum pernah diteliti secara ilmiah,” jelas Prof. Ari.
Proyek riset tawas ut memakan waktu hampir satu dekade, dimulai sejak sampel pertama diperoleh dari Kalimantan pada tahun 2015. Melalui serangkaian tahapan isolasi senyawa aktif, uji laboratorium (in vitro), hingga uji pada hewan percobaan (in vivo), tim peneliti berhasil mengidentifikasi kandungan polifenol yang sangat tinggi pada tanaman berakar keras menyerupai ketela ini.
“Saya telah meneliti tanaman obat selama hampir 20 tahun, dan ekstrak tanaman ini sangat unik dengan kandungan polifenol yang luar biasa tinggi. Riset kami menemukan bahwa ekstrak etanol akar tawas ut mampu menghambat enzim pemecah gula darah dengan efektivitas lima kali lebih tinggi dibandingkan Acarbose, obat antidiabetes standar yang umum digunakan,” ungkap Prof. Ari.
Secara medis, ekstrak akar tawas ut bekerja dengan menghambat komponen fenolik dan antioksidan yang memecah karbohidrat menjadi gula di usus. Mekanisme ini secara efektif membatasi pasokan gula ke aliran darah. Karakteristik unik tawas ut memungkinkan dosis yang jauh lebih kecil dibandingkan acarbose untuk menghasilkan efek yang sama kuatnya dalam uji laboratorium.
Uji Klinis Menanti: Menjajaki Tiga Zat Aktif Baru untuk Kesehatan
Meskipun demikian, implementasi tawas ut pada manusia masih memerlukan serangkaian uji klinis lebih lanjut, mengingat seluruh data yang ada saat ini berasal dari uji laboratorium dan hewan percobaan. Selain itu, penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi tiga zat aktif baru dari keluarga flavonoid yang menunjukkan aktivitas antioksidan tinggi, setara dengan teh hijau atau buah beri.
Penelitian kolaboratif ini melibatkan institusi terkemuka seperti BRIN, James Cook University Australia, dan University of Wollongong Australia. Hasilnya telah dipublikasikan dalam Journal of Biologically Active Products from Nature pada Desember 2025.
“Kami telah menyaring puluhan tanaman dari Indonesia, dan tidak ada yang seefektif tawas ut. Uji in vitro-nya sangat menjanjikan, bahkan lebih baik dari senyawa standar. Konfirmasi melalui model hewan uji juga memberikan hasil yang sangat jelas, menegaskan khasiat yang telah diketahui masyarakat Dayak selama berabad-abad,” tegas Prof. Ari.
Validasi ilmiah terhadap kearifan lokal suku Dayak ini sejalan dengan program strategis pemerintah Indonesia dalam mengembangkan obat herbal. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian sektor farmasi nasional, sekaligus mentransformasikan pengetahuan tradisional menjadi produk kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Riset kolaboratif ini membuktikan bahwa kekayaan hayati Nusantara, jika diteliti secara serius, dapat menjadi pondasi kemandirian kefarmasian Indonesia. Potensi ini terbuka dari hutan-hutan yang dijaga oleh para leluhur kita,” tutup Prof. Ari, menggarisbawahi harapan besar untuk tawas ut sebagai solusi diabetes berbasis alam.







