BREBES, Warta Brebes — Selama bertahun-tahun, warga Desa Bangbayang harus menempuh jalur memutar sejauh dua kilometer hanya untuk mencapai desa tetangga atau pusat kecamatan. Sungai Ciraja yang membelah wilayah mereka menjadi penghalang utama mobilitas. Jika nekat menyeberang, mereka hanya bisa melakukannya saat air sedang surut. Saat musim hujan tiba, sungai itu berubah menjadi penghalang mematikan.
Kamis pagi (23/7), semua itu berubah. Jembatan Gantung Perintis Garuda Brebes yang membentang di atas Sungai Ciraja resmi dioperasikan. Kini, jarak tempuh yang dulu dua kilometer menyusut menjadi kurang dari 500 meter. Puluhan warga memadati tepi sungai, menyaksikan peresmian yang telah mereka nantikan bertahun-tahun.
Peresmian Serentak Se-Diponegoro
Jembatan sepanjang 60 meter itu diresmikan bersamaan dengan 53 jembatan perintis lainnya di wilayah Kodam IV/Diponegoro. Upacara terpusat dipimpin Pangdam IV/Diponegoro di Kabupaten Pekalongan. Di Brebes, peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Wakil Bupati Brebes Wurja bersama Komandan Kodim 0713/Brebes Letkol Inf Ambariyantomo.
Wurja mengaku memiliki ikatan emosional dengan jembatan ini. Ia telah memperjuangkan pembangunannya sejak masih menjabat sebagai kepala desa hingga menjadi anggota DPRD. Namun kala itu, anggaran selalu menjadi kendala.
“Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat,” ujar Wurja. “Keberadaannya memudahkan anak-anak berangkat sekolah, petani menuju sawah, pedagang menuju pasar, hingga mempercepat mobilitas warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.”
Ia mengajak warga menjaga dan merawat jembatan agar umur layanannya bertahan lama. Jika terjadi kerusakan yang tidak bisa diperbaiki secara swadaya, warga diminta segera melapor ke pemerintah.
15.500 Jiwa Merasakan Manfaat
Jembatan yang melintasi Sungai Ciraja selebar 50 meter ini diproyeksikan memberikan manfaat langsung bagi sekitar 15.500 jiwa atau 2.350 kepala keluarga di Desa Bangbayang dan Desa Bantarkawung.
Komandan Kodim 0713/Brebes Letkol Inf Ambariyantomo mengatakan, pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program nasional TNI AD untuk membuka keterisolasian wilayah. “Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, serta gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Empat jembatan perintis lainnya di Kecamatan Tonjong, Bantarkawung, Salem, dan Paguyangan masih dalam proses pembangunan. Targetnya rampung akhir Juli.
Sunandar: “Dulu Memutar Dua Kilometer, Kini Tak Sampai 500 Meter”
Sunandar, warga Desa Bangbayang, merasakan langsung perubahan setelah jembatan berdiri. “Dulu jalannya harus memutar sampai dua kilometer. Sekarang dengan adanya jembatan gantung jadi lebih dekat, tidak sampai 500 meter,” ujarnya.
Sebelum jembatan dibangun, Sunandar dan warga lain sering menyeberangi Sungai Ciraja saat air surut. Namun saat debit air naik hingga lima meter, penyeberangan menjadi sangat berbahaya. Aktivitas warga pun terganggu.
“Kami sudah menunggu ini bertahun-tahun. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa kami nikmati,” tambahnya.
Peresmian di Kadumanis dan Kegiatan Sosial
Pada hari yang sama, Jembatan Perintis Garuda di Desa Kadumanis, Kecamatan Salem, juga diresmikan. Acara di Bantarkawung dihadiri anggota DPRD Brebes Sudono, Camat Bantarkawung Wartoid, para Danramil wilayah selatan, tokoh masyarakat, dan ratusan warga.
Rangkaian acara ditutup dengan pembagian paket sembako bagi warga kurang mampu dan santunan anak yatim. Kegiatan ini didukung Baznas Kabupaten Brebes dan PMI Kabupaten Brebes.
Kehadiran jembatan perintis Garuda Brebes ini diharapkan tidak hanya memperlancar konektivitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempererat hubungan sosial masyarakat. (*)

























