BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Kesehatan
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Bulan Suro; Musabab Sedekah Laut dan Sedekah Bumi Desa di Brebes

BREBES, Warta Brebes — Bulan Suro telah tiba. Di pesisir utara, para nelayan mulai memahat doa-doa di atas perahu. Di daratan, petani mulai menata hasil panen di atas gunungan. Yang satu sibuk dengan acara sedekah laut. Di belahan lain Kabupaten Brebes, banyak desa fokus dengan Sedekah Bumi. Keduanya memang tidak saling bertemu, tetapi nafas yang mereka hirup sama, nafas syukur yang telah mengalir selama ratusan tahun di tanah Brebes.

Yang menyatukan adalah waktu. Ya, bulan Suro.

Mengapa bulan Suro menjadi titik pijak? Mengapa darat dan laut, yang secara fisik terpisah, justru bersatu dalam ritual yang sama? Pertanyaan ini tidak cukup dijawab dengan lembaran kalender. Ia harus ditelusuri melalui akar budaya yang membenam dalam-dalam di bumi Brebes. Bahkan, di tanah Jawa. Serupa.

Suro: Awal Mula Penciptaan yang Sakral

Dalam tatanan Jawa kuna, bulan Suro bukan sekadar angka. Ia adalah saat ketika langit dan bumi baru saja dipisahkan. Masyarakat Jawa meyakini bahwa pada bulan inilah Sang Pencipta mulai menata cakrawala, menegakkan benua, dan menghembuskan kehidupan. Karena itu, Suro dianggap sebagai awal yang paling murni—waktu yang tepat untuk memulai, membersihkan, dan mensyukuri.

Kepercayaan ini tidak berdiri sendiri. Dalam Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan. Pertemuan dua sistem kepercayaan ini—Jawa dan Islam—tidak pernah menjadi benturan. Sebaliknya, ia melahirkan sintesis yang indah, masyarakat Brebes memuliakan Suro bukan karena takut, melainkan karena rindu pada kesucian.

Maka, di setiap sudut Brebes—dari perbukitan Bantarkawung hingga hamparan pasir Losari—bulan Suro menjadi bulan yang ditunggu. Bukan untuk pesta, melainkan untuk mengingat. Mengingat bahwa manusia berasal dari tanah, dan bahwa laut adalah ibu yang tak pernah berhenti memberi.

Sedekah Bumi: Ketika Petani Berbisik pada Tanah

Di desa-desa agraris Brebes, jauh sebelum matahari meninggi, para petani telah berkumpul di balai desa. Mereka membawa hasil bumi yang paling baik. Ada bawang merah yang merah menyala, padi yang menguning, sayuran yang masih segar dengan embun pagi menempel di daunnya. Semua diletakkan dengan hati-hati, seolah-olah mereka sedang mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga—karena memang itulah yang mereka rasakan.

 

Gunungan mulai dibangun. Bertumpuk-tumpuk, menjulang setinggi orang dewasa. Di dasar, sayuran dan buah-buahan disusun melingkar. Di tengah, tumpeng berdiri tegak dengan lauk pauk di sekelilingnya. Di puncak, bawang merah dan cabai disusun membentuk mahkota. Semua adalah simbol dari apa yang telah ibu bumi berikan selama setahun. Tidak ada satu pun yang sia-sia. Semua disusun dengan hormat, seolah-olah sedang menghadap kepada yang memberi hidup.

Saat gunungan telah rampung, para sesepuh desa—yang rambutnya telah memutih oleh waktu—memulai doa. Mereka duduk bersila di depan gunungan, mengepalkan tangan di dada, memejamkan mata. Kata-kata doa mengalir pelan dalam bahasa Jawa kuna, kadang diselingi dengan lantunan ayat suci. Di belakang mereka, puluhan warga duduk dengan kepala tertunduk. Suasana hening. Hanya angin yang berani berbicara.

Doa tidak hanya untuk kesuburan. Mereka juga memohon agar dijauhkan dari hama, dari kekeringan, dari segala yang dapat merusak hasil panen. Mereka memohon agar tahun berikutnya, tanah masih mau memberi. Mereka memohon agar anak cucu mereka masih bisa merasakan apa yang mereka rasakan saat ini: cukup, bukan melimpah, tetapi cukup.

Setelah doa usai, gunungan diarak keliling desa. Iring-iringan ini diikuti dengan musik calung atau angklung—bambu-bambu yang dipukul menghasilkan nada-nada riang. Warga berbondong-bondong mengikuti, anak-anak berlarian di sela-sela kaki orang dewasa, sesepuh berjalan dengan tongkat namun tetap tegap. Gunungan tidak berhenti di balai desa. Ia diarak ke sawah, ke ladang, ke makam leluhur, ke setiap sudut yang dianggap sakral.

Di beberapa desa, seperti di lereng selatan, ritual ini diiringi wayang kulit lakon Bumi Loka semalam suntuk. Dalang duduk di balik layar, lampu blencong menerangi wayang-wayang yang mulai bergerak.

Lakon Bumi Loka mengisahkan tentang penciptaan alam semesta. Bagaimana langit dan bumi dipisahkan, bagaimana manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga. Dalam pagelaran ini, dalang bukan sekadar menghibur.

Ia menyampaikan pesan bahwa manusia hanyalah titipan, dan bahwa merawat bumi adalah kewajiban, bukan pilihan. Suara gamelan mengalun, sinden melantunkan tembang-tembang Jawa, warga duduk lesehan menikmati hingga larut malam.

Puncak dari sedekah bumi adalah saat gunungan dibagikan. Warga berebut berkah. Tumpeng, sayuran, bawang, semua diperebutkan dengan riang. Bukan karena lapar, melainkan karena mereka percaya, berkah itu harus diperebutkan agar tumbuh. Ibarat benih yang harus jatuh ke tanah agar berbuah, berkah juga harus diperebutkan agar mengalir kepada yang lain. Tangan-tangan tua dan muda saling berjuluran, tawa pecah di sana-sini, dan dalam riuhnya itu, ada kebahagiaan yang tak terkatakan.

Di beberapa desa, setelah gunungan habis, sandiwara marses mulai digelar. Di atas panggung sederhana, para pemain dengan kostum warna-warni memerankan kisah-kisah kepahlawanan atau legenda setempat. Dialognya lucu, dengan logat Jawa khas pesisir pantura barat yang kental. Penonton tertawa terpingkal-pingkal. Namun di balik tawa itu, terselip pesan moral tentang kewajiban manusia terhadap sesama, tentang pentingnya gotong royong, tentang bagaimana hidup yang baik adalah hidup yang saling berbagi. Sandiwara marses—yang namanya berasal dari kata “masres” (berbisik) dalam bahasa Jawa—justru menjadi panggung yang paling keras menyuarakan kearifan.

Sedekah Laut: Ketika Nelayan Memohon pada Samudra

Di pesisir utara Brebes, ritual dimulai dengan cara yang berbeda. Para nelayan tidak membawa hasil tani, melainkan sesaji yang berasal dari laut itu sendiri. Ikan-ikan segar, udang-udang yang masih mengkilap, dan yang terpenting, kepala kerbau, yang sudah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya.

Kepala kerbau bukanlah pilihan sembarangan. Dalam tradisi Jawa, kerbau adalah simbol kekuatan dan pengorbanan. Ia adalah hewan yang membantu manusia membajak sawah, yang menemani petani dari pagi hingga sore, yang rela dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar. Dengan melarungkan kepala kerbau ke tengah samudra, nelayan menyampaikan pesan: kami rela berkorban, sebagaimana kerbau telah berkorban untuk kami.

Kepala kerbau diletakkan di atas jolen—replika perahu yang terbuat dari janur dan bambu, dihiasi dengan anyaman daun kelapa yang rumit. Di sekeliling kepala kerbau, diletakkan tumpeng, buah-buahan, dan jajanan pasar. Semua disusun dengan hati-hati, seolah-olah sedang membangun altar di atas perahu.

Sehari sebelum pelarungan, jolen diarak dari desa ke pantai. Iring-iringan ini berbeda dengan di daratan. Musiknya lebih syahdu—rebana dan terbang yang dipukul perlahan, kadang diiringi dengan kidung-kidung pujian. Para nelayan berjalan dengan langkah mantap, membawa jolen di atas pundak mereka. Di belakang, istri dan anak-anak mereka mengikuti, membawa sesaji tambahan. Tidak ada gemerlap. Hanya doa, langkah, dan harapan.

Saat jolen tiba di pantai, suasana berubah. Matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasan menyebar di atas permukaan laut. Para nelayan berkumpul di tepi, membentuk lingkaran. Mereka berdoa bersama, memohon keselamatan, memohon agar laut masih mau memberi, memohon agar keluarga yang ditinggal di darat tetap aman.

Jolen kemudian dinaikkan ke perahu hias. Beberapa nelayan naik ke perahu, membawa jolen dengan penuh hormat. Perahu mulai bergerak, menjauh dari pantai, menuju tengah. Dari pinggir, ribuan warga menyaksikan dalam hening. Hanya suara ombak yang terdengar.

Di tengah laut, perahu berhenti. Doa-doa terakhir dipanjatkan. Lalu, dengan perlahan, jolen diturunkan ke air. Kepala kerbau, tumpeng, buah-buahan, semua mulai terapung, terbawa arus. Momen pelarungan ini bukanlah tontonan. Ia adalah temu antara dua dunia: dunia manusia yang lemah dan dunia laut yang perkasa. Keduanya, dalam momen itu, saling mengakui keberadaan.

Saat jolen mulai menghilang di kejauhan, takbir bergema dari pantai. Suara ribuan orang menggema, memecah kesunyian, naik ke langit. Di antara takbir itu, ada tangis haru, ada pelukan erat, ada doa-doa yang terucap dalam hati. Nelayan yang berada di perahu mulai kembali ke pantai. Wajah mereka tenang. Bukan karena mereka yakin akan selamat, tetapi karena mereka telah melakukan apa yang harus dilakukan.

Setelah pelarungan, warga kembali ke desa. Di balai desa, makanan telah disiapkan. Mereka makan bersama, bercerita, tertawa. Seolah-olah beban telah terangkat. Seolah-olah laut telah mendengar. Ritual sedekah laut tidak berakhir di pantai. Ia berakhir di meja makan, di kebersamaan, di rasa syukur yang dibagikan.

Bukan Atraksi, Melainkan Kesaksian

Seringkali, tradisi semacam ini terjebak dalam label “wisata budaya.” Masyarakat luar datang untuk menonton, memotret, lalu pergi. Tetapi bagi masyarakat Brebes, sedekah laut dan sedekah bumi bukanlah atraksi yang dipertontonkan. Ia adalah kesaksian—pengakuan bahwa manusia bukan pusat dari segalanya.

Oleh karena itu, jadwal pelaksanaannya pun tidak seragam. Setiap desa memiliki hitungannya sendiri, yang diwariskan secara turun-temurun. Ada yang menggelar pada Sabtu terakhir Suro, ada yang pada 10 Suro, ada pula yang menunggu bulan Syawal. Perbedaan ini bukanlah kekacauan, melainkan kekayaan. Karena tradisi yang hidup adalah tradisi yang bergerak, yang menyesuaikan dengan detak jantung masyarakatnya.

Yang penting bukanlah harinya. Yang penting adalah semangatnya: syukur, pengakuan, dan kerendahan hati. Semangat inilah yang membuat tradisi ini bertahan, jauh lebih lama dari siapa pun yang mencoba mencatat jadwalnya.

Warisan yang Tak Pernah Usang

Di akhir bulan Suro, ketika ombak kembali tenang dan gunungan telah habis, masyarakat Brebes kembali ke rutinitas mereka. Tetapi sesuatu telah berubah: mereka telah mengingat kembali bahwa mereka bukanlah penguasa, melainkan penjaga. Penjaga bumi, penjaga laut, penjaga warisan yang tak pernah usang.

Sedekah laut dan sedekah bumi bukanlah ritual usang yang dipertahankan demi nostalgia. Ia adalah pengingat yang selalu segar, bahwa hidup adalah siklus: memberi dan menerima, berkorban dan mendapat berkah, merawat dan dipelihara.

Di tengah modernisasi yang sering membuat manusia lupa asal-usulnya, Brebes memilih tetap pada akar. Bukan karena mereka kolot, tetapi karena mereka tahu: tanpa akar, pohon akan tumbang. Dan mereka, sebagai masyarakat yang hidup dari tanah dan laut, tidak ingin tumbang.

Maka setiap kali Suro tiba, Brebes tidak merayakan. Brebes mengingat. Itulah yang membuatnya tetap bernyawa. (*)

Penulis: Wasis Waseso | Editor: Wasis Waseso