BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Kesehatan
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Menunggu Ibu Pulang: Tiga Anak yang Tertinggal Setelah Razia di Comal Baru

PEMALANG, Warta Brebes– Pintu kamar kos itu masih terbuka. Sebuah kasur tipis terhampar di lantai, beberapa pakaian tergantung di dinding, dan piring bekas makan siang belum sempat dicuci. Tak ada yang tampak berbeda dari kamar-kamar kos lain di Desa Losari, Kecamatan Ampelgading. Namun sejak pertengahan Juni lalu, ruangan sederhana itu menyimpan cerita yang jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Tiga anak tinggal di sana. Mereka menunggu seseorang yang belum juga kembali.

Perempuan yang selama ini menjadi tempat mereka bergantung telah dibawa mengikuti program pembinaan sosial setelah terjaring operasi penertiban yang dilakukan Satpol PP Kabupaten Pemalang di kawasan lokalisasi Marimas Comal Baru pada 16 Juni 2026.

Sejak hari itu, kehidupan ketiga anak tersebut berubah drastis.

Mereka tidak hanya kehilangan sosok ibu, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan yang selama ini menopang kebutuhan sehari-hari.

Di tengah berbagai perdebatan tentang penegakan peraturan daerah, kisah tiga anak ini nyaris tenggelam dari perhatian publik.

Hari-Hari yang Berjalan Tanpa Kepastian

Ketiga anak itu berasal dari Bogor, Jawa Barat. Mereka tinggal di sebuah rumah kos sederhana di Desa Losari bersama ibu mereka.

Awalnya mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Hari pertama berlalu. Hari kedua menyusul. Telepon tidak terhubung. Sang ibu tak kunjung pulang.

Barulah kemudian mereka mengetahui bahwa ibu mereka termasuk dalam rombongan yang diamankan saat operasi penertiban di kawasan Marimas Comal Baru.

“Di sini ada dua ibu yang menumpang. Salah satunya membawa dua anak, sedangkan yang satu lagi membawa satu anak. Setelah kejadian itu mereka bingung harus berbuat apa,” ujar pemilik rumah kos, Cari, saat ditemui Selasa (23/6/2026).

Sejak saat itu, kebutuhan makan dan tempat tinggal mereka sebagian besar ditanggung oleh pemilik kos dan warga sekitar yang merasa iba.

Namun bantuan tersebut tentu memiliki batas.

Setiap hari yang berlalu membuat kekhawatiran semakin besar.

Masa Depan yang Ikut Tertahan

Kondisi ketiga anak tersebut juga tidak mudah.

Seorang anak laki-laki baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMK di wilayah Comal. Ia belum mendapatkan pekerjaan dan kini harus menghadapi kenyataan bahwa keluarganya sedang berada dalam situasi sulit.

Sementara dua anak lainnya sudah tidak lagi mengikuti pendidikan formal.

Salah satunya merupakan remaja perempuan berusia 16 tahun yang memiliki keterbatasan perkembangan dan masih membutuhkan pendampingan dalam aktivitas sehari-hari.

“Kondisinya memang membutuhkan perhatian. Yang laki-laki baru lulus sekolah tetapi belum bekerja. Yang perempuan juga membutuhkan pendampingan,” kata Cari.

Di usia ketika anak-anak seharusnya memikirkan sekolah, cita-cita, atau pekerjaan pertama mereka, ketiganya justru harus berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih berat: bagaimana bertahan hidup sampai hari esok.

Perjalanan Seorang Nenek

Beberapa hari setelah peristiwa itu, seorang perempuan lanjut usia datang dari Bogor.

Namanya Lili.

Ia menempuh perjalanan seorang diri setelah mendengar kabar tentang cucu-cucunya.

Di Bogor, kehidupannya sendiri tidak bisa disebut berkecukupan. Ia mengandalkan pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup.

Namun jarak dan keterbatasan ekonomi tidak mampu mengalahkan kegelisahan seorang nenek.

“Saya tidak tega membiarkan mereka sendirian di sini. Di Bogor saya juga tidak punya apa-apa, tetapi saya harus datang demi keamanan mereka,” ujarnya.

Lili mengaku baru mengetahui secara pasti pekerjaan anaknya setelah peristiwa tersebut terjadi.

Menurutnya, tekanan ekonomi menjadi alasan yang mendorong sang anak merantau dan mencari nafkah jauh dari keluarga.

Ia tidak membenarkan pilihan hidup anaknya, tetapi juga tidak mampu mengabaikan kenyataan bahwa kemiskinan sering kali memaksa seseorang mengambil jalan yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya.

“Kalau dia punya penghidupan yang layak, tentu tidak akan memilih jalan seperti itu. Saya sudah sering mengingatkan, tetapi keadaan hidup kadang tidak memberi banyak pilihan,” tuturnya.

Ketika Penertiban Menyisakan Persoalan Baru

Dalam operasi yang digelar Satpol PP Kabupaten Pemalang, sebanyak 23 orang diamankan. Setelah proses pemeriksaan, 17 orang dinyatakan melanggar ketentuan daerah dan dikirim ke lembaga pembinaan sosial.

Dari sisi penegakan aturan, langkah tersebut merupakan bagian dari tugas pemerintah menjaga ketertiban umum.

Namun di balik angka-angka itu, terdapat cerita yang tidak tercatat dalam berita acara pemeriksaan.

Ada tiga anak yang mendadak kehilangan pengasuh.

Ada seorang nenek yang harus meninggalkan kehidupannya demi menjaga cucu-cucunya.

Dan ada masa depan yang kini berdiri di persimpangan.

Peristiwa ini menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar soal penertiban. Bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan? Siapa yang memastikan anak-anak tetap mendapatkan perlindungan? Dan sejauh mana negara hadir ketika dampak sosial mulai muncul setelah sebuah kebijakan dijalankan?

Menunggu Kepastian

Hingga kini, ketiga anak tersebut masih menunggu kepastian.

Mereka menunggu ibu mereka kembali.

Mereka menunggu jawaban atas berbagai pertanyaan yang belum terjawab.

Dan mereka menunggu uluran tangan yang mungkin dapat mengubah arah hidup mereka.

Di sebuah kamar kos sederhana di Desa Losari, penantian itu masih berlangsung.

Sunyi.

Panjang.

Dan belum diketahui kapan akan berakhir.

 

Bagikan: