BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...

Menilik Jembatan Keruhbehet Mlayang: Ambles 6 Bulan, Ribuan Warga Bertaruh Nyawa Setiap Hari

BREBES, Warta Brebes – Sudah enam bulan berlalu sejak Jembatan Keruhbehet di Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, ambles dan miring. Namun hingga pertengahan Juni 2026, belum ada tanda-tanda perbaikan permanen. Padahal, ribuan warga terus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap kali melintasi jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan desa tersebut.

Dari kejauhan, kondisi Jembatan Keruhbehet tampak mengkhawatirkan. Salah satu sisinya turun dan struktur badan jembatan terlihat miring.

Kendaraan roda empat sudah tidak bisa lagi melintas. Warga hanya mengandalkan sepeda motor dan berjalan kaki untuk menyeberang.

Bagi masyarakat Desa Mlayang, jembatan itu bukan sekadar infrastruktur penghubung. Jembatan Keruhbehet menjadi jalur utama yang menghubungkan lima pedukuhan dengan pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik.

Setiap hari, lebih dari 3.000 warga menggantungkan mobilitas mereka pada jembatan yang kini berada di ambang kerusakan lebih parah.

“Warga tidak punya pilihan lain. Kalau tidak lewat sini, aktivitas lumpuh. Kami tahu ini berbahaya dan rawan kecelakaan, tapi mau bagaimana lagi,” ujar Ahmad, salah seorang warga.

Jalur Ekonomi Terancam

Kerusakan jembatan tidak hanya mengganggu aktivitas warga. Distribusi hasil pertanian yang menjadi penopang ekonomi masyarakat juga ikut terdampak.

Petani kesulitan mengangkut hasil panen menggunakan kendaraan roda empat. Biaya transportasi meningkat karena kendaraan harus berhenti di satu sisi jembatan dan barang dipindahkan secara bertahap.

Kondisi tersebut membuat roda perekonomian desa berjalan lebih lambat dibanding sebelumnya.

Perbaikan Darurat Tak Bertahan Lama

Pemerintah Kabupaten Brebes sebenarnya sempat melakukan penanganan darurat ketika jembatan pertama kali ambles pada Desember 2025. Namun langkah itu hanya mampu bertahan sementara.

Tanpa perbaikan menyeluruh, kerusakan terus meluas. Struktur jembatan semakin melemah dan tingkat risiko bagi pengguna jalan ikut meningkat.

Musim hujan yang masih sesekali turun di kawasan selatan Brebes menambah kekhawatiran warga. Mereka khawatir jembatan akan ambruk total sebelum proyek perbaikan dimulai.

Sudah Masuk APBD, Belum Ada Kepastian

Kepala Desa Mlayang, Abdul Khafidz, mengatakan perbaikan Jembatan Keruhbehet sebenarnya sudah masuk dalam alokasi APBD Kabupaten Brebes Tahun 2026.

Namun hingga kini masyarakat belum melihat adanya aktivitas konstruksi di lapangan.

“Kami sudah beberapa kali berkoordinasi dan menyampaikan kondisi ini kepada dinas terkait. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan pekerjaan fisik dimulai,” kata Abdul Khafidz.

Menurutnya, warga mulai kehilangan kesabaran karena kerusakan berlangsung terlalu lama. Padahal jembatan tersebut memegang peran vital bagi kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan Sirampog.

Menunggu Sebelum Terlambat

Setiap hari, sepeda motor terus melintas di atas jembatan yang kondisinya kian mengkhawatirkan. Anak-anak sekolah, petani, pedagang, hingga warga yang hendak berobat terpaksa melewati jalur yang sama.

Mereka tidak memiliki pilihan lain.
Kini harapan masyarakat hanya tertuju pada realisasi anggaran yang sudah dialokasikan pemerintah daerah. Warga mendesak perbaikan segera dimulai sebelum kerusakan bertambah parah dan menimbulkan korban jiwa.

Sebab bagi ribuan warga Mlayang, Jembatan Keruhbehet bukan sekadar penghubung antarpedukuhan. Jembatan itu adalah akses hidup yang hingga hari ini masih mereka lintasi dengan rasa cemas.

Bagikan: