BREBES, Warta Brebes – Material berwarna putih dan cukup pekat ditemukan menempel di lingkungan SMPN Larangan 4, Desa Wlahar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Selasa (8/9/2026).
Material tersebut terlihat menempel di lantai, kaca jendela hingga mebel sekolah. Pihak sekolah menyebut material kembali muncul meski sudah dibersihkan.
Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi ilmiah bahwa material tersebut merupakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Material Putih Muncul di Lingkungan Sekolah
Kepala SMPN Larangan 4 Brebes, Murniasih, mengatakan material yang ditemukan berbeda dengan debu biasa. Warnanya putih dan terlihat cukup pekat.
Material tersebut menempel di sejumlah bagian sekolah. Setelah dibersihkan, material kembali terlihat dalam waktu sekitar 15 menit.
Informasi mengenai kondisi tersebut juga dilaporkan sejumlah media pada Selasa (8/9). Pihak sekolah kemudian meminta bantuan masker kepada Dinas Kesehatan Brebes.
Sejumlah siswa juga dilaporkan mengalami keluhan pada mata dan hidung. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
BMKG: Paper Test di Tegal Negatif
Temuan di SMPN Larangan 4 perlu dibedakan dengan kesimpulan mengenai asal material tersebut.
Dalam press release tertanggal 7 September 2026, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang menyatakan hasil pengamatan menggunakan paper test di Semarang, Cilacap dan Stasiun Meteorologi Maritim Kelas III Tegal seluruhnya negatif.
Dengan hasil tersebut, BMKG menyebut hingga waktu pengamatan belum terdapat indikasi deposisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah.
Debu di Brebes Belum Bisa Disebut Abu Anak Krakatau
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi berdebu di sejumlah wilayah Jawa Tengah tidak dapat langsung disimpulkan sebagai abu vulkanik.
Jawa Tengah sedang menghadapi kondisi musim kemarau yang relatif kering. BMKG mencatat sekitar 24 wilayah berada dalam status awas dengan hari tanpa hujan lebih dari 61 hari.
Kondisi permukaan tanah yang kering membuat material debu lebih mudah terangkat oleh angin maupun aktivitas manusia. Karena itu, material debu yang ditemukan masyarakat belum otomatis merupakan abu vulkanik.
Arah Sebaran Abu Menjauhi Jawa Tengah
Analisis BMKG berdasarkan citra satelit Himawari-9 VA dan peta trajektori sebaran abu vulkanik VAAC Darwin pada 7 September juga menunjukkan pergerakan abu ke arah barat daya menuju Samudera Hindia.
Arah tersebut menunjukkan sebaran abu bergerak menjauhi Jawa Tengah. Analisis angin pada lapisan sekitar 3.000 kaki juga menunjukkan arah umum dari timur ke barat.
BMKG Minta Masyarakat Tidak Menyimpulkan Sendiri
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menentukan sebaran abu vulkanik hanya berdasarkan peta angin dari aplikasi pihak ketiga.
Peta angin hanya menunjukkan pola arah dan kecepatan angin. Informasi mengenai keberadaan, konsentrasi dan jalur sebaran abu membutuhkan analisis berbagai parameter atmosfer serta data pendukung lainnya.
Hingga 7 September 2026, BMKG menyatakan belum terindikasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memasuki Jawa Tengah. Pemantauan tetap dilakukan karena kondisi atmosfer dapat berubah.
Material di SMPN Larangan 4 Masih Perlu Dipastikan
Dengan demikian, ada dua fakta yang perlu dipisahkan. Pertama, material putih memang ditemukan di lingkungan SMPN Larangan 4 pada 8 September.
Kedua, asal material tersebut sebagai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum terkonfirmasi secara ilmiah.
Karena itu, penyebutan material tersebut sebagai “abu Anak Krakatau” sebaiknya masih menggunakan atribusi dan tidak ditulis sebagai kesimpulan final. Konfirmasi lebih lanjut dari instansi teknis atau hasil pemeriksaan sampel diperlukan untuk memastikan jenis material tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan informasi dari kanal resmi pemerintah, termasuk BMKG, PVMBG/Badan Geologi dan instansi terkait.

























