Gerombolan kera mendekati permukiman, warga waswas saat sendirian di kebun
BREBES,Warta Brebes — Hutan di perbatasan Bantarkawung dan Kosambi mulai mengering. Pepohonan yang biasa berbuah lebat kini meranggas. Air mengalir semakin jauh ke dalam. Di sanalah, di antara ranting-ranting yang mulai gundul, sekawanan kera menatap ke arah lain. Ke arah kebun-kebun warga. Ke arah desa.
Kemarau yang masih berlangsung diduga membuat persediaan makanan di habitat kera menipis. Kondisi itu memicu gerombolan kera yang menghuni kawasan hutan Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, turun ke kebun warga untuk mencari makan. Serangan itu mulai warga rasakan sekitar satu bulan terakhir.
Tidak hanya merusak tanaman buah dan palawija, beberapa ekor kera bahkan mulai berani mendekati lingkungan permukiman. Singkong, pisang, jagung, kelapa, hingga nangka menjadi sasaran. Mereka datang berkelompok. Bisa muncul pagi, siang, sore, bahkan malam.
Lima sampai Sepuluh Ekor Sekali Datang
Junaidi, 39, warga Dukuh Kertabasa, Desa Galuhtimur, mengatakan kemunculan gerombolan kera kini semakin sering. Dalam sekali kemunculan, jumlahnya bisa mencapai lima hingga sepuluh ekor.
“Kalau datang bergerombol, bahkan seperti sudah tidak takut dengan manusia,” ungkap Junaidi, Kamis (10/9).
Kondisi itu membuat warga yang tengah beraktivitas di kebun merasa khawatir. Kera tidak hanya datang untuk mencari makan. Mereka semakin berani mendekati warga.
“Pokoknya setiap saat bisa datang gerombolan kera. Karena jumlahnya lumayan banyak, warga kadang juga takut kalau sendirian di kebun. Terus terang serangan monyet tersebut sudah meresahkan,” tuturnya.
Makanan di Habitat Menyusut
Kepala Desa Galuhtimur, Subandi, mengatakan serangan kera terhadap kebun warga diduga terjadi karena ketersediaan makanan di habitatnya semakin berkurang. Kondisi itu diperkirakan kian parah seiring kemarau yang belum juga usai.
“Terlebih sekarang kemarau masih berlangsung, sehingga ketersediaan makanan di habitatnya juga menyusut,” ucap Kades.
Subandi menjelaskan, keberadaan kera liar sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Galuhtimur. Desa itu berbatasan langsung dengan kawasan hutan lebat di wilayah Bantarkawung dan Kosambi, Kabupaten Tegal. Warga cukup sering menjumpai kera ketika beraktivitas di sekitar kawasan hutan.
Namun perilaku gerombolan kera kali ini dinilai berbeda. Satwa itu semakin berani keluar dari habitatnya, menyasar kebun, hingga masuk ke lingkungan permukiman demi mendapatkan makanan.
“Sedikitnya tiga wilayah pedukuhan menjadi lokasi yang kerap didatangi gerombolan kera selama musim kemarau. Yakni Dukuh Makamdawa, Kertabasa, dan Galuhtimur II,” jelasnya.
Warga Diminta Berhati-hati
Meski hingga kini belum ada laporan warga yang terserang langsung, keberanian kera mendekati permukiman perlu diwaspadai. Pemerintah desa mengimbau warga, terutama yang beraktivitas di kebun, agar lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan gerombolan kera.
Di Galuhtimur, kemarau bukan hanya soal air yang menjauh dari sumur. Ia juga soal batas antara hutan dan kampung yang kian kabur. Ketika alam kehilangan persediaannya, penghuninya mencari jalan lain. Dan jalan itu, kali ini, melewati kebun-kebun warga.

























