BREBES, Warta Brebes – Di ujung Gang Sarkawi, Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, ada sebuah rumah yang lampunya tak pernah benar-benar padam. Setiap malam, seorang ayah duduk di beranda, menatap gelapnya jalan kampung. Telinganya tajam mendengar setiap suara kendaraan yang melintas. Matanya tak lepas dari layar telepon genggam yang tak kunjung berbunyi. Ia menunggu kabar tentang anaknya—Farel Raf’i Putratama, taruna Polimarin yang hilang di perairan Masalembo.
KM Virgo Transport 8 yang membawa Farel dilaporkan tenggelam pada Minggu dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. Kapal itu berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Sejak saat itu, nama Farel menjadi doa yang tak henti diucapkan, menjadi nama yang disebut dalam setiap sujud, menjadi harapan yang terus digenggam meski waktu terus berlalu.
Ketika Kabar Itu Tiba
Agung Triono, ayah Farel, pertama kali menerima kabar tentang insiden tersebut setelah kapal berada di sekitar perairan Masalembo. Kabar itu datang seperti pukulan yang tak pernah ia bayangkan.
Sejak saat itu, ia hidup dalam ketidakpastian—sebuah ruang abu-abu antara harapan dan kepasrahan. “Dari pertama mendapatkan informasi itu dan sampai sekarang belum ada konfirmasi yang benar-benar memberikan kepastian mengenai keberadaan anak kami,” tutur Agung Triono, ayah Farel
Kalimat itu keluar dengan suara yang berat, seperti beban yang tak sanggup lagi ditahan. Setiap kata mengandung kerinduan yang tak terucap, ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
DNA: Ketika Harapan Dititipkan pada Setetes Darah
Di tengah ketidakpastian, keluarga Farel melakukan satu hal yang bisa mereka lakukan: menyerahkan sampel DNA kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Penyerahan dilakukan di Tanjung Perak. Data itu kemudian juga disampaikan kepada tim DVI di Kalimantan dan Jawa Timur agar bisa tersinkron.
“Kami sudah menyerahkan DNA di Tanjung Perak. Data juga sudah diserahkan kepada tim DVI Kalimantan dan Jawa Timur agar bisa tersinkron.”
Ada kegetiran dalam langkah itu. Menyerahkan DNA berarti bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun bagi Agung, itu adalah bentuk tanggung jawab terakhir seorang ayah—memastikan bahwa jika anaknya ditemukan, ia bisa dikenali, bisa dipulangkan, bisa dimakamkan dengan layak.
Perjalanan Seorang Anak yang Mendunia
Farel bukanlah pelaut biasa. Meski baru sekitar satu pekan bergabung dengan KM Virgo Transport 8, ia telah menempuh perjalanan panjang di dunia pelayaran.
Ia pernah berlayar dengan kapal berbendera China. Ia pernah menjejakkan kaki di Singapura, Papua Nugini, hingga Afrika. Ia bahkan pernah mengikuti pendidikan dengan beasiswa di China.
“Dia baru bergabung dengan kapal Virgo sekitar satu mingguan. Sebelumnya, dia juga sudah pernah berada di luar negeri dengan kapal China. Selain China, dia juga pernah melaut ke negara lainnya seperti Singapura, Papua Nugini hingga Afrika,” lanjut Agung Triono
Bagi keluarga, pengalaman itu adalah kebanggaan. Farel adalah anak desa yang berani menantang samudra, yang memilih jalan hidup di atas gelombang. Ia mengejar cita-cita yang mungkin tak terbayangkan oleh banyak orang di kampungnya.
Pada malam sebelum kejadian, Farel sempat menghubungi istrinya. Ia menyampaikan bahwa kapal sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin. Suara itu—suara terakhir yang terekam dalam ingatan—kini menjadi harta yang paling berharga.
“Pada malam sebelum kejadian, dia sempat menelepon istrinya. Waktu itu barangkali dia menyampaikan bahwa hari itu perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin.”
Harapan yang Tak Mau Pergi
Di tengah segala ketidakpastian, Agung masih menyimpan harapan. Ia percaya bahwa mungkin—hanya mungkin—anaknya masih hidup. Mungkin Farel diselamatkan nelayan yang tak dikenal. Mungkin ia berada di suatu tempat, menunggu kabar, menunggu pertolongan.
“Kami masih berharap. Bisa saja ada yang tertolong tetapi belum terdata, atau diselamatkan nelayan lain tetapi informasinya belum sampai.”
Harapan itu mungkin tipis. Namun bagi seorang ayah, harapan adalah satu-satunya yang tersisa. Ia tak ingin kehilangan itu.
“Yang ingin kami tekankan, kami sebagai orang tua ingin ada titik terang secepatnya. Kami berharap teman-teman Basarnas bisa melakukan tindakan yang signifikan sehingga ada kejelasan.”
Keluarga juga berharap Pemerintah Kabupaten Brebes dan pihak sekolah tempat Farel menempuh pendidikan ikut berkoordinasi secara aktif dengan Basarnas maupun instansi terkait. Mereka tak ingin ditinggal sendiri dalam ketidakpastian ini.
Seruan dari Gang Sarkawi
Agung memohon kepada siapa pun yang mengetahui informasi tentang keberadaan Farel untuk segera menghubungi keluarga. Farel adalah warga Desa Tegalglagah RT 01/RW 02, Gang Sarkawi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.
“Kami mohon rekan awak media dan masyarakat membantu menyebarkan kabar ini. Semoga Farel segera ditemukan dalam keadaan selamat,” kata Agung penuh harap.
Hingga Sabtu (19/9/2026), keluarga masih menunggu. Di rumah kecil di Gang Sarkawi, kursi di ruang tamu masih kosong. Sepiring makanan masih disiapkan, meski tak ada yang menyantapnya. Dan doa—doa yang tak pernah putus—terus naik ke langit, menembus awan, mencari jawaban atas pertanyaan yang paling menyayat: di mana anakku?
























