BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...

Empat Bendung Rusak, Hampir 1.000 Hektare Sawah di Brebes Selatan Terancam Kekeringan

BREBES, Warta Brebes – Kerusakan empat bendung di wilayah selatan Kabupaten Brebes menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian. Menjelang musim kemarau, petani mulai khawatir karena pasokan air irigasi untuk sekitar 993 hektare sawah terancam terganggu.

Empat bendung yang rusak meliputi Bendung Notog di Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu, Bendung Kedungdinding dan Bendung Kedungjembat di Desa Pruwatan, Kecamatan Bumiayu, serta Bendung Kembang di Desa Benda, Kecamatan Sirampog.

Kerusakan tersebut membuat fungsi bendung sebagai pemasok air irigasi tidak berjalan maksimal. Akibatnya, ribuan petani mulai dihantui ancaman gagal tanam saat musim kemarau tiba.

Bendung Notog Rusak Sejak 2017

Bendung Notog yang memasok kebutuhan air bagi 243 hektare sawah rusak sejak 2017. Pada tahun yang sama, Bendung Kedungdinding yang mengairi sekitar 80 hektare lahan pertanian juga mengalami kerusakan.

Sementara itu, Bendung Kedungjembat yang menopang kebutuhan air untuk sekitar 100 hektare sawah rusak sejak 2022.

Kerusakan paling baru terjadi di Bendung Kembang, Desa Benda, Kecamatan Sirampog. Banjir besar pada akhir 2025 merusak bendung yang selama ini mengairi sekitar 570 hektare sawah.

Jika dijumlahkan, luas lahan yang bergantung pada empat bendung tersebut mencapai sekitar 993 hektare.

Petani Kesulitan Mendapat Air Saat Kemarau

Kepala Desa Pruwatan, Rasiman, mengatakan kerusakan Bendung Kedungdinding dan Bendung Kedungjembat membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air.

Menurut dia, banyak sawah tidak dapat digarap ketika musim kemarau datang. Sebagian lahan bahkan terpaksa dibiarkan kosong karena petani tidak memiliki sumber air alternatif.

“Kalau kemarau, banyak lahan terbengkalai karena petani kesulitan mendapatkan air. Sungai lokasinya jauh, sementara debit air juga ikut turun saat musim kemarau,” kata Rasiman.

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki bendung yang rusak agar petani dapat kembali menggarap sawah secara normal.

UPT Pengairan Akui Kerusakan Cukup Parah

Pelaksana Tugas UPT Pengairan Pemali Hulu, Joko Pranoto, membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, arus banjir yang deras merusak struktur bangunan sehingga fungsi bendung terganggu.

“Empat bendung itu memang rusak parah. Kami sudah mengusulkan perbaikannya,” ujar Joko.

Joko berharap pemerintah dapat segera merealisasikan usulan tersebut karena kebutuhan air akan meningkat ketika musim kemarau berlangsung.

DPRD Minta Dinas Jangan Bosan Cari Anggaran

Anggota DPRD Brebes, Sudono, menilai kerusakan bendung di Brebes selatan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani.

Ia mengakui kemampuan anggaran daerah masih terbatas. Karena itu, pemerintah daerah perlu terus mencari dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

“Ini memang masih menjadi pekerjaan rumah. Kondisi anggaran daerah juga terbatas,” kata Sudono.

Meski demikian, ia meminta dinas terkait tidak berhenti mengajukan proposal bantuan.

“Jangan pernah bosan mengusulkan anggaran perbaikan,” tegasnya.

Musim Kemarau Membuat Perbaikan Kian Mendesak

Keberadaan bendung memegang peranan penting bagi pertanian di Brebes selatan. Tanpa pasokan air yang cukup, produktivitas sawah dapat menurun dan mengancam pendapatan petani.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat mempercepat perbaikan empat bendung tersebut sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.

Bagikan: