BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...

Fatty Liver Gen Z: Bahaya Kopi Susu Kekinian Terungkap

JAKARTA, Warta Brebes— Gaya hidup Generasi Z (Gen Z) yang akrab dengan kedai kopi kini memunculkan ancaman kesehatan serius.

Kebiasaan mengonsumsi es kopi susu kekinian, yang kerap menjadi teman saat belajar atau bersantai, ternyata berisiko tinggi memicu perlemakan hati atau fatty liver.

Kandungan gula, susu full cream, dan krimer berlebih dalam minuman ini menjadi biang keladi utama yang memperberat kerja organ hati.

Organ hati memiliki fungsi untuk mengubah kelebihan gula menjadi lemak. Namun, ketika asupan gula berlebihan terus-menerus, ditambah dengan lemak jenuh dari susu dan krimer, kinerja hati akan terbebani. Kondisi ini dapat berkembang menjadi fatty liver, sebuah kondisi di mana lemak menumpuk di dalam hati secara tidak normal.

Pemanis dan Krimer Pemicu Utama Fatty Liver

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada kopi murni itu sendiri, melainkan pada bahan tambahan yang dicampurkan.

“Yang menjadi masalah adalah tambahan-tambahannya. Entah itu krimernya, gulanya, atau jenis gulanya. Kadang tidak pakai glukosa, melainkan pemanis seperti maple syrup atau fruktosa, yang justru meningkatkan risiko fatty liver,” jelas dr. Dicky dalam sebuah pertemuan di Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Dr. Dicky menyoroti perbedaan mencolok antara kebiasaan minum kopi di luar negeri dan di Indonesia. Riset yang dilakukan sekitar 25 tahun lalu menunjukkan bahwa konsumsi kopi di luar negeri justru dapat menurunkan risiko diabetes.

Namun, di Indonesia, fenomena sebaliknya terjadi. “Kalau di luar negeri orang minum kopi risiko diabetesnya turun. Tapi kalau di Depok tidak, orang minum kopi diabetesnya naik,” ungkapnya.

Faktor penentu utama dari kenaikan risiko penyakit ini adalah pemilihan jenis sajian kopi yang cenderung didominasi oleh pemanis tambahan.

“Ternyata minum kopinya adalah kopi manis, kopi sachet. Kalau saya menyebutnya itu air gula rasa kopi. Makanya, jangan salahkan minum kopinya, yang salah adalah pemanisnya dan aditif lainnya,” tegas dr. Dicky.

Tren “Less Sugar” Belum Sepenuhnya Solusi

Meskipun tren pengurangan takaran gula atau “less sugar” mulai diadopsi oleh beberapa produsen minuman, tingkat kemanisan yang masih tergolong tinggi pada banyak produk tetap menjadi perhatian.

Definisi “less sugar” yang bervariasi membuat konsumen sulit mengukur asupan gula sebenarnya. “Definisi less sugar ini kan kita tidak tahu. Kadang less sugar itu manis banget, loh, less sugar-nya,” tutupnya.

Oleh karena itu, Gen Z perlu lebih cermat dalam memilih minuman kopi mereka. Memahami dampak dari pemanis dan krimer tambahan dapat menjadi langkah awal untuk melindungi kesehatan hati dan mencegah risiko fatty liver di usia muda. Perubahan kecil dalam kebiasaan konsumsi dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

Bagikan: