BREBES, Warta Brebes — Desa Kalinusu di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, menyimpan sejarah panjang yang jarang diketahui banyak orang. Di balik hamparan sawah, hutan, dan aliran Sungai Pemali, desa ini menyimpan jejak sejarah dan legenda Kerajaan Galuh, Padjajaran hingga kisah perjuangan para pejuang kemerdekaan.
Nama Desa Kalinusu sendiri menyimpan cerita unik. Warga meyakini nama itu berasal dari dua kata, yakni “kali” yang berarti sungai dan “nusu” yang berarti menyusui. Dari penuturan turun-temurun, Kalinusu dimaknai sebagai “sungai yang menghidupi”.
Makna itu dianggap menggambarkan kondisi desa sejak dahulu. Banyak pendatang datang ke wilayah tersebut untuk membuka lahan, bertani, hingga mencari penghidupan baru di kawasan yang dikenal subur itu.
Desa Kalinusu berada sekitar 7 kilometer dari pusat Kecamatan Bumiayu. Wilayahnya dilintasi Sungai Keruh dan Sungai Pemali. Dengan luas mencapai 3.268 hektare lebih, Kalinusu menjadi desa terluas di Kabupaten Brebes.
Jejak Kerajaan Galuh dan Pajajaran di Kalinusu
Cerita sejarah Desa Kalinusu tak bisa dilepaskan dari nama Dukuh Kutagaluh. Nama itu diyakini berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Galuh Purba yang konon pernah berkembang di lereng Gunung Slamet sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi.
Sebagian tokoh masyarakat meyakini kawasan tersebut menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah pada masa kerajaan Sunda kuno.
Tak sedikit pula yang menyebut kawasan itu memiliki kaitan dengan cikal bakal Kerajaan Galuh Sunda hingga Pajajaran. Meski belum memiliki bukti arkeologis kuat, cerita tersebut terus hidup di tengah masyarakat hingga sekarang.
Hutan Kalinusu yang luasnya mencapai sekitar 1.850 hektare juga dikenal sebagai kawasan strategis sejak zaman dahulu. Letaknya yang berada di jalur perlintasan pegunungan membuat wilayah ini sering digunakan sebagai tempat persembunyian dan pertahanan.
Kalinusu Jadi Basis Gerilya Pejuang Kemerdekaan
Selain dikenal lewat legenda kerajaan kuno, Kalinusu juga memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Warga menyebut kawasan hutan Kalinusu pernah menjadi basis gerilya para pejuang saat Perang Diponegoro, perang kemerdekaan 1945, hingga masa pemberontakan DI/TII.
Kontur wilayah yang dipenuhi perbukitan dan hutan lebat membuat daerah ini sulit dijangkau musuh pada masa perang.
Hingga kini, beberapa kawasan di Kalinusu masih kerap digunakan sebagai lokasi latihan militer karena medannya dinilai strategis.
Ki Suradipa, Peletak Dasar Kehidupan Kalinusu
Tokoh penting lain dalam sejarah Kalinusu adalah Ki Suradipa. Ia dikenal sebagai tokoh petani sekaligus ulama yang hidup sekitar awal abad ke-20.
Ki Suradipa disebut memimpin pembangunan saluran irigasi sepanjang sekitar 7 kilometer pada tahun 1917 bersama warga setempat.
Irigasi tersebut mengairi ratusan hektare sawah warga dan membuat Kalinusu dikenal sebagai salah satu lumbung beras penting di wilayah Brebes selatan.
Karena hasil pertaniannya melimpah, Kalinusu bahkan sempat dijuluki sebagai “desa tempuran”, atau tempat warga desa lain membeli beras.
Selain sejarah kerajaan dan perjuangan, Kalinusu juga dikenal memiliki tradisi budaya yang masih bertahan hingga sekarang.
Salah satunya tradisi Muludan yang digelar setiap malam 12 Rabiul Awal. Tradisi itu dipusatkan di area makam Ki Suradipa.
Acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, sesepuh desa, hingga warga dari berbagai dukuh di Kalinusu.
Tradisi itu bukan hanya menjadi bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pengingat agar masyarakat tetap menjaga pertanian dan kehidupan sosial sesuai nilai-nilai Islam.
Kini, Desa Kalinusu memiliki 13 pedukuhan, mulai dari Kedungkandri, Kutagaluh, Karanganyar, Sitireja, hingga Maribaya.
Meski dikenal memiliki sejarah panjang dan potensi alam besar, warga berharap pembangunan infrastruktur di Kalinusu terus ditingkatkan, terutama akses jalan dan jalur distribusi hasil pertanian yang masih terbatas di sejumlah titik.






