JAKARTA, Warta Brebes — Pasar surat utang Indonesia menunjukkan geliat positif pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Investor membanjiri pasar, mendorong kenaikan harga obligasi secara signifikan. Akibatnya, imbal hasil (yield) di berbagai tenor terpantau mengalami penurunan tajam.
Seperti dilansirr Bloomberg, tercatat tenor 3 tahun menjadi yang paling merasakan dampak positif ini. Yield-nya merosot 4,8 basis poin (bps) menjadi 7,04%. Tenor 4 tahun juga mengikuti dengan penurunan 1,4 bps ke 7,16%, sementara tenor 1 tahun menguat 2,1 bps ke level 6,8%. Tren penurunan ini berlanjut pada tenor yang lebih panjang.
Yield acuan surat utang negara (SUN) turun 1,4 bps ke angka 7,4%. Bahkan, tenor 12 tahun mengalami pemangkasan yield tipis sebesar 0,3 bps hingga menyentuh 7,41%. Meskipun demikian, kenaikan yield pada tenor 13 tahun sebesar 12,8 bps ke 7,42% dan tenor 11 tahun naik 2,1 bps ke 7,41% mengindikasikan adanya pergerakan yang bervariasi di tenor panjang.
Pergerakan yield ini mengindikasikan permintaan obligasi yang masih kuat. Sentimen pasar keuangan global yang cenderung berhati-hati justru menjadi katalisator positif bagi pasar domestik. Ditambah lagi, penurunan yield US Treasury turut memberikan dorongan signifikan. Yield US Treasury terpangkas 2,5 bps menjadi 5,08%, sebelumnya sempat berada di 5,11%.
Pergerakan positif ini menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap surat utang Indonesia. Hal ini dapat menjadi sinyal baik bagi pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global. Investor melihat peluang keuntungan dari instrumen yang relatif aman ini.
























