BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Kemarau Panjang di Brebes, Kawanan Kera Liar Serbu Permukiman di Tonjong

BREBES, Warta Brebes – Musim kemarau yang berkepanjangan diduga memicu kawanan kera liar keluar dari habitatnya di kawasan hutan Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Satwa liar tersebut kini tidak hanya merusak tanaman pertanian, tetapi juga mulai memasuki permukiman warga untuk mencari makanan.

Fenomena kemunculan kera liar ini bukan hal baru saat musik kemarau berlangsung. Warga Galuhtimur mengaku hampir setiap hari melihat gerombolan kera berkeliaran di sekitar kebun hingga lingkungan permukiman.

Berbagai tanaman pertanian seperti singkong, jagung, pisang, kelapa, nangka, dan aneka sayuran menjadi sasaran. Bahkan, sebagian kera terlihat semakin berani berinteraksi dengan manusia.

Heru (39), warga Dukuh Makamdawa, mengatakan kawanan kera kini datang tanpa mengenal waktu. Satwa liar itu dapat muncul pada pagi, siang, sore, hingga malam hari dengan jumlah lima sampai sepuluh ekor dalam satu kelompok.

“Kalau datang bergerombol, bahkan seperti sudah tidak takut dengan manusia,” ujar Heru, kemarin.

Menurut dia, warga kini tidak hanya khawatir tanaman di kebunnya rusak, tetapi juga merasa waswas ketika harus bekerja seorang diri di lahan pertanian.

“Pokoknya setiap saat bisa datang gerombolan monyet. Karena jumlahnya yang lumayan banyak, warga kadang juga takut kalau sendirian di kebun. Terus terang serangan monyet tersebut sudah meresahkan,” tuturnya.

Kemarau Memicu Kera Liar Keluar dari Habitatnya

Kepala Desa Galuhtimur, Subandi kepada wartawan mengatakan jika kemarau panjang biasanya menjadi penyebab utama berubahnya perilaku kawanan kera liar tersebut. Berkurangnya ketersediaan pakan alami di kawasan hutan memaksa satwa mencari makanan hingga ke lahan pertanian dan permukiman penduduk.

“Kalau kemarau, sehingga ketersediaan makanan di habitatnya juga menyusut, jadi turun ke desa” katanya.

Bagu masyarakat Desa Galuhtimur, sebenarnya sudah terbiasa melihat kawanan kera karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan kawasan hutan lebat di Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, serta wilayah Kosambi, Kabupaten Tegal.

Diantara tiga wilayah yang paling sering didatangi kawanan kera selama musim kemarau adalah Dukuh Makamdawa, Dukuh Kertabasa, dan Dukuh Galuhtimur II.

Tidak Hanya Rusak Kebun, Kera Liar Juga Rampas Makanan Warga

Pada saat kondisi kemarau ekstrem, gangguan dari kawanan kera liar tidak lagi sebatas merusak tanaman pertanian. Dalam beberapa kejadian, satwa tersebut mulai merebut makanan yang dibawa warga.

Seorang pedagang makanan keliling bahkan sempat kehilangan dagangannya setelah diserbu kawanan kera. Selain itu, sejumlah warga yang melintas sambil membawa makanan juga mengalami kejadian serupa.

Hingga saat ini belum ada laporan warga yang mengalami luka akibat serangan kera liar. Meski demikian, pemerintah desa mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di kebun maupun membawa makanan di sekitar permukiman.

Kemarau dan Berkurangnya Pakan Dapat Mengubah Perilaku Satwa Liar

Sementara itu, fenomena satwa liar yang keluar dari habitatnya pada musim kemarau bukanlah hal baru. Berkurangnya ketersediaan air dan pakan alami kerap memaksa sejumlah satwa mendekati permukiman manusia.

Dilansir dari berbagai publikasi konservasi satwa liar, perubahan penggunaan lahan, degradasi habitat, serta tekanan ekologis akibat musim kemarau dapat meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Kondisi tersebut membuat satwa mencari sumber makanan alternatif yang lebih mudah diperoleh di sekitar permukiman.

Karena itu, masyarakat jangan memberi makan kawanan kera secara langsung. Juga harus mengamankan bahan makanan ketika beraktivitas di kebun maupun di lingkungan permukiman guna mengurangi potensi interaksi dengan satwa liar.

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso