BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

35 Warga Rowobelang Batang Alami Gejala Usai Santap PMT Posyandu

BATANG, Warta Brebes| Sebanyak 35 warga Rowobelang Batang mengalami mual, muntah, diare hingga demam setelah mengonsumsi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam kegiatan Posyandu.

Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat 40 orang mengonsumsi makanan tersebut. Dari jumlah itu, 35 orang mengalami gejala. Lima orang lainnya tetap sehat.

Data tersebut Dinkes catat hingga Selasa (22/9/2026) pukul 13.00 WIB.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang dr. Ida Susilaksmi mengatakan petugas masih memantau kondisi para warga Rowobelang Batang yang mengalami keluhan.

“Yang pada saat datang itu paling parah, alhamdulillah sudah menunjukkan perbaikan,” kata Ida, Selasa (22/9/2026).

Menurut Ida, pasien tersebut masih mengeluhkan mual dan pusing. Namun, kondisi umumnya sudah aman.

“Masih ada mual-mual, masih ada pusing, tetapi secara umum sejauh ini aman,” ujarnya.

35 Warga Rowobelang Batang Mengalami Gejala

Dari 35 warga yang mengalami gejala, dua orang masih menjalani rawat inap. Sembilan orang menjalani observasi di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Sementara itu, 24 warga mendapat penanganan sebagai pasien rawat jalan.

Petugas Puskesmas Batang 3 juga membuka pelayanan di Musala Al-Ikhlas, RT 02/RW 02, Desa Rowobelang.

Tim medis menangani warga dengan keluhan ringan di lokasi tersebut. Petugas juga merujuk warga yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit.

Ida mengatakan petugas masih memantau sembilan pasien di IGD. Jika kondisi membaik setelah mendapat obat dan cairan infus, pasien dapat melanjutkan perawatan dari rumah.

“Kalau setelah diberi obat, infus, dan sebagainya membaik, nanti bisa dilakukan rawat jalan,” jelas Ida.

Dinkes juga melakukan penelusuran dari rumah ke rumah. Langkah ini bertujuan menemukan warga lain yang mungkin ikut mengonsumsi PMT.

RSUD Batang Tangani 21 Pasien

Sebelumnya, RSUD Batang menerima 21 pasien dengan dugaan intoksikasi atau keracunan. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Batang dr. Feria Kurniawati menyampaikan data tersebut pada Selasa pagi.

Feria menyebut 14 pasien merupakan orang dewasa. Tujuh pasien lainnya merupakan anak-anak.

Pasien mulai datang ke RSUD Batang sejak dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, warga dengan keluhan serupa sudah berdatangan.

“Beberapa juga baru datang dengan keluhan-keluhan utamanya adalah muntah-muntah dan berak cair,” ujar Feria.

Sejumlah pasien mengalami dehidrasi. Tim medis kemudian memberikan cairan dan melakukan observasi sesuai kondisi masing-masing pasien.

Kepala Instalasi IGD RSUD Batang dr. Hifna Handrianingrum mengatakan keluhan pasien relatif sama.

“Komplit dengan keluhannya hampir sama ya, mual, muntah, diare, demam,” kata Hifna.

Hifna menjelaskan, dokter menentukan kebutuhan rawat inap berdasarkan kondisi pasien. Pasien yang lemas, mengalami demam tinggi, atau tidak mampu minum obat karena muntah dapat menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurut Hifna, pasien yang mengalami dehidrasi masih berada dalam kategori sedang. Petugas belum menemukan pasien dengan dehidrasi berat.

Jadwal Posyandu Rowobelang Mundur ke Sore

Camat Batang Luksono Pramudito mengatakan kegiatan Posyandu Mawar di RT 1 dan RT 2/RW 2, Desa Rowobelang, awalnya berlangsung pada Senin pagi.

Namun, warga menggeser kegiatan tersebut ke sore karena ada warga desa yang meninggal dunia.

Persoalannya, kader sudah memasak menu PMT sejak pagi.

“Kegiatan Posyandu yang seharusnya dilaksanakan Senin pagi diundur ke sore hari karena ada warga yang meninggal dunia. Namun, menu PMT tersebut sudah dimasak sejak pagi hari,” kata Luksono.

Menu PMT terdiri atas bubur kacang hijau, tahu bacem, dan roti tawar. Dana Desa membiayai makanan tersebut. Kader kesehatan desa kemudian mengelola dan menyajikannya.

Menurut informasi yang diterima RSUD Batang, kegiatan yang semula dijadwalkan sekitar pukul 09.00 WIB itu mundur hingga sore.

Sebagian warga kemudian mengonsumsi makanan sekitar pukul 17.00 WIB.

Keluhan mulai muncul pada Senin malam. Warga melaporkan mual, muntah, pusing, diare hingga demam.

Salah seorang warga, Sri Kadariyah (48), mengatakan putrinya mulai mengalami keluhan sekitar pukul 23.30 WIB.

“Sekitar jam 11.30, terasa mual, muntah, kepalanya pusing. Sampai sekarang masih mual, muntah,” kata Sri.

Warga lain, Tri Pujiono, juga membawa ibunya ke rumah sakit. Ia mengatakan ibunya mulai sakit sekitar tengah malam setelah mengonsumsi makanan dari kegiatan Posyandu.

“Waktu dimakan tadi malam, sekitar jam 12-an malam terasa sakit, mual, muntah sampai diare, bahkan sampai terjadi pingsan,” kata Tri di IGD RSUD Batang.

Penyebab Warga Rowobelang Batang Masih Diteliti

Dinas Kesehatan Kabupaten Batang belum menetapkan penyebab keluhan yang dialami warga.

Petugas mengambil sampel makanan yang dikonsumsi warga. Tim medis juga mengambil sampel muntahan pasien untuk pemeriksaan laboratorium.

Feria menegaskan, rumah sakit belum dapat memastikan makanan PMT menjadi penyebab keluhan warga.

“Hasil lab untuk sampel makanannya tadi sudah dibawa ke Dinas Kesehatan. Kemudian dari Dinas Kesehatan juga tadi koordinasi sudah datang ke sini untuk mengambil sampel, muntahan pasien juga sudah diambil,” ujarnya.

Ida juga menegaskan hal serupa. Dinkes masih menjalankan penyelidikan epidemiologi sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel.

“Kalau penyebab pastinya belum tahu. Nanti dari hasil sampel,” kata Ida.

Karena itu, hubungan antara PMT dan keluhan warga Rowobelang Batang masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Pemerintah belum dapat menyatakan makanan tersebut sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan keluar.

Perawatan Warga Ditanggung Pemkab Batang

Di tengah penanganan kasus tersebut, Pemkab Batang memastikan warga terdampak mendapat pelayanan kesehatan tanpa biaya.

Ida mengatakan pemerintah daerah menanggung biaya perawatan warga yang berkaitan dengan kejadian tersebut.

“Penanganan untuk kasus keracunan ini gratis. Pemda menanggung seluruh biaya perawatan untuk kasus ini,” katanya.

Petugas masih memantau kondisi warga, termasuk mereka yang menjalani rawat jalan.

Dinkes juga melanjutkan penelusuran dari rumah ke rumah sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Dengan demikian, perhatian pemerintah saat ini tidak hanya tertuju pada warga yang sudah menjalani perawatan. Petugas juga mencari kemungkinan warga lain yang mengalami gejala setelah mengonsumsi PMT.

Penulis: Wasis Waseso | Editor: Wasis Waseso