BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Dari PKBM ke Senayan: Kisah Fadhil Aziz Turmudi, Remaja Parlemen 2026 dari Brebes

BREBES, Warta Brebes| Bagi sebagian orang, pendidikan nonformal kerap dipandang sebelah mata. Fadhil Aziz Turmudi membuktikan pandangan itu keliru. Remaja asal Brebes ini lolos sebagai Remaja Parlemen 2026 setelah bersaing dengan sekitar 18.000 peserta.

Ada cerita membanggakan yang datang dari Pedukuhan Sigempol, Desa Randusanga Kulon RT 04/RW III, Kecamatan/Kabupaten Brebes. Namanya Fadhil Aziz Turmudi. Remaja yang akrab disapa Fadhil ini berhasil melenggang ke Senayan sebagai Remaja Parlemen 2026.

Ia akan mengikuti program tersebut pada 28 September 2026. Yang membuat kisahnya istimewa, Fadhil bukan berasal dari sekolah formal. Ia menempuh pendidikan melalui PKBM Trimulya Pratama Songgom, Brebes—sebuah lembaga pendidikan nonformal. Bahkan, saat mengikuti seleksi, statusnya adalah siswa Kejar Paket C.

Jalan menuju Senayan tidak ia lalui secara instan. Proses seleksi berlangsung sejak 22 Juni hingga 1 September 2026. Dari sekitar 18.000 peserta, Fadhil berhasil lolos. Ia pun menjadi satu-satunya perwakilan Kabupaten Brebes.

“Lolos Program Parlemen Remaja adalah prestasi terbaru dan paling berkesan bagi saya,” ujar Fadhil saat berbincang dengan penulis di Gedung DPRD Kabupaten Brebes, Selasa (22/9/2026).

Ikhtiar dari Jalur Nonformal

Bagi Fadhil, keberhasilan ini bukan sekadar torehan prestasi. Ada makna mendalam yang ia rasakan, terutama karena ia menempuh pendidikan lewat jalur nonformal. Di tengah perjalanan itulah, kesempatan lolos sebagai Remaja Parlemen 2026 menjadi energi baru bagi dirinya.

Ia mengaku program ini memberinya ruang untuk memperluas wawasan tentang parlemen, demokrasi, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Lewat pengalaman tersebut, Fadhil belajar memahami peran generasi muda dalam kehidupan publik dan politik.

Dalam proses pendaftaran, Fadhil melampirkan sekitar 20 sertifikat dari berbagai kegiatan dan prestasi yang pernah diraihnya. Sertifikat itu bukan syarat wajib dari penyelenggara, melainkan bagian dari berkas pendaftaran yang ia sertakan sebagai rekam jejak.

“Dari 20 sertifikat, Alhamdulillah telah menunjukkan rekam jejak kegiatan dan pencapaian yang telah saya bangun melalui berbagai bidang. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari persiapan dalam mengikuti proses seleksi Parlemen Remaja,” terang remaja kelahiran Tegal, 15 Maret 2010, itu.

Bukan Nama Baru di Dunia Prestasi

Fadhil ternyata sudah lama menekuni berbagai bidang. Anak pasangan Bahrudin Yusuf Turmudi dan Rija Mardiani ini telah menorehkan sejumlah capaian, di antaranya:

  • Duta GenRe Juara Influencer
  • Pemenang kompetisi English Speakfest
  • Paku Bumi Open International Championship
  • OSN bidang Geografi
  • Duta Muda BPJS Kesehatan

Deretan prestasi itu menjadi bukti bahwa Fadhil tidak hanya berani mencoba, tetapi juga tekun mempersiapkan diri. Baginya, setiap pengalaman adalah bekal. Setiap kegiatan adalah pelajaran. Dan setiap keberhasilan adalah buah dari ikhtiar yang tidak pernah berhenti.

“Pendidikan nonformal bukanlah batasan untuk meraih cita-cita, melainkan salah satu jalur untuk terus belajar dan berkembang,” ungkapnya.

Mimpi ke Monash University

Di luar dunia prestasi, Fadhil juga aktif mengembangkan peluang di bidang media sosial dan kewirausahaan. Penggemar sate rusa ini memiliki jumlah pengikut di TikTok dan Instagram. Ia ingin membangun pengalaman sebagai influencer, mencoba bisnis, serta memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk menciptakan peluang di masa depan.

Pemilik tinggi badan 189 cm ini bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi di Monash University, Australia. Sebagai persiapan, ia membekali diri dengan pembelajaran IELTS, persiapan SAT, pengembangan kemampuan akademik, dan pengalaman di berbagai kegiatan.

Dengan semangat mencoba hal baru, keberanian mengambil keputusan, serta kemauan untuk terus berusaha, Fadhil ingin melanjutkan perjalanan hidupnya sesuai target yang telah direncanakan. Ia berharap dapat terus meraih prestasi, memperluas pengalaman, dan membangun masa depan melalui pendidikan, kewirausahaan, serta pengembangan diri.

Bagi Fadhil, Senayan hanyalah salah satu persinggahan. Masih ada Monash, masih ada mimpi-mimpi lain yang menunggu diwujudkan. Dan dari Sigempol, Brebes, ia mengajarkan satu hal: jalan menuju cita-cita tidak selalu harus lewat pintu yang sama. Selama ada ikhtiar, doa, dan keberanian, jalan itu akan selalu terbuka. (*)

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso