BREBES, Warta Brebes — Komitmen Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mendorong transisi energi hijau mulai menampakkan hasil signifikan di tingkat provinsi. Inovasi pemanfaatan energi surya di sektor pariwisata telah mengantarkan Kabupaten Brebes meraih posisi sebagai salah satu dari tujuh besar finalis dalam ajang bergengsi Jateng Energy Transition Awards (JETA) 2026.
Penghargaan ini merupakan bukti nyata upaya akselerasi adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang digagas oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. JETA 2026 secara khusus dirancang untuk mempercepat transisi energi dan mewujudkan kemandirian energi yang berbasis pada potensi lokal di seluruh Jawa Tengah.
Proses seleksi yang dilalui cukup ketat. Setelah proposal inovasi Kabupaten Brebes dinyatakan lolos tahap awal, tim penilai dari Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan langsung ke lapangan. Lokasi yang menjadi fokus penilaian adalah Pulau Cemara, yang terletak di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari.
Kunjungan lapangan ini merupakan tahapan krusial dalam proses penjurian, di mana tim penilai dapat secara langsung mengobservasi penerapan teknologi energi terbarukan yang diajukan. Pulau Cemara dipilih sebagai lokus utama karena karakteristiknya yang unik. Destinasi wisata ini memiliki potensi besar sebagai kawasan ekowisata berbasis lingkungan yang belum terjangkau oleh jaringan listrik konvensional. Keterbatasan akses listrik inilah yang menjadi celah untuk mengimplementasikan solusi energi bersih dan berkelanjutan.
Dalam kunjungan lapangan yang berlangsung pada Selasa, 21 April 2026, Wakil Bupati Brebes, Wurja, memberikan paparan mendalam. Ia didampingi oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Brebes, serta perwakilan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Wurja memaparkan rencana strategis pengembangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Pulau Cemara. Konsep utamanya adalah menggantikan penggunaan generator set (genset) yang dinilai tidak efisien dan berpotensi menimbulkan polusi.
PLTS Atap ini dirancang untuk mendukung berbagai aktivitas pariwisata di Pulau Cemara. Dukungan energi bersih ini akan mencakup penyediaan listrik untuk fasilitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di area tersebut, kegiatan camping ground, serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat lainnya yang bergantung pada pasokan listrik.
“Hingga saat ini, Pulau Cemara masih sangat bergantung pada genset,” ungkap Wurja dalam paparannya.
“Hal ini menyebabkan aktivitas di malam hari belum dapat berjalan secara optimal. Kami melihat PLTS Atap sebagai solusi energi bersih yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi pendorong utama pengembangan potensi ekonomi kawasan wisata ini.”
Ketergantungan pada genset memang memiliki konsekuensi ganda. Dari sisi operasional, genset memerlukan bahan bakar fosil yang terus menerus, biaya operasional yang fluktuatif, serta perawatan yang intensif.
Dari sisi lingkungan, emisi gas buang dari genset dapat berkontribusi pada pencemaran udara dan kebisingan yang mengganggu kenyamanan pengunjung. Dengan PLTS Atap, Pulau Cemara diharapkan dapat beralih ke sumber energi yang bersih, terbarukan, dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tren pariwisata global yang semakin mengedepankan aspek kelestarian lingkungan.
Optimisme tinggi menyelimuti partisipasi Kabupaten Brebes dalam JETA 2026. Pemerintah daerah sangat berharap pencapaian ini dapat menjadi sebuah benchmark atau tolok ukur. Keberhasilan implementasi PLTS Atap di Pulau Cemara diharapkan dapat menjadi katalisator. Model energi hijau ini diharapkan dapat direplikasi di sektor-sektor produktif lainnya yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Brebes.
Potensi pengembangan energi terbarukan di Brebes sangat luas, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga industri kecil. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan investasi yang memadai, Brebes dapat menjadi salah satu pionir energi hijau di tingkat regional maupun nasional. JETA 2026 menjadi momentum penting untuk memamerkan potensi dan komitmen tersebut.
Andi, perwakilan dari tim visitasi Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, memberikan apresiasi atas presentasi dan inovasi yang ditawarkan oleh Kabupaten Brebes. Ia menjelaskan bahwa hasil dari kunjungan lapangan ini akan diakumulasikan dengan nilai presentasi yang telah disampaikan sebelumnya oleh tim Kabupaten Brebes. “Semua data dan observasi di lapangan akan kami rangkum dan kami analisis bersama tim juri lainnya,” ujar Andi.
“Penilaian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari inovasi teknologi, potensi keberlanjutan, dampak sosial ekonomi, hingga komitmen pemerintah daerah dalam implementasi.”
Pemenang utama JETA 2026 akan diumumkan secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam waktu dekat. Pengumuman ini diharapkan dapat menjadi dorongan moral dan apresiasi bagi daerah-daerah yang telah berupaya keras dalam transisi energi.
JETA 2026 diikuti oleh tujuh pemerintah kabupaten di Jawa Tengah yang berhasil lolos ke tahap penjurian. Ketujuh finalis ini menunjukkan keragaman inovasi dalam pemanfaatan energi baru terbarukan di wilayah masing-masing. Daftar finalis JETA 2026 meliputi:
- Pemerintah Kabupaten Wonosobo: Dikenal dengan potensi energi panas bumi dan energi surya.
- Pemerintah Kabupaten Boyolali: Memiliki program pengembangan energi biomassa dari limbah pertanian.
- Pemerintah Kabupaten Rembang: Berfokus pada pemanfaatan energi angin untuk nelayan dan industri kecil.
- Pemerintah Kabupaten Karanganyar: Menjelajahi potensi energi mikrohidro di daerah pegunungan.
- Pemerintah Kabupaten Jepara: Mengembangkan solusi energi surya untuk sektor UMKM kerajinan.
- Pemerintah Kabupaten Brebes: Mengusung inovasi PLTS Atap di destinasi wisata Pulau Cemara.
- Pemerintah Kabupaten Pekalongan: Berkontribusi dalam pemanfaatan energi terbarukan untuk sektor pertanian.
Keberadaan ketujuh kabupaten ini dalam daftar finalis JETA 2026 menunjukkan geliat positif dalam upaya mewujudkan target bauran energi nasional yang lebih tinggi dari sumber terbarukan. Sektor pariwisata, sebagaimana yang diusung oleh Kabupaten Brebes, merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki potensi besar untuk mengadopsi teknologi energi bersih. Pulau Cemara, dengan keindahan alamnya yang masih asri, menjadi lokasi ideal untuk dijadikan contoh penerapan pariwisata berkelanjutan berbasis energi hijau. Keterbatasan infrastruktur listrik konvensional justru menjadi peluang untuk melompat langsung ke solusi energi terbarukan.
Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, sebagai inisiator JETA, memiliki peran sentral dalam memetakan dan mendorong potensi energi terbarukan di seluruh provinsi. Melalui ajang ini, diharapkan dapat tercipta ekosistem yang mendukung pengembangan EBT, mulai dari tingkat kebijakan, investasi, hingga adopsi teknologi oleh masyarakat.
Penghargaan JETA juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kepada publik mengenai pentingnya transisi energi dan manfaatnya bagi lingkungan dan ekonomi. Kabupaten Brebes, melalui inovasi di Pulau Cemara, telah memberikan contoh nyata bagaimana energi terbarukan dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.


























