PCOS Ganti Nama Jadi PMOS: Perluas Pemahaman Sindrom Ovarium Polikistik

JAKARTA, Warta Brebes— Istilah medis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini resmi berganti menjadi Polyendokrin Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Perubahan nomenklatur yang berlaku sejak Senin (25/5/2026) ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai cakupan penyakit yang lebih luas daripada sekadar gangguan pada indung telur.

Penamaan lama, PCOS, seringkali menimbulkan kesalahpahaman bahwa masalah kesehatan ini hanya terfokus pada ovarium. Padahal, diagnosis klinis untuk kondisi ini melibatkan sistem yang jauh lebih kompleks dan memengaruhi berbagai organ tubuh lainnya.

Perubahan nama menjadi PMOS diharapkan dapat meluruskan persepsi masyarakat dan tenaga medis terhadap sindrom ini.

PMOS: Menggambarkan Penyakit yang Lebih Luas

Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (KFER) dari Brawijaya Hospital Antasari, dr. M. Luky Satria Syahbana Marwali, Sp.OG, Subsp.KFER, menjelaskan pergeseran definisi ini. “Sebetulnya itu nggak hanya terbatas di ovarium, jadi dia polyendokrin,” ungkap dr. Luky.

Dalam nomenklatur PMOS, setiap komponen memiliki makna spesifik. Komponen “polyendokrin” merujuk pada gangguan hormonal sistemik yang dapat melibatkan otak, ginjal, hingga ovarium. Unsur “metabolic” merepresentasikan masalah metabolisme, seperti resistensi insulin, yang umum terjadi pada kondisi ini. Sementara itu, “ovarian” tetap menegaskan adanya problem pada indung telur.

“Jadi PMOS, Polyendokrin Metabolic Ovarian Syndrome lebih menggambarkan penyakitnya memang penyakit yang lebih luas dari PCOS,” tegas dr. Luky.

Dia menambahkan, “Karena kalo PCOS orang mikirnya hanya di ovarium saja, padahal banyak efek-efek lain dari satu penyakit.”

Penanganan PMOS Tetap Sama, Persepsi Perlu Diperluas

Meskipun terjadi perubahan istilah, dr. Luky memastikan bahwa pakem penanganan medis untuk kondisi ini tidak berubah. Seluruh prosedur penegakan diagnosis awal dan skema terapi pasien dipastikan tetap sama dengan metode yang sudah berjalan sebelumnya. “Pengobatannya sih tetap sama, diagnostiknya tetap sama, semuanya sama. Hanya, PMOS menggambarkan penyakitnya secara keseluruhan,” jelasnya.

Perubahan nama ini lebih menekankan pada pentingnya pemahaman yang komprehensif mengenai sindrom ini. Manifestasi klinis PMOS terbukti memengaruhi berbagai fungsi organ tubuh lainnya, sehingga pemahaman yang lebih luas akan membantu deteksi dini dan penanganan yang lebih efektif.

Dengan nomenklatur baru ini, diharapkan pemahaman masyarakat dan tenaga medis terhadap dampak sekunder dari kondisi ini dapat semakin meningkat.

Bagikan: